Doa Seorang Pendosa

Menangislah bila harus menangis

Karena kita semua manusia

Manusia bisa terluka, manusia pasti menangis

Dan manusia pun bisa mengambil hikmah

(Air Mata – Dewa 19)


Air mata itu akhirnya menetes ke pipi. Dada pun terasa sesak ketika tangisan tak hanya linangan air mata. Mata ini sudah lebam sedari tadi. Mata ini terasa pedih saat butir-butir air mata bercucuran. Sudah tak terhitung lagi berapa kali ingus dari hidung harus diusap. Namun, seakan mata ini tidak mau menghentikan air matanya yang terus dan terus mengalir.

Mata ini masih saja terpejam rapat. Namun, air mata menembus celah-celah kelopak mata dan menetes ke bumi. Tubuh ini terguncang saat derai air mata semakin deras. Badan ini lemah terkulai ketika segala logika hancur berkeping-keping tak tersisa.

Mata ini memang terasa perih, namun hati ini sangat pedih. Air mata ini bak sungai deras, namun luka hati ini bak samudera tanpa batas. Ingus dari hidung terus meleleh, namun hati ini masih saja sekeras batu. Badan ini semakin lemas terkulai dan hati ini mulai bergetar, bergetar dan bergetar.

Getaran itu menjadikan air mata ini tumpah. Getaran itu, masuk ke dalam pori-pori. Memasuki aliran darah. Panas, terasa panas sekali tubuh ini. Hati ini masih saja menolak. Hati ini masih saja membantah. Meredam setiap getaran. Mencoba mematikan setiap guncangan.

Ketika seluruh ujung jari kaki, lutut, jidad, hidung, kedua telapak tangan menyentuh bumi, getaran ini semakin membesar bak air bah yang tidak terhadang. Menghujam ke hati. Menerobos sungsum tulang. Membidik pikiran. Merekat dalam kulit. Terhirup melalui hidung. Membisik dalam telinga. Terbayang dalam mata. Tubuh ini semakin lemas tanpa daya.

Borok-borok masa lalu bermunculan. Kudis-kudis terkelupas semuanya. Semua keingkarkan terkuak di depan mata. Hanya air mata yang terus bercucuran. Hanya asa dan penyesalan yang ada.

Getaran itu menyapu borok-borok. Membersihkan kudis-kudis yang menempel. Membuang keingkaran kedustaan. Getaran itu kini memeluk. Menyelimuti. Melindungi. Mengayomi.

Asa dan penyesalan ini harus berujung pada pengharapan. Pengharapan agar getaran itu bertahan dan bersemi. Agar getaran itu tak terhenti hanya sebagai getaran sesaat. Semoga getaran itu menjadi penuntun jalan panjang menuju Sang Illahi. Hanya itu, hanya itu doa seorang pendosa.

About angscript

Aku hanyalah jurnalis kecil yang bekerja di media kecil di sebuah kota kecil dan menghadapi masalah-masalah kecil dan orang-orang kecil. Tulisan ini hanyalah tentang hal-hal kecil agar aku bisa belajar berkata-kata, saat kata belum terbungkam dan kata masih bisa menjadi senjata. Jangan dianggap serius!!! Lihat semua pos milik angscript

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: