Monthly Archives: April 2008

Tentang Sastra dan Hari Chairil Anwar

“Kamu itu gimana to, sukanya malah baca novel. Mbok iyao baca-baca buku aplikasi manajemen jadi bisa langsung bermanfaat bagi perusahaan,” kata kawanku kepada ku yang menirukan perkataan atasannya di perusahaan tempatnya bekerja.

Mendengar cerita kawanku itu aku sebenarnya hanya senyum-senyum saja. Aku tidak mau memberikan komentar yang berlebihan saat kawanku itu benar-benar dongkol abis saat kecintaannya pada novel digugat habis-habisan oleh atasannya dengan alasan kepentingan perusahaan.

“Emangnya ada yang salah dari novel. Udah mending aku suka baca, meskipun novel dan bukan buku-buku serius yang bikin pusing kepala dan ngantuk. Daripada aku nggak suka baca sama sekali. Coba lebih baik yang mana?” kata kawanku itu berapi-api.

Ucapan kawanku yang meledak-ledak dan bicara seperti mobil melaju kencang di jalan tol, tanpa koma dan titik sedikitpun itu aku iya-iyakan saja. Aku tidak mau berdebat dengan orang yang hatinya lagi panas. Toh, aku pikir ada benarnya juga omongan kawanku itu, lebih baik suka baca daripada tidak sama sekali. Meskipun itu novel dan apa salah kawanku itu sampai-sampai harus digugat kesenangannya pada novel.

“Kamu bisa dihitung dengan jari tanganmu, berapa orang yang suka membaca di kantorku kan, paling hanya Andi, Sisca, Deni, Maria dan aku,” lanjut kawanku.

Omongannya kawanku ini aku benarkan 100%. Bukan sok tau, tapi aku memang dulu pernah satu kantor dengan kawanku itu. Dan aku tahu budaya yang ada di kantor itu, kalau waktu senggang, jangan harap ada yang baca koran apalagi baca buku kecuali orang-orang yang disebutkan kawanku itu. Yang lainnya berkumpul di depan TV untuk nonton bareng infotainment. Bahkan, ada orang di kantor itu yang tidak perlu aku sebutkan namanya, memiliki obsesi jadi wartawan infotainment? Katanya biar bisa ketemu artis tiap hari.

Aku yang tidak memberikan komentar terhadap kataan kawanku itu, membuat dia dongkol. Akhirnya pembicaraan jadi membosankan karena kawanku itu hanya mengulang-ulangi omongannya. Bahkan, sudah mulai menyerempet ngegosipin Si Bosnya yang sebenarnya juga mantan Bosku yang katanya suka main perempuan. “Kamu itu mau cerita soal kesukaanmu pada novel yang digugat Si Bos atau malah ngegosip. Kalau mau ngegosip, gabung saja sama teman-teman kantormu itu,” kataku.

“Okey-okey. Makanya kamu kasih komentar atau saran. Bukankah novel itu sebuah karya yang juga harus dihargai. Bukankah novel, Cerpen atau puisi atau apapun itu namanya adalah sebuah karya sastra yang merupakan ekspresi manusia pada kehidupan dan bermanfaat bagi kita?” kata kawanku menjawab omonganku.

Aku tetap saja tidak memberikan komentar meski kepalaku manggut-manggut membenarkan omongan kawanku yang memang kalau sudah cerita pasti berjam-jam lamanya hingga lupa waktu. Kalau soal itu, aku juga sepakat, karya sastra harus dihargai. Namun, soal memberi manfaat, aku pikir sastra memberi tidak manfaat secara langsung. Bukan tidak bisa, tapi karena memang sastra memiliki cara lain dalam memberi manfaat bagi manusia. Aku pikir sastra tidak bekerja seperti buku praktis lainnya yang bisa memberikan panduan kepada manusia mulai dari 10 cara cepat dapat pekerjaan hingga 100 teknik bersenggama. Sastra memberikan pesan tidak langsung melalui sebuah cerita yang isinya bisa memberi makna dan manfaat bagi pembacanya.

“Kamu ingat novel Kitab Omong Kosong-nya Seno Gumira Ajidarma. Dalam novel itu kan jelas-jelas manusia harus belajar membaca. Tidak hanya membaca tulisan atau buku, namun juga membaca alam dan kehidupan. Bukankah kalau kita membaca novel kita juga bisa belajar membaca kehidupan?” tegas kawanku itu.

“Kamu nggak sekalian ngomongin novel Aku, Buku dan Sepotong Sajak Cinta karya Muhidin yang ceritanya tak jauh-jauh dari soal membaca dan menulis,” balasku.

“Tadi sudah kepikiran sih, tapi aku lupa judul buku itu. Novelnya ngomongin soal membaca dan menulis itu sebuah tetirahkan yang lahir dari pembiasaan itu tho,” jawab kawanku.

“Aku tuh bingung dengan arah pikiran Si Bos. Mengapa dia berpikir cekak dengan mengatakan membaca novel tidak ada artinya. Aku malah takut omongan Si Bos itu menunjukkan kedangkalan berpikirnya,” lanjut kawanku.

Aku sekarang yang kebingungan. Apa hubungannya antara membaca novel dan kedangkalan berpikir. Tapi, bisa juga itu terjadi. Membaca novel seperti kata kawanku bisa menambah kedalaman berpikir karena pembaca diajak mengarungi kehidupan, terutama novel bertemakan humanisme meskipun itu hanya fiksi. Dari pengarungan itu, pembaca bisa belajar banyak tentang kehidupan dan bisa berarti di kehidupan nyata. Tapi, aku tidak mau menerka-nerka, aku positive thinking saja pada Si Bos, mungkin dia berpikir, novel itu seperti sinetron yang lebih banyak menjual mimpi pada penontonnya.

“Tau tidak. Setelah Si Bos ngomong gitu. Aku jawab apa. Aku balas tanya Si Bos, tau tidak tanggal 28 April itu hari apa. Dan dia bilang jika tanggal 28 April hari Senin. Aku langsung ketawa, tapi dalam hati,” kata kawanku.

“Lha emang benarkan 28 April hari senin. Emangnya hari apa?” aku balas bertanya.

“Ce..elah, kamu katanya suka sastra, kok tidak tahu tanggal 28 April tu hari apa. 28 April itu Hari Chairil Anwar,” jawab dia.

“Emangnya ada hari Chairil Anwar,” aku bertanya lagi.

“Ada, bloon banget sih lo. Kemana aja lo selama ini sampe gak tahu Hari Chairil Anwar. Tanggal 28 April diambil saat tanggal meninggalnya Chairil dan akhirnya dinyatakan sebagai Hari Chairil Anwar untuk mengenang karya Chairil. Tapi menurutku, saat ini Hari Chairil Anwar tidak hanya berarti untuk memperingati dan mengenang karya Chairil saja, tapi juga karya sastra Indonesia,” kata kawanku.

Tiba-tiba saja pembicaraan aku dan kawan itu terganggu oleh suara nada panggil dari HP kawanku yang menggunakan lagu Menjaga Hati milik Yovie and Nuno. Kawanku langsung meminta aku diam. “Iya…iya, baik…baik pak. Pasti akan segera saya laksanakan pak,” kata kawanku berbicara di telepon.

“Wah dari Si Bos. Aku ada tugas dulu nih. Ini tugas mendadak, jadi udahan dulu ya ngobrolnya. Besok kita sambung lagi,” kata kawanku sambil pergi tanpa pamit.

Sebelum kawanku itu benar-benar jauh aku sempat teriak, “Woy, besok Si Bos diberi buku Dilarang Melarang Membaca Novel ya,” kataku.

Deru kendaraan yang ramai melintas di jalanan membuat kawanku tidak mendengar ucapanku. Kehidupan nyata kembali menelannya dalam sebuah labirin dengan ditemani kata-kata indah dari sebuah novel kesukaannya karya Fredy S.

 


Gelang Giok Naga, kisah tentang empat perempuan Tionghoa

Judul : Gelang Giok Naga

Pengarang : Leny Helena

Halaman : 316 halaman

Tahun terbit : November 2006

Penerbit : Qanita

Apa jadinya jika empat perempuan Tionghoa berbeda generasi bertemu dalam satu rangkaian kejadian yang saling berkaitan? Mungkin jawaban itu akan hadir dalam novel Gelang Giok Naga ini, kisah dengan latar belakang kekaisaran China hingga huru hara reformasi 1998 di Indonesia.

Kisah bermulai dari Dinasti Ching tahun 1723 yang menceritakan tentang seorang selir yang bernama Yang Kuei Fei. Fei hanyalah satu dari puluhan bahkan ratusan selir yang dimiliki Sang Putra Langit Jia Shi. Awalnya Fei bukan siapa-siapa, namun dengan trik yang digunakannya, Fei bisa memikat Putra Langit sehingga sang Kaisar menjadi kepincut dengan Fei. Namun, usaha Fei tercium oleh Kasim Fu. Dan cerita mulai menarik karena kisah Fei dan Kaisar mulai dibalut dengan intrik-intrik politik kekaisaran.

Intrik-intrik kekaisaran akhirnya membawa Kaisar tewas dan hal itulah yang menjadikan Fei harus pergi dari istana dalam kondisi mengandung anak kaisar. Semua perhiasan Fei ditinggalkan, namun sebuah giok berbentuk sebuah naga tetap dibawa. Fei pergi meninggalkan istana ditemani dengan Kasim Fu. Dua orang itu terlibat asmara setelah keluar dari istana.

Kisah kemudian beranjak pada A Sui dan A Lin, dua orang perempuan yang harus datang ke Batavia (Jakarta) dengan alasan yang berbeda. A Sui datang ke Batavia mengikuti suaminya yang bertugas di Jakarta. Sedangkan A Lin terpaksa datang ke Batavia karena kondisi di China yang sangat memprihatinkan.

Dua perempuan tersebut kemudian ditautkan menjadi sebuah keluarga setelah anak perempuan A Sui menikah dengan anak laki-laki A Lin. Pasangan muda tersebut kemudian melahirkan anak yang kemudian diberi nama Swanlin. Kisah kemudian berputar-putar kepada tiga tokoh itu A Sui, A Lin dan Swanlin.

Kadang peristiwa dalam novel tersebut diambilkan dari sudut pandang A Sui, A Lin hingg Swanlin sehingga semakin memperkaya sudut pandang masalah. Konflik-konflik antara A Sui dan A Lin yang muncul pun juga menjadi tampak nyata ketika giok berbentuk naga yang semula dipegang A Sui jatuh ke tangan A Lin. Dan Swanlin lah yang akhirnya mengambil peranan terhadap konflik kedua neneknya itu.

Kisah Swanlin kemudian diambilkan dari latar tahun 1998 saat kerusuhan Jakarta terjadi. Swanlin mengambil peran tentang kerusuhan yang sebagian ditujukan kepada etnis Tionghoa. Kisah percintaan Swanlin pun tak luput dari novel ini.

Namun, kekuatan dari novel ini sebenarnya ada pada dua hal yaitu perempuan dan Tionghoa. Sudah cukup lama rasanya perempuan dan Tionghoa termarjinalkan di Indonesia dan kisah itu yang akhirnya diangkat penulis. Perempuan sepertinya masih dianggap sebelah mata dan kalau etnis Tionghoa di negara ini, tak perlu dipertanyakan lagi, mereka sering dianggap sebagai “anak tiri”. Novel ini tidak hanya menarik untuk dibaca, namun bisa menambah wawasan dan sudut pandang baru tentang perempuan dan etnis Tionghoa.


Lowongan Jadi Wartawan

Lowongan kerja di Solopos.

Adapun posisi yang dibutuhkan adalah sebagai berikut:
A. Reporter (KODE POSISI REP)
B. Kasir
(KODE POSISI KSR)
C. Account Executive (KODE POSISI AE)

Syarat Khusus:
1. Lulus S1 segala jurusan dari PTN/PTS Terakreditasi (REP, AE).
2. Lulus D III Akuntansi (KSR).
3. IPK minimal 2.75 (pada skala 4.00) (REP, KSR, AE).
4. Pria/Wanita (REP, AE), Wanita (KSR).
5. Usia maksimal 28 tahun saat mendaftar (REP, AE), 27 tahun (KSR).
6. Meminati dunia jurnalistik, dibuktikan dengan menyusun esai maksimal sebanyak 3.000 karakter bertema “SOLOPOS Di Mata Saya” (REP).
7. Aktif berbahasa Inggris (REP, AE).
8.Berpengalaman di bidang jurnalistik lebih disukai. Lampirkan fotokopi
karya yang pernah dimuat (baik di media massa, media kampus atau media internal lainnya) jika ada (REP).
9. Berpengalaman di bidang sejenis minimal 1 tahun lebih disukai (KSR, AE).
10. Bersedia ditempatkan di wilayah Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi (AE).
11. Memiliki kendaraan bermotor sendiri (AE).

Syarat Umum:
1. Menguasai MS Office.
2. Dapat bekerja sama dalam tim.
3. Berbadan sehat dan bebas Narkoba.
4. Berkelakuan baik.
5. Belum menikah dan bersedia tidak menikah selama satu tahun.
6. Mengajukan permohonan menjadi peserta Program Magang.
7. Lolos proses seleksi.

Kirimkan Permohonan Magang Anda disertai Daftar Riwayat Hidup, pasfoto
seukuran kartupos berwarna 1 lembar ke:

Bagian SDM SOLOPOS
Jl Adisucipto 190 Solo 57145.

Boleh diantar langsung, atau bisa melalui e-mail ke hrd@solopos.net. Berkas
Permohonan Magang diterima paling lambat Kamis 17 April 2008 pukul 16.00 WIB.

Cantumkan kode posisi pada sudut kiri atas amplop maupun surat permohonan
magang Anda. Hanya yang memenuhi syarat yang akan diproses.

Cantumkan pula nomor telepon atau nomor telepon seluler. Pemanggilan tes/seleksi melalui telepon/SMS.

Berkas lamaran yang dikirim ke Manajemen SOLOPOS tidak bisa diminta kembali oleh pemohon. Selama proses seleksi, Manajemen SOLOPOS tidak melayani pertanyaan baik melalui surat-menyurat maupun telepon.


Awas, Mengkritik Harus Santun!!!

Kritik itu biasa, manusia ada lemahnya… (Theme song Republik Mimpi)

Sudah sekitar 10 menit aku menahan tawa, aku hanya senyum-senyum saja saat pengamat politik Fajroel dan Wakil Ketua BK DPR Gayus Lumbuun berdebat seru dalam Topik Minggu Ini yang disiarkan SCTV. Pembawa acara Ario Ardi pun tak mampu membendung “kemeriahkan” debat dua orang tersebut.

Namun, aku tak mampu menahan tawa ku terlalu lama, akhirnya tawaku pecah, karena dalam debat itu Pak Gayus sepertinya tak berkutik meski berusaha membela mati-matian kredibilitas DPR yang menurut Bung Fadjroel sudah berada dititik nadir. Aku pikir perdebatan itu akhirnya malah membuka borok DPR yang selama ini berusaha ditutupi dengan ditanggapinya lagu Gossip Jalanan karya Slank oleh kalangan Dewan. Bahkan dengan lantang ada rencana menuntut Slank di pengadilan karena lagu tersebut melukai perasaan anggota DPR, meski akhirnya hal itu diurungkan.

Pak Gayus beberapa kali menyoroti lirik lagu yang tidak ada kaitannya dengan DPR yaitu lirik tentang merebaknya pelacuran, Siapa yang tau mafia selangkangan, tempatnya lendir-lendir berceceran, uang jutaan bisa dapat perawan. Vulgar, memang vulgar tapi bukankah kevulgaran juga pernah ditunjukkan seorang mantan anggota DPR lewat video mesumnya saat terlihat mesra dengan seorang penyanyi dangdut?

Pak Gayus akhirnya berbicara soal moral dan menilai lirik lagu itu tak bermoral. Dan kalau akhirnya bicara moral, aku pikir moral tidak hanya diukur dari kata-kata yang diucapkan, namun juga perilaku orang. Pak Gayus sendiri bilang jika ada aduan yang ditujukan kepada sekitar 76 anggota DPR atau hingga 100 orang DPR yang dinilai “bermasalah” entah itu soal korupsi atau masalah lainnya. Angka yang tidak kecil, kata dia. Aku tak tahu secara pasti apakah diduga melakukan korupsi, menerima suap atau masalah lainnya itu bemoral atau tidak?

Pak Gayus pun memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk menilai sendiri lirik lagu itu dan masyarakat berkesemapatan untuk menjadi juri mana yang lebih dipercaya, apakah lirik Slank yang bilang, Mau tau gak mafia di Senayan, kerjaannya tukang buat peraturan, bikin UUD…ujung-ujungnya duit atau perkataan Pak Gayus yang bilang lagu itu tak bermoral. Kalau mengikuti polling yang dibuka selama acara disiarkan, 99% penonton acara itu lebih percaya dengan lirik lagu Slank. Aku tak tahu apakah kritik yang vulgar itu lebih tak bermoral daripada orang-orang melupakan rakyat yang semakin sengsara?

Meskipun tidak suka dengan lirik lagu itu, Pak Gayus tegas-tegas menyatakan DPR siap untuk dikritik, namun kritik yang disampaikan harus santun. Aku tak tahu lebih santun mana orang yang mencurahkan pikirannya lewat sebuah lagu vulgar atau orang yang menghabiskan uang rakyat untuk berbagai fasilitas wah?

Mungkin sudah saatnya perseteruan itu diakhiri untuk memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk menilai seperti kata Pak Gayus dan masyarakat bisa menjadi juri yang baik dalam masalah ini. Bukankah kamu juga ingin menjadi juri dan ikut menilainya?

NB. Mungkin suatu saat Slank perlu konser di Senayan, bukan untuk membuat kuping anggota Dewan merah, tapi untuk menyebarkan virus perdamaian. Peace!!!

NB Lagi. Aku hanya mengingatkan bagi kalian yang suka mengkritik pemerintah, DPR atau lembaga lainnya, agar mengkritik mereka dengan santun, bukan karena aku tidak suka dan merasa kalian tak bermoral dan tak santun, namun lebih agar mereka tidak memberikan tanggapan berlebihan dan melupakan tugas mereka sebagai abdi rakyat!!!


Pulang Malam…

Ku baru keluar malam

Setelah sunset tenggelam

Ku selalu keluar malam

Waktu langit mulai hitam

(Anak Malam-Slank)

Beberapa pekan terakhir, aku merasa kehidupan pribadi dan sosialku seperti tertelan bumi. Dari pagi hari hingga larut malam, bahkan kadang sampai dinihari aku mencurahkan tenaga dan pikiranku untuk pekerjaan. Alhasil, waktu yang tersisa selain pekerjaan hanyalah untuk tidur.

Bukannya aku ingin mengeluh, tapi jika keadaan semacam itu aku jalani terus menerus, maka kebosanan tak terhindarkan lagi. Akupun sadar sejak awal aku terjun ke dunia yang kata kawanku adalah dunia antah berantah, maka tenagaku akan dibutuhkan setiap saat dan tak mengenal waktu, entah pagi, siang ataupun malam. Apalagi kini aku berada di desk kriminalitas yang selalu berpacu dengan kejadian tanpa mengenal waktu. Dan itulah yang membuat aku mencintai pekerjaanku, bagaimana rasanya adrenaline dipacu untuk berkejar-kejaran dengan deadline.

Kemarin, sengaja aku pulang awal dari biasanya. Selain karena pekerjaanku telah tuntas, aku juga ingin melepaskan penatnya pekerjaan agar hidup tak melulu pekerjaan dan pekerjaan. Jangan kalian pikir jika pulang awal berarti aku pulang siang hari sekitar jam 2 siang atau jam 3 sore. Namun, pulang awal dalam kasmusku adalah pulang menjelang petang, sekitar jam setengah 6 sore.

Ah, rasanya sungguh menyenangkan bisa melihat senja sebelum bumi diselimuti kelamnya malam. Bagiku melihat senja adalah kemewahan yang tak terkira karena aku telah lupa, kapan terakhir aku melihat senja. Namun, keinginan untuk melepaskan penat barang hanya semalam saja, sepertinya harus aku lupakan. Jam baru menunjukkan pukul setengah 8 malam saat kawanku mengabari jika ada tawuran di salah satu perguruan tinggi di Kota Bengawan.

Setelah mengkroscek informasi itu ke beberapa sumber, ternyata info itu benar adanya. Tanpa pikir panjang, aku segera mendatangi lokasi. Saatnya memacu adrenaline lagi pikirku. Wah, ternyata bukan tawuran, tapi penganiayaan, tapi tak apalah toh itu juga fakta dan sebuah kejadian. Ternyata aku sedikit terlambat, lokasi kejadian telah sepi dan orang-orang yang menjadi pelaku penganiayaan telah diamankan di kantor polisi. Segera saja aku meluncur ke kantor polisi.

Tanpa perlu waktu yang lama, semua bahan informasi aku dapatkan dan aku segera laporan ke kantor untuk memastikan apakah fakta itu ditunggu untuk edisi esok hari demi kalian para pembaca, atau ditunda. Atasanku memutuskan, fakta itu ditunggu dan kini aku harus lari cari warnet terdekat. Semuanya akhirnya tuntas jam setengah 10 malam. Setelah itu aku ngenet hingga jam 11 malam dan baru sampai kos setengah jam kemudian. Aku pulang dan melepaskan penat meski rencana rehat tak ku dapat malam ini.


Lido

Keributan kecil dalam bus yang aku tumpangi membuatku terjaga. Aku melihat jam, sekitar 1,5 jam aku tertidur. Rupanya keributan kecil itu berasal dari omongan orang-orang di dalam bus yang misuh-misuh dengan sopir angkot yang maen serobot saja di jalanan. Aku tak perduli dengan itu semua.

Sudah lebih dari 2 jam tubuhku terguncang-guncang di dalam bus. Jalan rusak, ah itu persoalan lama. Aku hanya ingin segera sampai Lido. Ingin rasanya segera mandi setelah peluh keringat sejak pagi tadi membasahi pakaianku.

Gedung UtamaYa, Lido adalah tujuanku. Sebenarnya, bukan tujuan pribadiku, namun karena ada tugas dari kantor, aku harus berangkat ke Lido yang masuk daerah Kabupaten Bogor. Dua hari yang lalu, bagian sekretaris redaksi (Sekred) menghubungiku, aku ditugaskan berangkat ke Unit Terapi dan Rehabilitasi (UTR) Badan Narkotika Nasional (BNN) yang ada di Lido.

Kini aku sudah memenuhi tugas itu. Dalam sebuah bus yang berangkat dari Jakarta, aku bersama puluhan jurnalis lainnya kami menuju Lido. Beberapa jurnalis sudah saling berkenalan denganku, sebagian lainnya belum. Sejak bus berangkat, aku memang sudah mengantuk, jadi aku pulas tertidur selama perjalanan sehingga belum sempat kenalan dengan jurnalis lainnya yang satu bus denganku.

Bus sudah keluar dari jalan utama dan kini jalan terjal menyambut sehingga bus seperti dipaksa bekerja lebih dari biasanya. Meskipun jalannya menanjak, namun aspalnya lebih hotmix dari aspal jalan utama yang tadi dilewati. Tak lebih dari 15 menit, bus menyusuri jalan “kampung” itu, dari kejauhan tampak bangunan megah yang terlihat begitu mencolok di tengah-tengah sawah dan perkebunan. Tak ada lagi perkampungan di dekat bangunan itu. Mungkin karena tak ada saingannya, bangunan dengan konsep minimalis itu, tampak begitu menonjol. Aku menaksir, paling tidak komplek bangunan itu berjalan sekitar 1 Km dari kampung terdekat. Dan kompeks itu tak lain adalah UTR BNN yang menjadi tujuanku.

Hujan gerimis mengambut kedatanganku sore itu. Ini tidak sesuai harapanku. Sangat indah rasanya jika melihat senja datang dari kaki Gunung Salak. Tapi tak apalah, gerimis sore itu juga cukup menarik karena barisan kabut seakan menyelimuti kami dan hawa dingin pun langsung menyeruak di sekujur tubuh. Sekitar 20-an jurnalis dari berbagai provinsi langsung menuju guest house di kompeks tersebut. Aku memilih satu kamar dengan seorang jurnalis televisi pemerintah. Bukan apa-apa, tapi kami sudah kenal beberapa jam yang lalu, jadi mungkin lebih asik daripada harus tinggal dengan orang yang baru kenal beberapa menit yang lalu.

Setelah mandi, aku melihat-lihat kondisi kompleks “panti bagi pengguna Narkoba” itu dari balkon lantai II. Apa yang disuguhkan di depan mataku, sangat berbeda dari bayanganku sebelumnya. Bangunan yang ada konsepnya minimalis dan tertata rapi layaknya sebuah perumahan modern. Sebelumnya, aku membayangkan, kompleks itu akan sangat “angker” layaknya sebuah penjara. Memang kompleks ini dikelilingi pagar berkawat, namun aku pikir hal itu tidak menjadikan kompleks itu terkesan angker, mungkin lebih mirip dengan villa. Apalagi background kompleks tersebut adalah Gunung Salak.

Malam sudah datang sejak tadi. Sebentar lagi aku mengikuti rangkaian kegiatan resmi. Tak perlulah aku cerita soal kegiatan yang ada. Bukannya aku tidak mau, tapi aku tidak ingin menjadikan cerita ini layaknya sebuah laporan pekerjaan yang harus aku setorkan di kantor. Aku belum puas melihat secara lengkap kompleks UTR BNN itu. Namun, besok masih ada waktu untuk menjelah.

Aku bangun tidur lebih awal dari biasanya ketimbang ketika aku menjalani rutinitas kerja. Mungkin hawa dingin membuatku terjaga. Akau mungkin juga aroma pegunungan menjadikan aku tidak ingin berlama-lama bergelut dengan guling. Aku buka jendela dan ku hirup dalam-dalam udara yang sangat menyegarkan. Sudah lama sekali aku tidak merasakan hal itu. Sepertinya terakhir kali aku merasakan hal itu di Pasar Bubrah, Gunung Merapi saat perayaan 17 Agustus 2005 lalu. Ku amati beberapa orang sudah berjalan-jalan menikmati pagi yang begitu sempurna. Uh, sepertinya aku sedikit terlambat. Setelah cuci muka, tas kameraku langsungku sambar dan bergabung dengan beberapa kawan jurnalis yang lebih dulu jalan-jalan.Panti Rehab Seperti Perumahan

Gedung utama kompleks itu menjadi sasaran utama. Namun, yang membuat aku tertarik adalah kompleks asrama penghuni UTR BNN. Puluhan orang berpakaian putih dan celana hitam tampak berbaris rapi. Aku pikir merekalah penghuni kompleks itu. Memang tampak seperti mengikuti ospek saat masuk kuliah, namun itu bukan ospek aku yakin itu. Ya, mungkin itu bagian dari terapi bagi para pengguna Narkoba. Beberapa saat setelah itu, aku baru tahu, jika kompleks itu berdiri di atas lahan selus 5 hektare dengan luas bagunan 25.000 m2. Kompleks yang baru diresmikan pertengahan 2007 ini juga mampu menampung 600 orang. Saat aku berkunjung, penghuninya hanya sekitar 100 orang.

Aku berusaha mendekat kompeks asrama itu. Satu bangunan yang menarik perhatianku ada di sebelah kananku. Bangunan itu sama dengan bangunan lainnya, tapi papan nama yang ada menjadikan bangunan itu seperti memiliki magnet bagiku. Di depan bangunan itu tertulis “Ruang Isolasi”. Tapi sayang, saat aku mendekat, Satpam dengan bahasa yang menurutku sangat halus, meminta aku dan kawanku jurnalis dari koran Semarang menjauh. Yup, aku bisa memakluminya, walaupun rasa penasaran belum hilang.

Aktivitas penghuni asrama itu, tampak tidak menyurut bahkan semakin sibuk. Dari kejauhan tampak beberapa orang berlarian ke sana kemari dan tidak aku pahami apa maksudnya. Namun, aku yakin ada makna yang tersirat dari kegiatan itu. Setelah acara jalan-jalan, waktuku habis sudah untuk berbagai kegiatan resmi.

Baru sekitar dua jam, mataku terpejam setelah aku bergadang di lobi guest house. Jam baru menunjukkan pukul 4 pagi. Namun, suara orang mengaji menjadikan aku terjaga. Bukan aku merasa terganggu, namun menjadikan suasana pagi hari terasa sangat syahdu. Bagaimana tidak, di tengah hawa dingin, aku pikir semua orang memilih meringkuk di balik selimut. Namun, suara orang mengaji itu, seakan memberikan cahaya sebelum Matahari menyinari bumi pagi hari.

Aku mencoba mencari sumber suara itu, dan aku baru ingat jika tempakku tidur saat itu tidak jauh dari masjid. Ya, aku tahu, pendekatan religi bagi penghuni UTR BNN memang diterapkan, selain pendekatan medis ataupun psikologis. Bahkan, kabarnya, selain pendekatan religi, medKaki Gunung Salakis dan psikolgis, unit terapi itu juga menggunakan pendekatan sosiologis agar para penghuninya bisa kembali menghadapi kerasnya dunia.

Sayup-sayup suara orang mengaji seakan meninabobokan aku yang masih ngantuk. Aku tahu Tuhan pasti mendengar syahdunya suara mereka. Suara-suara orang-orang yang melafalkan keagungan-Nya, meskipun, mulut mereka pernah merasakan inex, merasakan asap ganja, atau aliran darah mereka terkena putaw dan sabu-sabu. Aku kembali terlelap dan berharap bakal mimpi indah, seindah harapan penghuni kompleks Lido.


Politik Kesetiaan

Kali ini, aku ingin bicara tentang kesetiaan. Tidak apa-apakan, bukankah kesetiaan harus dibuktikan dan cinta memang butuh kesetiaan.

Mungkin terlalu naif jika aku mengklaim aku orang yang setia dan selalu komitmen dengan kesetiaan pada pasangan. Kemarin dulu, aku nonton Playboy Kabel di TV. Dari beberapa kali acara reality show itu, hampir semua korban pasti kepincut dengan penggodanya. Bahkan, ada yang harus mengakhiri hubungan setelah reality show tes kesetiaan itu ditampilkan.

Aku tidak ingin bilang jika aku diposisi sebagai korban, aku bakalan kekeh dengan pasangan dan mengesampingkan penggoda. Namun, bukan berarti, aku tidak komitmen dengan hubungan dan tergiur dengan penggoda.

Belum lama ini aku juga sering nonton talkshow dengan tema-tema politik. Bukan karena aku suka dengan politik, namun lebih karena ingin tahu politikus main badut-badutan. Pernah presenter talkshow bilang jika dalam dunia politik tidak ada kawan abadi dan tidak ada musuh abadi dan yang abadi adalah kepentingan politik itu sendiri.

Akhir-akhir ini aku jadi khawatir jika masalah politik sudah meracuni masalah kesetiaan dan percintaan tentunya. Jika masalah percintaan sudah didasari dengan kepentingan seperti kepentingan politik tadi, bisa jadi tidak ada pasangan abadi dan pembenci abadi. (Bukankah rasa cinta dan benci itu hanya tipis batasnya).

Sudah bosan aku mendengar orang-orang bilang benci dengan politik. Orang-orang itu bilang, sumpek dengan perilaku politik para politikus. Kalau seperti ini, aku yang jadi bingung perbedaan antara politikus dengan orang yang mengingari kesetiaan. Aku juga tidak tahu apakah orang-orang itu juga memiliki kesetiaan atau tidak. Kalaupun tidak, aku jadi bingung, apakah mereka adalah politikus kesetiaan.

Sebenarnya sudah ingin aku habisi saja tulisan ini, namun aku tak bisa menahan pertanyaan ini, apakah kalian juga membenci politik?


%d blogger menyukai ini: