Gelang Giok Naga, kisah tentang empat perempuan Tionghoa

Judul : Gelang Giok Naga

Pengarang : Leny Helena

Halaman : 316 halaman

Tahun terbit : November 2006

Penerbit : Qanita

Apa jadinya jika empat perempuan Tionghoa berbeda generasi bertemu dalam satu rangkaian kejadian yang saling berkaitan? Mungkin jawaban itu akan hadir dalam novel Gelang Giok Naga ini, kisah dengan latar belakang kekaisaran China hingga huru hara reformasi 1998 di Indonesia.

Kisah bermulai dari Dinasti Ching tahun 1723 yang menceritakan tentang seorang selir yang bernama Yang Kuei Fei. Fei hanyalah satu dari puluhan bahkan ratusan selir yang dimiliki Sang Putra Langit Jia Shi. Awalnya Fei bukan siapa-siapa, namun dengan trik yang digunakannya, Fei bisa memikat Putra Langit sehingga sang Kaisar menjadi kepincut dengan Fei. Namun, usaha Fei tercium oleh Kasim Fu. Dan cerita mulai menarik karena kisah Fei dan Kaisar mulai dibalut dengan intrik-intrik politik kekaisaran.

Intrik-intrik kekaisaran akhirnya membawa Kaisar tewas dan hal itulah yang menjadikan Fei harus pergi dari istana dalam kondisi mengandung anak kaisar. Semua perhiasan Fei ditinggalkan, namun sebuah giok berbentuk sebuah naga tetap dibawa. Fei pergi meninggalkan istana ditemani dengan Kasim Fu. Dua orang itu terlibat asmara setelah keluar dari istana.

Kisah kemudian beranjak pada A Sui dan A Lin, dua orang perempuan yang harus datang ke Batavia (Jakarta) dengan alasan yang berbeda. A Sui datang ke Batavia mengikuti suaminya yang bertugas di Jakarta. Sedangkan A Lin terpaksa datang ke Batavia karena kondisi di China yang sangat memprihatinkan.

Dua perempuan tersebut kemudian ditautkan menjadi sebuah keluarga setelah anak perempuan A Sui menikah dengan anak laki-laki A Lin. Pasangan muda tersebut kemudian melahirkan anak yang kemudian diberi nama Swanlin. Kisah kemudian berputar-putar kepada tiga tokoh itu A Sui, A Lin dan Swanlin.

Kadang peristiwa dalam novel tersebut diambilkan dari sudut pandang A Sui, A Lin hingg Swanlin sehingga semakin memperkaya sudut pandang masalah. Konflik-konflik antara A Sui dan A Lin yang muncul pun juga menjadi tampak nyata ketika giok berbentuk naga yang semula dipegang A Sui jatuh ke tangan A Lin. Dan Swanlin lah yang akhirnya mengambil peranan terhadap konflik kedua neneknya itu.

Kisah Swanlin kemudian diambilkan dari latar tahun 1998 saat kerusuhan Jakarta terjadi. Swanlin mengambil peran tentang kerusuhan yang sebagian ditujukan kepada etnis Tionghoa. Kisah percintaan Swanlin pun tak luput dari novel ini.

Namun, kekuatan dari novel ini sebenarnya ada pada dua hal yaitu perempuan dan Tionghoa. Sudah cukup lama rasanya perempuan dan Tionghoa termarjinalkan di Indonesia dan kisah itu yang akhirnya diangkat penulis. Perempuan sepertinya masih dianggap sebelah mata dan kalau etnis Tionghoa di negara ini, tak perlu dipertanyakan lagi, mereka sering dianggap sebagai “anak tiri”. Novel ini tidak hanya menarik untuk dibaca, namun bisa menambah wawasan dan sudut pandang baru tentang perempuan dan etnis Tionghoa.

About angscript

Aku hanyalah jurnalis kecil yang bekerja di media kecil di sebuah kota kecil dan menghadapi masalah-masalah kecil dan orang-orang kecil. Tulisan ini hanyalah tentang hal-hal kecil agar aku bisa belajar berkata-kata, saat kata belum terbungkam dan kata masih bisa menjadi senjata. Jangan dianggap serius!!! Lihat semua pos milik angscript

One response to “Gelang Giok Naga, kisah tentang empat perempuan Tionghoa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: