Kotak hitam itu masih kosong. Tanpa isi. Hampa. Aku ingin mengisinya dengan kenangan. Menutup dan memasukkannya ke dalam ruang kosong yang hampa.
Satu persatu kenangan itu harus masuk dalam kotak hitam itu. Aku katakan harus karena aku tidak ingin larut dalam kenangan. Bahwa kenangan itu kadang indah, kadang pahit itu memang benar adanya. Namun, aku tidak sudi hidup dalam kenangan, maka kenangan itu harus masuk dalam kotak hitam itu.
Kutata rapi setiap kenangan itu. Kupandangi dalam-dalam detail kenangan itu. Kurasakan dengan hati, kenangan itu pernah ada dan nyata. Aku tersenyum membungkus kenangan itu, meski sebenarnya terasa pahit.
Kenangan itu sudah menjadi penghuni kotak kosong. Kututup rapat kotak itu, memasukkannya dalam sebuah tempat tak bertuan, sebuah ruangan gelap dan hampa.
Aku sadar kenangan itu ada di hati dan pikiran. Sehebat-hebatnya aku, sekuat-kuatnya aku memasukkan kenangan itu dalam sebuah kotak, kenangan itu akan tetap ada. Dia tidak akan hilang, lenyap karena dia telah masuk dalam setiap sendi. Dalam aliran darah. Dalam sunsum tulang.
Karena aku tahu itu, maka aku memilih memasukkan kenangan itu dalam kotak hitam itu. Kalaupun kenangan itu akan muncul, maka kenangan itu tidak menyakitkan. Kalau kenangan itu hadir lagi, maka tidak ada dendam dan kebencian. Karena aku menghargai kenangan, aku memilih memasukkan kenangan itu dalam kotak hitam.


