Balada Es Kopyor

Butiran air yang menempel di gelas berisi es kopyor membasahi meja. Es yang ada di dalam gelas sudah lama mencair dan menyeruak menjadi butiran air yang kini menetes pelan menuju meja. Warna es kopyor kesukaanmu itu masih tetap keruh. Warna merah muda dari kentalnya sirup cocopandan hanya tampak di dasar gelas saja.

Kau masih sibuk dengan diammu. Tanganmu hanya bergerak untuk sesekali mengaduk es kopyor. Matamu menatap lurus ke jalanan. Entah, apa yang kau lihat, jalanan sudah sepi dan tak lagi menawarkan riuh rendah kehidupan. Kaki kananmu beberapa kali mengetuk-ketuk lantai warung Es Kopyor yang terbuat dari tanah, seakan setiap ketukan memberikan simbol nada dan ritme yang bergelombang dari dalam otakmu yang tak pernah ku tahu apa itu.

Bagiku kau adalah misteri, selayaknya es kopyor yang memberikan sejuta kejutan bagi pencintanya. Ketika sirup cocopandan yang ada di dalam es kopyor tidak kau aduk dan kentalnya sirup tetap mengendap di dasaran gelas, maka rasa kelapa muda begitu terasa ketika kau menyeruputnya. Ada kalanya juga, ketika dengan nikmatnya kau meneguknya, daging-daging dari kelapa muda begitu kenyal saat kau menggigitnya. Atau kalau kurang beruntung, daging-daging kelapa muda masih menyisakan ampas dan terasa pahit ketika kau menelannya. Namun, aku tahu caramu menikmati es kopyor kesukaanmu itu, dengan adukan pelan kentalnya sirup cocopandan akan bercampur dengan air kelapa muda dan kau akan memberikan senyuman indah saat kau meneguk nikmat.

Es kopyor kesukaanmu bisa memberikan sensasi yang berbeda-beda, seperti pula kau telah memberikan padaku sensasi yang tak mungkin ku lupa. Kadang kurang manis seperti es kopyor yang tak pernah diaduk, kadang nikmat seperti saat menggigit daging kelapa muda dan kadang pula indah ketika sirup cocopandan tercampur sempurna. Namun, kadang pula pahit seperti saat menenggak ampas daging kelapa muda.

Kau menengok kepadaku seakan menunggu kata. Aku hanya diam, tanpa bicara. Kau palingkan mukamu menuju es kopyor dan dengan sedotan kecil warna putih, kau seruput sedikit es kopyor kesukaanmu itu. Kau pandangi aku lagi dengan sedikit senyuman tipis dan aku semakin terpaku dalam diam. Aku ingin berkata-kata, namun lidah ini kelu. Aku tak tahu apakah diamku membantu, namun senyummu sudah terlanjur mengembang dan aku sadar jika es kopyor kesukaanmu itu telah habis.

About angscript

Aku hanyalah jurnalis kecil yang bekerja di media kecil di sebuah kota kecil dan menghadapi masalah-masalah kecil dan orang-orang kecil. Tulisan ini hanyalah tentang hal-hal kecil agar aku bisa belajar berkata-kata, saat kata belum terbungkam dan kata masih bisa menjadi senjata. Jangan dianggap serius!!! Lihat semua pos milik angscript

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: