Keributan kecil dalam bus yang aku tumpangi membuatku terjaga. Aku melihat jam, sekitar 1,5 jam aku tertidur. Rupanya keributan kecil itu berasal dari omongan orang-orang di dalam bus yang misuh-misuh dengan sopir angkot yang maen serobot saja di jalanan. Aku tak perduli dengan itu semua.
Sudah lebih dari 2 jam tubuhku terguncang-guncang di dalam bus. Jalan rusak, ah itu persoalan lama. Aku hanya ingin segera sampai Lido. Ingin rasanya segera mandi setelah peluh keringat sejak pagi tadi membasahi pakaianku.
Ya, Lido adalah tujuanku. Sebenarnya, bukan tujuan pribadiku, namun karena ada tugas dari kantor, aku harus berangkat ke Lido yang masuk daerah Kabupaten Bogor. Dua hari yang lalu, bagian sekretaris redaksi (Sekred) menghubungiku, aku ditugaskan berangkat ke Unit Terapi dan Rehabilitasi (UTR) Badan Narkotika Nasional (BNN) yang ada di Lido.
Kini aku sudah memenuhi tugas itu. Dalam sebuah bus yang berangkat dari Jakarta, aku bersama puluhan jurnalis lainnya kami menuju Lido. Beberapa jurnalis sudah saling berkenalan denganku, sebagian lainnya belum. Sejak bus berangkat, aku memang sudah mengantuk, jadi aku pulas tertidur selama perjalanan sehingga belum sempat kenalan dengan jurnalis lainnya yang satu bus denganku.
Bus sudah keluar dari jalan utama dan kini jalan terjal menyambut sehingga bus seperti dipaksa bekerja lebih dari biasanya. Meskipun jalannya menanjak, namun aspalnya lebih hotmix dari aspal jalan utama yang tadi dilewati. Tak lebih dari 15 menit, bus menyusuri jalan “kampung” itu, dari kejauhan tampak bangunan megah yang terlihat begitu mencolok di tengah-tengah sawah dan perkebunan. Tak ada lagi perkampungan di dekat bangunan itu. Mungkin karena tak ada saingannya, bangunan dengan konsep minimalis itu, tampak begitu menonjol. Aku menaksir, paling tidak komplek bangunan itu berjalan sekitar 1 Km dari kampung terdekat. Dan kompeks itu tak lain adalah UTR BNN yang menjadi tujuanku.
Hujan gerimis mengambut kedatanganku sore itu. Ini tidak sesuai harapanku. Sangat indah rasanya jika melihat senja datang dari kaki Gunung Salak. Tapi tak apalah, gerimis sore itu juga cukup menarik karena barisan kabut seakan menyelimuti kami dan hawa dingin pun langsung menyeruak di sekujur tubuh. Sekitar 20-an jurnalis dari berbagai provinsi langsung menuju guest house di kompeks tersebut. Aku memilih satu kamar dengan seorang jurnalis televisi pemerintah. Bukan apa-apa, tapi kami sudah kenal beberapa jam yang lalu, jadi mungkin lebih asik daripada harus tinggal dengan orang yang baru kenal beberapa menit yang lalu.
Setelah mandi, aku melihat-lihat kondisi kompleks “panti bagi pengguna Narkoba” itu dari balkon lantai II. Apa yang disuguhkan di depan mataku, sangat berbeda dari bayanganku sebelumnya. Bangunan yang ada konsepnya minimalis dan tertata rapi layaknya sebuah perumahan modern. Sebelumnya, aku membayangkan, kompleks itu akan sangat “angker” layaknya sebuah penjara. Memang kompleks ini dikelilingi pagar berkawat, namun aku pikir hal itu tidak menjadikan kompleks itu terkesan angker, mungkin lebih mirip dengan villa. Apalagi background kompleks tersebut adalah Gunung Salak.
Malam sudah datang sejak tadi. Sebentar lagi aku mengikuti rangkaian kegiatan resmi. Tak perlulah aku cerita soal kegiatan yang ada. Bukannya aku tidak mau, tapi aku tidak ingin menjadikan cerita ini layaknya sebuah laporan pekerjaan yang harus aku setorkan di kantor. Aku belum puas melihat secara lengkap kompleks UTR BNN itu. Namun, besok masih ada waktu untuk menjelah.
Aku bangun tidur lebih awal dari biasanya ketimbang ketika aku menjalani rutinitas kerja. Mungkin hawa dingin membuatku terjaga. Akau mungkin juga aroma pegunungan menjadikan aku tidak ingin berlama-lama bergelut dengan guling. Aku buka jendela dan ku hirup dalam-dalam udara yang sangat menyegarkan. Sudah lama sekali aku tidak merasakan hal itu. Sepertinya terakhir kali aku merasakan hal itu di Pasar Bubrah, Gunung Merapi saat perayaan 17 Agustus 2005 lalu. Ku amati beberapa orang sudah berjalan-jalan menikmati pagi yang begitu sempurna. Uh, sepertinya aku sedikit terlambat. Setelah cuci muka, tas kameraku langsungku sambar dan bergabung dengan beberapa kawan jurnalis yang lebih dulu jalan-jalan.
Gedung utama kompleks itu menjadi sasaran utama. Namun, yang membuat aku tertarik adalah kompleks asrama penghuni UTR BNN. Puluhan orang berpakaian putih dan celana hitam tampak berbaris rapi. Aku pikir merekalah penghuni kompleks itu. Memang tampak seperti mengikuti ospek saat masuk kuliah, namun itu bukan ospek aku yakin itu. Ya, mungkin itu bagian dari terapi bagi para pengguna Narkoba. Beberapa saat setelah itu, aku baru tahu, jika kompleks itu berdiri di atas lahan selus 5 hektare dengan luas bagunan 25.000 m2. Kompleks yang baru diresmikan pertengahan 2007 ini juga mampu menampung 600 orang. Saat aku berkunjung, penghuninya hanya sekitar 100 orang.
Aku berusaha mendekat kompeks asrama itu. Satu bangunan yang menarik perhatianku ada di sebelah kananku. Bangunan itu sama dengan bangunan lainnya, tapi papan nama yang ada menjadikan bangunan itu seperti memiliki magnet bagiku. Di depan bangunan itu tertulis “Ruang Isolasi”. Tapi sayang, saat aku mendekat, Satpam dengan bahasa yang menurutku sangat halus, meminta aku dan kawanku jurnalis dari koran Semarang menjauh. Yup, aku bisa memakluminya, walaupun rasa penasaran belum hilang.
Aktivitas penghuni asrama itu, tampak tidak menyurut bahkan semakin sibuk. Dari kejauhan tampak beberapa orang berlarian ke sana kemari dan tidak aku pahami apa maksudnya. Namun, aku yakin ada makna yang tersirat dari kegiatan itu. Setelah acara jalan-jalan, waktuku habis sudah untuk berbagai kegiatan resmi.
Baru sekitar dua jam, mataku terpejam setelah aku bergadang di lobi guest house. Jam baru menunjukkan pukul 4 pagi. Namun, suara orang mengaji menjadikan aku terjaga. Bukan aku merasa terganggu, namun menjadikan suasana pagi hari terasa sangat syahdu. Bagaimana tidak, di tengah hawa dingin, aku pikir semua orang memilih meringkuk di balik selimut. Namun, suara orang mengaji itu, seakan memberikan cahaya sebelum Matahari menyinari bumi pagi hari.
Aku mencoba mencari sumber suara itu, dan aku baru ingat jika tempakku tidur saat itu tidak jauh dari masjid. Ya, aku tahu, pendekatan religi bagi penghuni UTR BNN memang diterapkan, selain pendekatan medis ataupun psikologis. Bahkan, kabarnya, selain pendekatan religi, med
is dan psikolgis, unit terapi itu juga menggunakan pendekatan sosiologis agar para penghuninya bisa kembali menghadapi kerasnya dunia.
Sayup-sayup suara orang mengaji seakan meninabobokan aku yang masih ngantuk. Aku tahu Tuhan pasti mendengar syahdunya suara mereka. Suara-suara orang-orang yang melafalkan keagungan-Nya, meskipun, mulut mereka pernah merasakan inex, merasakan asap ganja, atau aliran darah mereka terkena putaw dan sabu-sabu. Aku kembali terlelap dan berharap bakal mimpi indah, seindah harapan penghuni kompleks Lido.
Katanya