Long Night

Jika Monas dan Tugu tak ada, mungkin Jogja dan Jakarta tak ada lagi bedanya.

Senja yang kuning kemerah-merahan tidak muncul di Jogja sore itu. Awan tebal menyelimuti hampir semua penjuru kota. Mungkin tinggal menuggu waktu saja, awan-awan tebal hitam menjatuhkan air di Jogja. Dan aku berharap hujan tidak datang malam ini. Apa harapan kamu malam ini?

Lampu-lampu kota menyala lebih awal dari biasanya, seakan memberi tanda bahwa malam lebih cepat dari biasannya dan malam akan lebih lama dari biasanya. Tak hanya lampu kota yang sudah bersiap menyambut malam, namun para penghuni kota tua Jogja, seakan juga telah bersiap menyambut malam yang datang lebih awal dan akan tutup lebih lama. Aku bersiap untuk sebuah petualangan malam. Apakah kamu juga mempersiapkannya?

Bau parfum kelas murahan hingga harga jutaan rupiah bersaing dengan bau asap knalpot kendaraan yang berjalan merayap di jalan-jalan utama, seakan penghuni Jogja (termasuk mereka yang baru saja berdemo pemanasan global) lupa bumi semakin tua dan ozon sudah tipis. Aku merangsak di tengah kemacetan Jogja. Apakah kamu juga merasakannya dan Trans Jogja belum menjadi jawabannya?

Tapi apalah artinya bumi dan ozon bagi manusia, jika kehangatan malam sudah menyelimuti mereka. Apalah arti pemanasan global jika Jogja tak hanya menawarkan THR, alun-alun selatan dan taman budaya, tapi Jogja telah menawarkan kehidupan manusia yang penuh dengan kekinian yang katanya modernitas dan globalisasi. Aku mencium bau AC yang sudah menipis di tengah sesaknya pusat perbelanjaan. Apakah kamu punya rencana belanja malam ini?

Tak perlu melihat-lihat majalah mode yang menceritakan mode pakaian terbaru dan tergaul. Tidak penting lagi melihat sinetron yang menggambarkan perempuan cantik dan anggun, laki-laki gagah dan perkasa. Tidak perlu lagi ada cerita tentang Jakarta dengan segala daya tariknya karena Jogja telah menawarkan semuanya. Aku duduk di depan Carefour melihat perempuan-perempuan memamerkan payudara yang seakan ingin meninju dunia. Apakah kamu pernah bertanya tentang penelitian yang bilang banyak perempuan Jogja yang tidak lagi perawan?

3 Tanggapan ke “Long Night”


  1. 1 eisa 2 April 2008 pukul 3:34 am

    wah bener-bner ala penyair…simple dan jujur…

  2. 2 d'bobo 2 April 2008 pukul 5:09 am

    buagoEZT……………….

    jadiin novel sekalian ajah ^_^

  3. 3 qolbi 8 April 2008 pukul 8:51 am

    jogja sebagai kota budaya, sejajar dengan roma, PARIS, TOKYO, DAN KOTA-KOTA BERSEJARAH DIDUNIA LAINNYA.
    sudah sepantasnya jogja mempertahankan predikatnya sebagai kota budaya…
    save jogja heritage now!!!!
    hamemayu hayuning bawono

    http://qolbimuth.wordpress.com/2008/04/08/save-jogja-heritage/


Tinggalkan Balasan




Bagian Kata

Kata Hari

April 2008
S S R K J S M
    Mei »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Yang Mampir

  • 7,208 pemampir