Aku & Tukang Ojek

Temaramnya lampu jalanan memayungiku dalam perjalanan malam. Ku pacu motor tak terlalu kencang, hanya 30 Km/jam. Semilir dingin angin malam begitu terasa hingga jaket tebal yang ku kenakan serasa tak berarti. Dinginnya malam menusuk-nusuk daging dan tulangku.

Perjalanan malam ini bukan perjalanan suci, ini hanyalah perjalanan biasa, tanpa makna, tanpa arti dan mungkin juga tanpa tujuan. Jalanan kota telah sepi. Aspal jalanan hitam hanya sedikit memantulkan cahaya temaram lampu jalanan. Lampu jalanan kedap-kedip seperti merasai kehidupan kota yang berdenyut lelah. Aku melintasi jalanan dengan hati yang sepi.

Aku dan jalanan adalah kawan, meski aku sadar jalanan juga menawarkan mara bahaya. Aku dan jalanan adalah satu kesatuan, meski aku tahu jalanan juga memberikan keterasingan. Aku dan jalanan sudah dalam satu ikatan, meski aku tahu jalanan kadang menolakku.

Tak pernah kuhitung berapa waktu yang ku habiskan selama satu hari di jalanan. Debu jalanan siang hari seperti pelembab wajah yang sewaktu-waktu aku terima. Dinginnya angin malam di jalanan seperti sejuknya air mandi setelah seharian bekerja.

Aku tak pernah tahu, makna, arti dan tujuan dari perjalanan ini. Aku memang menyatu bersama jalanan, selayaknya tukang ojek yang juga akrab dengan jalanan. Namun aku kadang mengiri dengan para tukang ojek. Mereka para tukang ojek menyatu dengan jalanan untuk sebuah kehidupan. Aku melintasi jalanan, tanpa pernah ku tahu apa arti, makna dan tujuan.

Tukang becak di perempatan yang baru saja aku lewati sudah terlelap tidur. Jalanan masih sepi, meski kehidupan malam masih menawarkan sejuta hiburan dan kesenangan. Aku mencoba membaui bau aspal seperti aku biasa mencoba membaui bau tanah yang baru tersiram air hujan.

Kumpulan tukang ojek mangkal di perempatan jalan protokol. Berkumpul dan bercanda riang. Mungkin pendapatan mereka sudah cukup sehingga tak perlu lagi turun ke jalanan. Kendaraanku berjalan semakin pelan dan jalan panjang masih menyatu bersamaku. Aku lelah dengan jalanan ini yang tanpa arti, tanpa makna dan mungkin tanpa tujuan. Aku iri dengan tukang ojek.

About angscript

Aku hanyalah jurnalis kecil yang bekerja di media kecil di sebuah kota kecil dan menghadapi masalah-masalah kecil dan orang-orang kecil. Tulisan ini hanyalah tentang hal-hal kecil agar aku bisa belajar berkata-kata, saat kata belum terbungkam dan kata masih bisa menjadi senjata. Jangan dianggap serius!!! Lihat semua pos milik angscript

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: