Hujan petang tadi menyisakan tetes-tetes air di ujung genteng depan rumahku. Butir-butir air itu jatuh ke tanah yang sudah basah. Kemanakah air itu akan mengakhiri perjalanan. Ditelan bumikah? Atau malah larut dalam air got yang baunya menyengat hidung?
Angin malam membelai daun-daun pohon yang masih basah. Daun bergoyang seperti mengikuti nada-nada simphoni malam. Satu, dua, daun berguguran, bukan sebagai pertanda musim semi tiba, namun daun itu terlalu ringkih dan tua. Kemanakah daun tua itu akan berakhir. Melapuk dan tertelan bumi? Atau hilang tersapu oleh petugas kebersihan sudah siap bekerja ketika fajar tiba?
Suasana seperti ini terlalu sentimentil untuk dirasakan. Butir-butir air hujan, angin malam dan daun yang berguguran membawaku dalam dunia sentimentil yang teramat sangat. Aku terlalu sentimentil merasakan itu semua. Merasakan segala sesuatu dengan rasa sehingga aku hidup dalam labirin sentimentil.
Apakah sentimentil itu bisa membunuh logika yang ada. Aku tak tau pasti karena perbedaan antara logika dan rasa juga tak ku ketahui secara pasti batasannya. Apakah rasa lebih berkuasa atas logika atau logika adalah raja atas rasa. Kehidupan ini sepertinya cukup melelahkan sehingga aku lupa bertanya apakah aku berjalan atas nama logika atau rasa.
Dimanakah sebenarnya logika dan rasa itu berada? Apakah logika itu berada di dalam relung rasa yang paling dalam? Apakah rasa itu berada di dalam sistem logika yang kadang begitu rumit dicerna? Aku tak tau pasti. Sepertinya aku berjalan di padang pasir yang bernama logika dan rasa.
Katanya