Oase di Gurun Pasir

“Ketika nurani melihat kenyataan, maka kejujuran

akan kebenaran adalah suatu keharusan.”

Senyumnya mengambang tipis layaknya orang biasa yang bersahaja. Perkataan yang meluncur dari mulutnya menunjukkan keteguhan hatinya yang mungkin sekokoh Tembok Raksasa China. Pusaran keras arus di selelilingnya tidak pernah mengoncangkan kata hatinya.

“Saya tidak pernah berusaha melawan arus. Saya hanya meluruskan arus yang ada. Saya hanya mengikuti kata hati, karena hati nurani tidak pernah berbohong. Ketika nurani melihat kenyataan, maka kejujuran akan kebenaran adalah suatu keharusan.”

Kalimat itu meluncur dari mulut mantan Kasatreskrim Poltabes Solo Komisaris Polisi Syarif Rahman saat berbincang-bincang dengan saya beberapa waktu yang lalu. Kamis kemarin, Syarif resmi melepas jabatannya sebagai Kasatreskrim Poltabes Solo dan akan menduduki posisi baru sebagai Kasubbag Reskrim Polwil Banyumas.

Kalau bapak dua anak ini tidak menggunakan seragam formal Polri, maka banyak orang yang bakal mengira jika dirinya bukan polisi. Untuk ukuran seorang anggota polisi, tubuh Syarif memang tergolong mungil. Namun, di balik tubuh mungilnya, Syarif memiliki keteguhan hati yang tidak terukur dalam sebuah institusi kepolisian. Saya meyakini itu meski saya baru mengenalnya enam bulan terakhir dan benar-benar akrab pada tiga bulan terakhir ini.

Keteguhan hati dalam bekerja dan berusaha tidak larut dalam pusaran arus yang bisa menyeretnya dalam kehinaan benar-benar terasa ketika Syarif mengungkap sejumlah kasus besar terutama kasus korupsi yang menyeret pejabat dan mantan pejabat Solo.

Saya meyakini tekanan tidak hanya muncul dari luar, tapi juga dari dalam dan itu semua dilewati laki-laki kelahiran Madura 33 tahun silam dengan tenang dan tanpa kompromi sejumlah pejabat dan mantan pejabat di Solo menyandang status baru sebagai tersangka korupsi. Bagi saya yang hampir setiap hari berinteraksi dengan masalah hukum dan kriminalitas di Solo, penuntasan kasus korupsi tersebut bagaikan perjalanan tanpa ujung. Sudah bertahun-tahun kasus tersebut mandek tanpa kejelasan arah. Dan dari tangannya ada secercah harapan kasus tersebut dapat segera dimejahijaukan.

Selama empat bulan terakhir, sedikitnya ada enam pejabat dan mantan pejabat di Solo yang menyandang gelar tersangka korupsi. Mungkin itu waktu yang cukup lama, namun jika dibandingkan dengan dua tahun mandeknya kasus tersebut, empat bulan merupakan langkah cepat dari penuntasan kasus korupsi. Kini, saat berkas untuk dua tersangka memasuki tahap akhir, lulusan Akpol yahun 1996 tersebut pindah dan saya pun hanya bisa berharap kasus tersebut tuntas hingga pengadilan.

Sering saya guyonang dengan sejumlah kawan, jika melaporkan kasus kehilangan ayam ke kepolisian, maka orang yang melaporkan kehilangan ayam tersebut akan kehilangan kambing di kepolisian. Sindiran kasar tersebut sudah menjadi rahasia umum atas bobroknya penegakan hukum di negara ini. Buramnya penegakan hukum di negara ini tidak hanya tercipta atas banyaknya individu di dalam institusi yang memang sudah bobrok, namun keboborkan tersebut terjadi karena sistem yang ada memang sudah sangat bobrok.

Mungkin kita kagum atas sikap mantan Jaksa Agung Abdulrahman Saleh yang berusaha membenahi institusi kejaksaan, meski dapat dikatakan akhirnya gagal. Dan saya juga kagum atas sikap Syarif yang tetap berpegang teguh pada hati nurani menjalani pekerjaan yang penuh godaan. Saya yakin dan percaya jika Abdulrahman Saleh ataupun Syarif Rahman bukan orang suci, namun dalam dunia penegakan hukum mereka telah menjadin oase di padang pasir yang kering.

About angscript

Aku hanyalah jurnalis kecil yang bekerja di media kecil di sebuah kota kecil dan menghadapi masalah-masalah kecil dan orang-orang kecil. Tulisan ini hanyalah tentang hal-hal kecil agar aku bisa belajar berkata-kata, saat kata belum terbungkam dan kata masih bisa menjadi senjata. Jangan dianggap serius!!! Lihat semua pos milik angscript

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: