Ziarah

Kamu nyata dihidupku, kamu ada di depanku

Tapi tak bisa aku menyentuhmu

Kamu nyata di mataku, kamu ada di depanku

Tapi tak mungkin, tak mungkin ku miliki dirimu

(Kamu Nyata-Izzy)

Lagu soundtrack film D’Bijis Kamu Nyata mengalahkan deru motorku di jalanan Ring Road Utara. Tak hanya di telinga saja aku menikmati lagu yang aku putar lewat MP3 itu, namun begitu dahsyatnya lagu itu, hingga hati dan pikiranku terbawa dalam suasana lagu itu.

Perempatan Monjali, perempatan Jakal, perempatan Concat hingga depan UPN semuanya lewat, semuanya terlintasi begitu saja karena mulutmu masih berteriak-teriak mengikuti alunan lagu yang dinyanyikan Izzy itu.

Sebentar lagi Casa Grande, berarti tak lama lagi aku akan segera kembali ke “dunia yang dulu”. Sebuah kesempatan tak bisa aku lepaskan begitu saja agar aku dapat melakukan ziarah ke “dunia yang dulu”. Aku harap “dunia yang dulu” bukan sebuah de javu, namun sebuah realitas yang benar-benar ada di masa yang berbeda.

Gerbang rumah warna hijau di salah satu dusun di ujung Jogja jadi tujuanku. Dari tempat inilah aku akan memulai sebuah perjalanan ziarah yang sudah aku nantikan selama enam bulan terakhir.

Tak ada yang berubah dari tempat itu. Hampir lebih dari 8 bulan aku meninggalkan rumah yang sudah aku tinggali sekitar lima tahun lamanya. Seperti biasa, sampah masih berterbaran di mana-mana. Proyek lukisan kawanku juga masih cukup banyak. Cat tembok warna biru yang sudah mulai mengelupas juga belum berubah. Hanya kamar mandi dan garasi yang sedikit berubah, lebih bersih dan rapi dari terakhir aku melihat tempat itu.

Penghuni kos-kosan itu pun juga tak banyak yang berubah. Hanya seorang mahasiswa baru asal Aceh yang menjadi penghuni baru, lainnya adalah muka lama, kawan-kawan lamaku. Sebenarnya ada juga penghuni baru lainnya, namun bagiku tetap muka lama karena sering berada di kosku sejak jaman dulu.

Kawan-kawan yang yang tersisa di kos yang sering disebut kos plung (sebenarnya namanya lebih keren kos Joyo Mulyo) memang sudah tidak sempurna formasinya. Iput telah mengadu nasib ke ibukota, ada juga Ryo yang kembali ke Kota Atlas, ada Pelle yang sedang berpetualang ke Padang dan Weduz yang kembali kepangkuan ibunya di Karanganyar. Untung saja, Kro yang kerja di Ternate juga baru liburan. Sisanya, masih tetap sama, Wida sang pelukis, Asep anak Amikom, Fatur kakak sepupuku, Dirjo yang multi talented (maksudnya dia bisa jadi tukang genteng, tukang listrik, tukang pompa air, fotograger nikahan, manajer produksi film hingga EO). Masih ada juga muka lawas Ndoko dan penghuni baru wajah lama Cupep.

Memasuki kos itu seperti memasuki masa-masa yang penuh keliaran, kegilaan, idealisme, gairah seks, Mirasantika hingga tumpukan buku. Bayang-bayang kejadian saat aku pertama kali memasuki kos itu kembali terlintas. Gambaran pesta Mirasantika yang sempat membuatku tergeletak tak berdaya di Sarkem kembali muncul. Kemeriahan debat-debat tentang Inul Daratista, Heppy Salma, gempa Jogja dan Jateng SBY, Perang Irak, sepakbola hingga debat dan bertanya pada Tuhan masih terrekam baik dalam otakku.

Seperti biasa pertemuan dengan kawan lama, tanya kabar dan keadaan itu sudah pasti. Obrolan tentang kabar kawan-kawan lainnya pun sepertinya hukumnya wajib. Dan, sudah pasti yang paling menarik adalah bercerita tentang kenangan yang pernah dilalui bersama.

Saling menimpali cerita, melengkapi kisah, tak hanya terucap dalam bibir saja, tetapi juga terasa dalam hati. Sepertinya aku dan kawan-kawanku mengulangi kembali kejadian yang pernah terjadi, nongkrong di 0 Km, mengecat bersama di kos saat pemiliknya hendak mengusir semua penghuni kos, tidur di depan kamar selama 1 bulan setelah gempa hingga ngegosipin tante yang ada di sebelah kos.

Bagiku pertemuan dengan kawan-kawan lama walalupun tidak terlalu lama, namun itu adalah sebuah langkah untuk menjejaki jejak langkahku yang dulu. Aku pikir satu tahap ziarah sungguh mengugah hatiku kembali. Memang tidak sempurna, tapi mengesankan.

Ziarah suci tidak terhenti, aku terus berjalan kembali di bekas tapak kaki yang dulu pernah aku tinggalkan di Jogja. Social Agency Baru (SAB) jalan Solo kini menjadi tujuanku. Tempat ini adalah salah satu tempat yang paling sering aku kunjungi selain kampus dan kos. Di SAB aku sering menghabiskan waktu hingga berjam-jam, membaca buku dan mencari buku. Bagiku SAB Jalan Solo sudah menjadi rumah keduaku di Jogja. Walaupun kadang toko buku itu menata bukunya nggak sesuai kategori hingga telatnya buku baru, namun tak tahu kenapa aku selalu kembali ke SAB.

Ziarah di SAB juga berarti mencari “oleh-oleh”. Sudah terlalu lama rasanya aku tidak membeli buku dan ziarah ini adalah waktu yang tepat untuk memuaskan nafsuku (terhadap buku tentunya). Tiga buah tangan sudah dalam genggaman. Novel semuanya. Sepertinya otak dan tenagaku lagi malas dan bosan membaca buku yang menjejali fanatisme, kepercayaan, pemerkosaan perasaan hingga fantasi tingkat tinggi.

Masih ada satu ziarah yang harus ku tuntaskan waktu itu, ziarah menuju para partner in crime di kampus. Kawan-kawan ini tergabung dalam sebuah komunitas dan perusahaan iklan. Dulu aku sempat tergabung juga, namun itu tidak lama karena aku menuju duniaku yang kini.

Di Jalan Anggajaya, Concat mereka bermarkas. Beberapa kali aku kontak kawan dekatku Fredy. Dari sms hingga mencoba telepon. Namun, tidak ada balasan. Akhirnya aku langsung menuju markas mereka. Aku sempat khawatir kawan-kawanku ini sudah bubar jalan. Maklum, kebanyakan kawan yang sudah merdeka dari kampus langsung kabur entah merantau mencari pekerjaan atau kembali ke kampung halaman.

Namun, kekhawatiranku sirna. Neon box bertuliskan perusahaan iklan kawan-kawanku masih berdiri menantang di markas itu. Ah, masih jadi satu juga mereka, pikirku saat itu. Gerbang aku buka, dan haa..haa..muncul wajah Fika, kemudian Nano. Sedangkan Budi dan Somad belum datang. Dan Fredy kawan dekatku ternyata baru ke Temanggung menjenguk ceweknya yang sedang sakit. Bicara kabar dan cerita tentang banyak hal tentu mengalir begitu saja.

Puas rasanya sepertinya menuntaskan ziarah yang indah itu. Namun, sebenarnya aku masih ada yang kurang rasanya yaitu warung kopi. Namun apad daya partner in crime-ku Fredy tidak ada. Tapi tak apalah, toh semuanya tetap indah kok.

Gerbang dunia yang kini sudah terlihat kembali dan pintu ziarah perlahan tertutup. Tak ada air mata kesedihan ataupun ratapan luka masa lalu yang ada senyuman dan kepala tegak menatap dunia yang kini.

About angscript

Aku hanyalah jurnalis kecil yang bekerja di media kecil di sebuah kota kecil dan menghadapi masalah-masalah kecil dan orang-orang kecil. Tulisan ini hanyalah tentang hal-hal kecil agar aku bisa belajar berkata-kata, saat kata belum terbungkam dan kata masih bisa menjadi senjata. Jangan dianggap serius!!! Lihat semua pos milik angscript

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: