Monthly Archives: Agustus 2008

Balada Es Kopyor

Butiran air yang menempel di gelas berisi es kopyor membasahi meja. Es yang ada di dalam gelas sudah lama mencair dan menyeruak menjadi butiran air yang kini menetes pelan menuju meja. Warna es kopyor kesukaanmu itu masih tetap keruh. Warna merah muda dari kentalnya sirup cocopandan hanya tampak di dasar gelas saja.

Kau masih sibuk dengan diammu. Tanganmu hanya bergerak untuk sesekali mengaduk es kopyor. Matamu menatap lurus ke jalanan. Entah, apa yang kau lihat, jalanan sudah sepi dan tak lagi menawarkan riuh rendah kehidupan. Kaki kananmu beberapa kali mengetuk-ketuk lantai warung Es Kopyor yang terbuat dari tanah, seakan setiap ketukan memberikan simbol nada dan ritme yang bergelombang dari dalam otakmu yang tak pernah ku tahu apa itu.

Bagiku kau adalah misteri, selayaknya es kopyor yang memberikan sejuta kejutan bagi pencintanya. Ketika sirup cocopandan yang ada di dalam es kopyor tidak kau aduk dan kentalnya sirup tetap mengendap di dasaran gelas, maka rasa kelapa muda begitu terasa ketika kau menyeruputnya. Ada kalanya juga, ketika dengan nikmatnya kau meneguknya, daging-daging dari kelapa muda begitu kenyal saat kau menggigitnya. Atau kalau kurang beruntung, daging-daging kelapa muda masih menyisakan ampas dan terasa pahit ketika kau menelannya. Namun, aku tahu caramu menikmati es kopyor kesukaanmu itu, dengan adukan pelan kentalnya sirup cocopandan akan bercampur dengan air kelapa muda dan kau akan memberikan senyuman indah saat kau meneguk nikmat.

Es kopyor kesukaanmu bisa memberikan sensasi yang berbeda-beda, seperti pula kau telah memberikan padaku sensasi yang tak mungkin ku lupa. Kadang kurang manis seperti es kopyor yang tak pernah diaduk, kadang nikmat seperti saat menggigit daging kelapa muda dan kadang pula indah ketika sirup cocopandan tercampur sempurna. Namun, kadang pula pahit seperti saat menenggak ampas daging kelapa muda.

Kau menengok kepadaku seakan menunggu kata. Aku hanya diam, tanpa bicara. Kau palingkan mukamu menuju es kopyor dan dengan sedotan kecil warna putih, kau seruput sedikit es kopyor kesukaanmu itu. Kau pandangi aku lagi dengan sedikit senyuman tipis dan aku semakin terpaku dalam diam. Aku ingin berkata-kata, namun lidah ini kelu. Aku tak tahu apakah diamku membantu, namun senyummu sudah terlanjur mengembang dan aku sadar jika es kopyor kesukaanmu itu telah habis.

Iklan

Aku & Tukang Ojek

Temaramnya lampu jalanan memayungiku dalam perjalanan malam. Ku pacu motor tak terlalu kencang, hanya 30 Km/jam. Semilir dingin angin malam begitu terasa hingga jaket tebal yang ku kenakan serasa tak berarti. Dinginnya malam menusuk-nusuk daging dan tulangku.

Perjalanan malam ini bukan perjalanan suci, ini hanyalah perjalanan biasa, tanpa makna, tanpa arti dan mungkin juga tanpa tujuan. Jalanan kota telah sepi. Aspal jalanan hitam hanya sedikit memantulkan cahaya temaram lampu jalanan. Lampu jalanan kedap-kedip seperti merasai kehidupan kota yang berdenyut lelah. Aku melintasi jalanan dengan hati yang sepi.

Aku dan jalanan adalah kawan, meski aku sadar jalanan juga menawarkan mara bahaya. Aku dan jalanan adalah satu kesatuan, meski aku tahu jalanan juga memberikan keterasingan. Aku dan jalanan sudah dalam satu ikatan, meski aku tahu jalanan kadang menolakku.

Tak pernah kuhitung berapa waktu yang ku habiskan selama satu hari di jalanan. Debu jalanan siang hari seperti pelembab wajah yang sewaktu-waktu aku terima. Dinginnya angin malam di jalanan seperti sejuknya air mandi setelah seharian bekerja.

Aku tak pernah tahu, makna, arti dan tujuan dari perjalanan ini. Aku memang menyatu bersama jalanan, selayaknya tukang ojek yang juga akrab dengan jalanan. Namun aku kadang mengiri dengan para tukang ojek. Mereka para tukang ojek menyatu dengan jalanan untuk sebuah kehidupan. Aku melintasi jalanan, tanpa pernah ku tahu apa arti, makna dan tujuan.

Tukang becak di perempatan yang baru saja aku lewati sudah terlelap tidur. Jalanan masih sepi, meski kehidupan malam masih menawarkan sejuta hiburan dan kesenangan. Aku mencoba membaui bau aspal seperti aku biasa mencoba membaui bau tanah yang baru tersiram air hujan.

Kumpulan tukang ojek mangkal di perempatan jalan protokol. Berkumpul dan bercanda riang. Mungkin pendapatan mereka sudah cukup sehingga tak perlu lagi turun ke jalanan. Kendaraanku berjalan semakin pelan dan jalan panjang masih menyatu bersamaku. Aku lelah dengan jalanan ini yang tanpa arti, tanpa makna dan mungkin tanpa tujuan. Aku iri dengan tukang ojek.


Anak Muda & Tan Malaka(isme)

Ketika generasi muda kini berani membusungkan dada

saat menggunakan kaus bergambar Che Guevara,

mungkin mereka lupa jika bangsa ini

punya sosok yang bernama Tan Malaka

Bagi anak muda, Che Guevara tak hanya idola, namun juga “Nabi” yang pantas menjadi panutan. Che Guevara tidak hanya melegenda di Argentina, Bolivia, Kuba ataupun negara Amerika Latin lainnya, namun Ernesto Che Guevara telah menginspirasi jutaan anak muda di berbagai belahan dunia. Kisah perjalaan Che mengelilingi Amerika Latin hingga kisah kematiannya seakan menjadi kisah yang tidak pernah usang. Kisah-kisah seputar Che seakan menjadi kisah “turun temurun” yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Che memang memiliki magnet tersendiri bagi anak muda yang hidup pascakematian Che. Nama Che identik dengan perlawanan, revolusi atau anak muda sekarang lebih suka menggunakan kata rebel. Sepak terjang Che yang dalam Revolusi Kuba hingga pergerakan di Amerika Latin memang bisa menjadi dasar bagi anak muda untuk me-Nabi-kan sosok Che.

Che begitu diagung-agungkan, hingga wajah Che dengan begitu mudahnya dijumpai di setiap sudut kota. Di sepanjang emperan toko Jalan Malioboro, pedagang stiker memajang wajah Che yang sangat khas, berbaret lengkap dengan bintangnya. Atau kaus warna hitam yang bagian depannya menampilkan wajah Che yang telah di-trace warna merah dengan kombinasi kuning di tambah kata Revolution di bawahnya dengan begitu mudahnya ditemukan di toko-toko pakaian. Alhasil, stiker gambar Che dengan mudahnya ditemukan di kamar kos, kampus, sepeda motor hingga pintu WC umum. Dan begitu mudahya kita menemukan anak muda menggunakan kaus bergambar Che, mulai dari mahasiswa yang sedang unjuk rasa, pengamen jalanan hingga gadis seksi yang berjalan lenggak-lenggok di mal-mal.

Ya, kepopuleran Che memang telah dimanfaatkan secara nyata oleh tangan jahil kapitalis. Ribuan stiker dicetak tiap harinya untuk meraup keuntungan. Kaus-kaus bergambar Che terus diproduksi untuk memenuhi kebutuhan pasar dan akhirnya sosok Che yang begitu Revolusioner telah menjadi bagian dari budaya pop anak muda ala kapitalisme yang tentunya sangat tidak revolusioner. Namun, apapun itu, Che telah membumi dan itu tidak bisa dipatahkan begitu saja.

Bicara soal sosok revolusioner yang membumi, penulis ingat sosok Tan Malaka yang sangat tidak membumi. Bahkan, sosok yang memiliki nama lengkap Ibahim Datuk Tan Malaka tersebut selama hidupnya selalu dipenuhi dengan misteri. Tan tak berbeda dengan Che, sama-sama revolusioner dalam perjuangan dan sama-sama dipengaruhi oleh paham komunisme. Tak ada maksud untuk membandingkan antara Che dan Tan, namun tak ada salahnya jika membumikan sosok Tan Malaka, bapak bangsa ini yang disebut-sebut Che Guevara dari Asia.

Nama Tan Malaka hampir tidak pernah ditemukan dalam buku sejarah bangsa ini. Sejak belajar di SD hingga perguruan tinggi, nama Tan yang biasa disebut dengan Si Macan tersebut tidak pernah disinggung apalagi dibicarakan. Mungkin karena sejarah adalah milik penguasa, maka Tan Malaka yang memang sempat memimpin Partai Komunis Indonesia (PKI) ini sengaja dihilangkan dari buku sejarah bangsa ini.

Tan lahir di lembah Suliki, Payakumuh, Sumatera Barat tahun 1897. Lahir dari keluarga yang Islami, Tan tumbuh besar menjadi anak yang bengal, namun diketahui juga hafal Al Quran. Tahun 1913 menuju negeri Belanda untuk melanjutkan studinya sebagai calon guru. Namun, di negeri itu bukan gelar guru yang diperolehnya. Belanda yang saat itu menjajah Indonesia, telah mengenalkannya pada politik terutama pemikiran komunisme dengan cita-cita utama, kemerdekaan Indonesia.

Tidak lulus dari Rijks Kweekschool di Haarlem, Belanda, Tan kembali ke Indonesia dan menjadi guru sekolah rendah di kawasan perkebunan di Deli, Sumatera Utara. Selama menjadi guru rendah tersebut, mata Tan terbuka lebar akan penindasan yang dialami bangsanya hingga suatu ketika di tahun 1921, Tan berangkat ke Semarang untuk ikut serta dalam arus pergerakan kemerdekaan.

Perkenalannya dengan tokoh-tokoh pergerakan kala itu menjadikan Tan, turut aktif dalam pergerakan, terutama lewat Sarekat Islam (SI). Bahkan, Tan aktif untuk menyatukan SI dengan komunis untuk menghadapi imperialisme Belanda. Pergerakan Tan kala itu membuat takut Belanda dan 13 Februari 1922, Tan ditangkap di Bandung untuk kemudian diasingkan di Belanda.

Dibuang ke Belanda tidak melunturkan semangat Tan, bahkan kala di Negeri Kincir Angin itu, Tan terus bergerak untuk kemerdekaan Indonesia hingga sempat menjadi calon anggota parlemen dengan nomor urut tiga di Partai Komunis Belanda. Dari Belanda, Tan pindah ke Jerman dan sempat mendaftar sebagai legiun asing, namun ditolak. Akhir tahun 1922, Tan pindah ke Moskow untuk mewakili PKI dalam konfrensi Komunis Internasional (Komintern) dan akhirnya Tan diangkat sebagai Wakil Komintern di Asia Timur.

Selama periode 1923 hingga 1942 atau hampir 20 tahun, Tan menjadi seorang pelarian. Selama periode itu, Tan pindah-pindah mulai dari Kanton, Filipina, Singapura, Thailand, kembali ke Filipina, Shanghai, Hongkong, Pulau Amoy, kembali ke Singapura, Burma, ke Singapura lagi dan terakhir Penang, Malaysia sebelum akhirnya masuk ke Indonesia melalui Medan dengan nama Legas Hussein.

Selama pelarian di 11 negara tersebut, Tan Malaka memiliki 23 nama palsu untuk menghindari kejaran inteljen Belanda, Jepang, Inggris dan AS. Sempat beberapa kali ditahan di Filipina atau Hongkong, namun akhirnya tetap bisa lolos. Selama pelariannya itu pula, Tan Malaka sempat menjadi koresponden, wartawan, guru bahasa Inggris, Jerman dan matematika. Selama pelarian itu pula, Tan menulis buku Naar de Reubliek Indonesia dan menjadi orang pertama yang menulis konsep Republik Indonesia serta buku Massa Actie atau Aksi Massa yang menjadi buku panduan dan pegangan Ir Soekarno, Hatta hingga Syahrir untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Bahkan, tahun 1927, Tan mendirikan Partai Republik Indonesia (Pari) di Bangkok.

Tahun 1942, Tan di Jakarta dan selama depalan bulan menulis buku yang sangat fenomenal Madilog. Tan kemudian menuju Bayah, Banten bekerja di pertambangan batu bara Jepang tahun 1943 dengan mengunakan nama Ilyas Hussein. Meski menjadi orang pertama yang menggagas konsep Republik Indonesia, namun Tan Malaka justru malah terlambat mengetahui Proklamasi 17 Agustus 1945. Hal itu sangat ironis. Perkenalannya dengan tokoh pemuda seperti Sayuti Melik, Chaerul Saleh hingga BM Diah membuahkan Rapat Raksasa di Lapangan Ikada. Tan disebut-sebut orang di belakang dari rapat akbar yang dihadiri 200 ribu orang tersebut.

Soekarno yang mengetahui kehadiran Tan Malaka, memeritahkan Sayuti Melik untuk melakukan pertemuan tertutup empat mata antara Soekarno dan Tan. Dalam pertemuan tersebut, Soekarno sempat mengatakan “Jika nanti terjadi sesuatu pada diri kami (Soekarno-Hatta) sehingga tidak dapat memimpin revolusi, saya harap Saudara yang melanjutkan.”

Pernyataan tersebut diikuti dengan adanya pemberian Testamen politik dan naskah proklamasi dari Soekarno kepada Tan Malaka. Apa yang dilakukan Soekarno tidak disepakati Hatta hingga akhirnya diambil jalan tengah, testamen diberikan kepada empat orang yaitu Tan Malaka, Syahrir, Wongsonegoro dan Iwa Koesoemasoemantri.

Pertalian Tan dengan bapak bangsa lainnya pecah karena kebijakan diplomatik dari Soekrano-Hatta-Syahrir. Tan menentang sepenuhnya jalur perundingan karena hal itu mengurangi kemerdekaan Indonesia 100% seperti apa yang selalu dikatakan Tan yaitu 100% merdeka. Bersama 141 kelompok, Tan membentuk Persatuan Perjuangan bersama Jenderal Soedirman dan memilih bergelilya untuk menangkal agresi Belanda.

Tan yang teguh untuk melawan tanpa lewat perundingan, akhirnya dijebloskan ke penjara, 17 Maret 1946 di Madiun. Dua tahun lebih, Tan baru dibebaskan dan tetap melanjutkan perjuangan lewat gerilya di Jawa Timur. Perlawanan Tan tanpa pernah mau berkompromi akhirnya berakhir pada kematiannya yang tragis, tewas di ujung senapa tentara republik yang digagasnya.

Kematian Tan sempat kontroversial. Banyak orang meyakini, Tan tewas ditembak di tepi Kali Brantas, Kediri. Namun, sejarawan Harry Poeze yang telah meneliti Tan Malak selama 36 tahun meyakini Tan tewas dieksekusi oleh pasukan Batalion Sikatan di Dusun Selopanggung, Semen, Kediri pada 21 Februari 1949.

Selama ini, Tan dikenal sebagai tokoh kemerdekaan paling misterius. Tokoh yang disebut Soekarno dengan istilah “Seorang yang mahir dalam revolusi” telah menjadi bapak bangsa yang terlupakan. Tidak banyak anak muda mengetahui sepak terjang Tan seperti mereka mengenal sepak terjang Che.

Tidak banyak anak muda yang mengerti tentang perjalanan Tan di 11 negara seperti mereka mengenal Che yang berkeliling Amerika Latin dengan sepeda motor. Tidak banyak anak muda yang mengenal kisah cinta Tan Malaka dengan Syarifah Nawawi yang bertepuk sebelah tangan, seperti mereka mengenal kisah cinta Che. Sudah saatnya melawan pelupaan, saatnya anak muda bangga kala menggunakan kaus bergambar Tan Malaka dan berani meneriakkan perlawanan, seperti apa yang telah dikatakan Tan Malaka dalam Dari Penjara ke Penjara jilid II ,”Ingatlah bahwa dari dalam kubur suara saya akan lebih keras daripada dari atas bumi.”


“Surat Cinta” dan Akurasi Berita

Kalau Einstein punya rumus EM=C2 yang menjadikannya melegenda,

maka jurnalistik punya rumus a+b=c yang wajib hukumnya.

Berproses sebagai seorang jurnalis yang baik dan benar aku pikir bukan merupakan hal yang mudah. Setelah pekerjaan mencari berita yang kemudian dilanjutkan dengan menuliskan berita tersebut kadang ada saja pikiran yang mengganjal memikirkan apakah tulisanku benar-benar sudah clear atau belum. Jawaban itu kadang baru terjawab pagi harinya saat koran memuat tulisanku. Kalau udah clear syukur, kalau tidak, maka bayangan datangnya “surat cinta” menggelayuti pikiran.

Istilah “surat cinta’ merupakan istilah familier di tempatku bekerja jika seorang reporter atau redaktur mendapatkan surat peringatan (SP) karena melakukan kesalahan, terutama dalam proses jurnalistik. Kata “surat cinta” menjadi sebuah plesetan yang sering digunakan di ruang redaksi untuk sekedar menghibur diri. Namun, plesetan SP menjadi “surat cinta” bukan berarti mengesampingkan arti dari SP itu sendiri, kata “surat cinta” dirasakan lebih terasa indah dan familier sehingga bagi yang menerimanya akan terasa tidak terlalu menyakitkan.

Sudah sekitar 2,5 tahun, aku berproses sebagai seorang jurnalis di sebuah koran lokal. Selama itu pula, aku belum pernah merasakan dag dig dug-nya mendapatkan “surat cinta”. Namun, kisah perjalananku selama 2,5 tahun yang clear dari “surat cinta” runtuh gara-gara uang palsu (Upal). Ya, kasus Upal yang aku tulis pekan lalu membawaku merasakan mendapatkan “surat cinta”.

Harus diakui, aku memang layak mendapatkan “surat cinta”. Aku melakukan kesalahan yang cukup fatal, yaitu saat itu aku menulis uang pecahan Rp 50.000 terbitan lama bergambar Ki Hajar Dewantoro. Padahal, seharusnya uang pecahan Rp 50.000 terbitan lama bergambar WR Supratman. Satu hari setelah berita itu keluar, koranku melakukan ralat dan tiga hari setelah kejadian itu, “surat cinta” itu datang kepadaku.

Setelah kejadian itu, aku ingat betul dengan rumus a+b=c yang pernah diberikan dosen kuliah jurnalistik cetak saat aku kuliah. A artinya adalah akurasi, b artinya balance dan c adalah clearity. Ya, rumus tersebut merupakan rumus paten, yaitu ketika menulis berita dengan akural dan berimbang (balance) maka akan menghasilkan berita yang clear alias aman alis baik dari segi jurnalistik. Namun, saat itu aku melupakan komponen a, sehingga berita yang ada menjadi tidak clearity.

Rumus a+b=c bisa jadi rumus yang simpel dan tidak ribet. Namun, dalam penerapannya, memang tidak semudah pengucapannya. Melakukan proses jurnalistik dengan berpatokan pada akurasi bukan hal yang enteng. Ketika dihadapkan pada fakta yang rumit dan kadang saling bertentangan, akurasi sangat penting, maka perlu ada pemikiran dan pemahaman yang lebih mendalam, agar berita yang diproses dari kumpulan fakta-fakta yang kadang berkeping-keping, dapat ditulis dengan akurat.

Menulis berita dengan balance atau imbang juga bukan perkara mudah. Ada istilah dalam jurnalisme yaitu cover both side yang saat ini sudah berkembang lagi menjadi cover all side. Istilah itu sama artinya dengan jurnalis menuliskan fakta dengan melihat dari berbagai sudut pandang agar beritanya menjadi imbang. Bagi orang awan, imbang kadang diartikan dengan memuat tulisan dua belah pihak yang sama besar dan sama panjang tulisannya.

Bahkan, beberapa perusahaan atau orang yang merasa dirugikan dengan media dan meminta adanya hak jawab yang besarnya sama dengan berita awal tersebut dimuat. Ini artinya sama dengan ketika berita yang dipermasalahkan merupaka berita headline, maka hak jawab yang keluar juga harus headline. Ya, betapa kompleksnya masalah balance hingga kadang tidak sedikit masalah balance berujung pada masalah hukum. Nah, ketika akurasi dan keberimbangan ikut menghiasi atau bahkan telah menjadi dasar atau pondasi dari sebuah berita, maka dapat dikatakan berita tersebut telah clear.

Kini, ketika aku baru saja mendapatkan “surat cinta”, rumus a+b=c selalu aku pikirkan. Mungkin selama ini aku sudah mulai melupakan rumus simpel tersebut dalam berproses. Aku anggap saja “surat cinta” itu telah me-refersh ingatan dan pemahamanku soal rumus a+b=c karena bagaimanapun itu rumus tersebut merupakan rumus wajib dalam jurnalistik, seperti halnya rumus EM=C2 dalam dunia fisika.


Oase di Gurun Pasir

“Ketika nurani melihat kenyataan, maka kejujuran

akan kebenaran adalah suatu keharusan.”

Senyumnya mengambang tipis layaknya orang biasa yang bersahaja. Perkataan yang meluncur dari mulutnya menunjukkan keteguhan hatinya yang mungkin sekokoh Tembok Raksasa China. Pusaran keras arus di selelilingnya tidak pernah mengoncangkan kata hatinya.

“Saya tidak pernah berusaha melawan arus. Saya hanya meluruskan arus yang ada. Saya hanya mengikuti kata hati, karena hati nurani tidak pernah berbohong. Ketika nurani melihat kenyataan, maka kejujuran akan kebenaran adalah suatu keharusan.”

Kalimat itu meluncur dari mulut mantan Kasatreskrim Poltabes Solo Komisaris Polisi Syarif Rahman saat berbincang-bincang dengan saya beberapa waktu yang lalu. Kamis kemarin, Syarif resmi melepas jabatannya sebagai Kasatreskrim Poltabes Solo dan akan menduduki posisi baru sebagai Kasubbag Reskrim Polwil Banyumas.

Kalau bapak dua anak ini tidak menggunakan seragam formal Polri, maka banyak orang yang bakal mengira jika dirinya bukan polisi. Untuk ukuran seorang anggota polisi, tubuh Syarif memang tergolong mungil. Namun, di balik tubuh mungilnya, Syarif memiliki keteguhan hati yang tidak terukur dalam sebuah institusi kepolisian. Saya meyakini itu meski saya baru mengenalnya enam bulan terakhir dan benar-benar akrab pada tiga bulan terakhir ini.

Keteguhan hati dalam bekerja dan berusaha tidak larut dalam pusaran arus yang bisa menyeretnya dalam kehinaan benar-benar terasa ketika Syarif mengungkap sejumlah kasus besar terutama kasus korupsi yang menyeret pejabat dan mantan pejabat Solo.

Saya meyakini tekanan tidak hanya muncul dari luar, tapi juga dari dalam dan itu semua dilewati laki-laki kelahiran Madura 33 tahun silam dengan tenang dan tanpa kompromi sejumlah pejabat dan mantan pejabat di Solo menyandang status baru sebagai tersangka korupsi. Bagi saya yang hampir setiap hari berinteraksi dengan masalah hukum dan kriminalitas di Solo, penuntasan kasus korupsi tersebut bagaikan perjalanan tanpa ujung. Sudah bertahun-tahun kasus tersebut mandek tanpa kejelasan arah. Dan dari tangannya ada secercah harapan kasus tersebut dapat segera dimejahijaukan.

Selama empat bulan terakhir, sedikitnya ada enam pejabat dan mantan pejabat di Solo yang menyandang gelar tersangka korupsi. Mungkin itu waktu yang cukup lama, namun jika dibandingkan dengan dua tahun mandeknya kasus tersebut, empat bulan merupakan langkah cepat dari penuntasan kasus korupsi. Kini, saat berkas untuk dua tersangka memasuki tahap akhir, lulusan Akpol yahun 1996 tersebut pindah dan saya pun hanya bisa berharap kasus tersebut tuntas hingga pengadilan.

Sering saya guyonang dengan sejumlah kawan, jika melaporkan kasus kehilangan ayam ke kepolisian, maka orang yang melaporkan kehilangan ayam tersebut akan kehilangan kambing di kepolisian. Sindiran kasar tersebut sudah menjadi rahasia umum atas bobroknya penegakan hukum di negara ini. Buramnya penegakan hukum di negara ini tidak hanya tercipta atas banyaknya individu di dalam institusi yang memang sudah bobrok, namun keboborkan tersebut terjadi karena sistem yang ada memang sudah sangat bobrok.

Mungkin kita kagum atas sikap mantan Jaksa Agung Abdulrahman Saleh yang berusaha membenahi institusi kejaksaan, meski dapat dikatakan akhirnya gagal. Dan saya juga kagum atas sikap Syarif yang tetap berpegang teguh pada hati nurani menjalani pekerjaan yang penuh godaan. Saya yakin dan percaya jika Abdulrahman Saleh ataupun Syarif Rahman bukan orang suci, namun dalam dunia penegakan hukum mereka telah menjadin oase di padang pasir yang kering.


Suatu sore di Taman Balekambang

Cahaya matahari sore belum berpendar. Masih cukup terik meski waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore lebih. Akhir-akhir ini cuaca di Solo sepertinya sedang mengalami anomali, kalau siang teriknya minta ampun, kalau malam dinginnya tidak mau kompromi.

Sangat nikmat rasanya menikmati sore di Taman Balekambang. Rumput yang rapi, pohon-pohon rindang ditemubus cahaya matahari, pancuran air dan kursi-kursi taman yang kosong tertata rapi. Suasana asri di tengah kota yang menyesakkan. Ada keluarga yang asik bercengkrama, ada pasangan anak muda yang memadu kasih, ada juga gelandangan yang menikmati tidur sore di kursi panjang taman.

Semuanya sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Satu keluarga yang kalau tidak salah ada bapak, ibu dan dua anak menikmati sore dengan jalan-jalan di taman dengan diselingi tawa riang kedua anak. Pasangan muda, duduk mesra di kursi yang tempatnya ada di pojok taman bercakap-cakap mesra. Gelandangan yang tidur di kursi lanjang, melenguhkan nafas panjang seakan melepas penat seharian di jalanan.

Belum lama Pemkot Solo memang melakukan revitalisasi Taman Balekambang. Bahkan, revitalisasi yang ditandai denga perbaikan sejumlah fasilitas dan pembangunan gedung baru juga belum sepenuhnya kelar. Namun, aktivitas di kawasan hijau tersebut tidak terganggu dengan belum selesainya perbaikan itu. Semuanya seakan menikmati sore menjelang senja itu dengan bahagia dan larut dalam nyaman.

Taman Balekambang mungkin menjadi tempat alternatif untuk ajang rekreasi murah saat tempat rekreasi menjadi barang mahal di Solo. Taman ini mungkin bisa jadi tempat melepas penat saat kehidupan kota yang selalu dipenuhi kendaraan dan kesibukan penghuninya.

Mungkin keluarga yang sore itu menikmati senja di Taman Balekambang lebih memilih tempat tersebut untuk jalan-jalan daripada pergi mal yang dipenuhi pedagang dan menawarkan kebisingan. Bagi pasangan anak muda itu, Taman Balekambang menjadi tempat memadu kasih yang murah meriah saat harga tiket bioskop 21 tidak terjangkau bagi anak muda kelas bawah yang juga ingin bermesra-mesraan. Dan bagi gelandangan, Balekambang tentu lebih nyaman jika dibandingkan dengan emperan toko.

Saat kehidupan semakin sesak dan menyesakkan, kawasan hijau seperti Taman Balekambang seakan menjadi pelipur lara kehidupan yang pahit. Senja akan segera tiba dan Taman Balekambang mulai sepi dan bersiap menyambut malam dan segala kehidupan malamnya.


%d blogger menyukai ini: