Monthly Archives: September 2008

Tentang impian, persahabatan dan ketimpangan sosial (resensi film Laskar Pelangi)

Nama Ikal, Lintang, Sahara, Mahar, A Kiong, Syahdan, Kucai, Borek, Trapani dan Harun bukan nama yang asing lagi bagi para pembaca novel Laskar Pelangi. Ketika novel tersebut menjadi best seller, 10 nama yang menjadi pemeran utama dalam Laskar Pelangi itu akhirnya dimunculkan dalam bentuk visual lewat karya Riri Riza. Sampai saat ini pun saya belum pernah membaca novel Laskar Pelangi, apalagi dua buku lainnya yang merupakan bagian dari tetralogi Laskar Pelangi, namun saat film Laskar Pelangi diputar di bioskop, saya punya kesempatan untuk menikmati Laskar Pelangi versi visual ala Riri Riza.

Sebagian orang menilai adanya perubahan dan perbedaan ketika sebuah novel yang akhirnya dibentuk ulang dalam film, seperti kasus Ayat-ayat Cinta. Namun saya tidak ingin membahas hal itu, karena memang saya belum pernah membaca Laskar Pelangi asli karya Andrea Hirata.

Bagi saya yang buta tentang novel Laskar Pelangi, film Laskar Pelangi memberikan kesan tentang sebuah impian, persahabatan dan ketimpangan sosial. Dengan setting Belitong, Sumatera tahun 1970an, film ini mengkisahkan tentang 10 anak SD Muhammadiyah Gantong yang merupakan satu-satunya SD Islam yang ada di Belitong. Tidak ada yang patut dibanggakan dari SD tersebut, bangunannya sudah hampir rubuh atau siswanya minim, namun 10 siswa yang dipersatukan karena kemiskinan memberikan warna tersendiri bagi sekolah itu. Tentunya peran besar sosok Ibu Muslimah (diperankan Cut Mini Theo) tidak dapat dipisahkan dari SD tersebut.

10 Siswa yang bersekolah di SD tersebut adalah orang-orang yang terpinggirkan dan berasal dari keluarga yang miskin secara ekonomi, namun tetap memiliki kemauan untuk belajar, terutama Lintang yang harus menempuh perjalanan jauh agar dapat sekolah. Hal ini sangat kontras dengan SD PN Timah yang merupakan sekolah unggulan dan terkenal di Belitong. Ketika film menceritakan kekontrasan dua SD yang saling bertolak belakang itu, Riri Riza telah membawa penonton tentang kekontrasan pendidikan dan juga ketimpangan sosial. Kekontrasan itu diceritakan secara santun, tanpa mengolok-olok yang miskin dan tidak memuja-muja yang kaya.

Cerita dalam film ini mengalir dengan mulus. Dengan pengambilan gambar yang apik, penonton dibawa hanyut dalam cerita tentang perjalanan sebuah SD dengan segela keterbatasannya. Ada persahabatan, ada impian ada juga harapan tentang masa depan dari 10 anak yang akhirnya menamakan diri mereka Laskar Pelangi itu. Ada juga kisah suka cita, duka lara hingga kisah cinta termasuk kisah cinta Ikal dengan A Ling yang berawal dari kapur tulis, semuanya dituangkan dalam bentuk visual yang menarik.

Kekuatan film ini bukan terletak pada banyaknya aktor dan aktris papan atas seperti Cut Mini Theo, Tora Sudiro, Eros Djarot, Jajang C Noer, Rieke Diah Pitaloka, Matias Mucus ataupun Lukman Sardi. Namun, kekuatannya lebih pada penokohan 10 anak Belitong itu. Untuk pemeran dewasa, mungkin hanya Ibu Muslimah yang diperankan oleh Cut Mini yang cukup menonjol.

Diluar penokohan, kekuatan film ini lebih pada kemampuan untuk mengaduk-aduk perasaan penonton. Hanya dalam hitungan detik, penonton yang baru saja terbahak-bahak melihat Ikal yang sedang jatuh cinta, tiba-tiba langsung dibawa haru kala Pakcik meninggal ataupun kondisi Lintang akhirnya tidak meneruskan sekolah meski dia merupakan siswa tercerdas. Kemampuan membolak-balikkan situasi dengan cepat itu menjadi kekuatan utama cerita itu sehingga tidak hanya banyolan kocak yang didapat, namun pesan tentang persahabatan, tentang humanisme, tentang perjuangan hidup menjadi tersampaikan dengan lebih mudah dan mulus.

Meski memiliki kekuatan cerita yang cukup baik, namun di beberapa potongan film, cukup terasa ada jumping. Mungkin jika mengacu sepenuhnya pada novel, film Laskar Pelangi akan memakan durasi waktu yang cukup lama. Padahal, film Laskar Pelangi yang diputar sudah memakan waktu yang cukup lama yaitu sekitar 120 menit. Namun, apapun itu, film ini memang layak untuk ditonton, kekuatan cerita, sinematografi hingga penokohan memang tergarap dengan baik. Dan mungkin miliaran rupiah yang dikeluarkan untuk penggarapan film ini tidak sia-sia karena film ini kemungkinan besar akan mengikuti jejak sukses novel Laskar Pelangi yang best seller.

Iklan

Kursi Panjang Pengadilan dan Penantian Keadilan

Deretan kursi panjang pengadilan mungkin menjadi saksi bisu sebuah arti penantian bagi sejumlah jurnalis media lokal di Solo. Sudah lebih dari 3 jam lamanya, para jurnalis di Solo menduduki deretan kursi panjang di salah satu ruang sidang Pengadilan Negeri (PN) Solo. Hanya satu hal yang mereka tunggu, sidang kasus dugaan korupsi APBD 2003 yang menyeret enam mantan anggota DPRD Solo periode 1999-2004 menjadi terdakwa. Rencananya, sidang bakal mengagendakan pembacaan tuntutan dari jaksa.

Sejak pagi, sejumlah jurnalis yang biasa menggawangi desk hukum dan kriminalitas di Solo sudah mangkal di pengadilan. Hari itu, ada dua jadwal sidang yang cukup menarik, selain sidang korupsi APBD 2003, masih ada juga sidang korupsi lainnya yaitu korupsi dana PKPS BBM di Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) Solo yang menyeret mantan Direkturnya Siti Nuraini Arief sebagai terdakwa.

Sidang kasus korupsi PKPS BBM juga mengagendakan pembacaan tuntutan. Seperti sudah menjadi kewajaran, jadwal persidangan selalu mengalami penundaan. Untuk sidang korupsi RSJD, boleh dibilang cukup tepat waktu, dimulai jam 10.40 WIB. Jaksa, hakim, pengacara dan terdakwa semuanya sudah siap dan sidang digelar. Jaksa akhirnya menuntut Siti Nuraini Arief dengan 2,5 pidana penjara plus denda Rp 50 juta plus pengembalian uang lebih dari 600 juta yang telah dikorupsi.

Seusai sidang, Siti sempat menghindari jurnalis. Wajahnya ditutup dengan blocknote dan langsung dirangkul oleh keluarganya. Tampak dia sempat menangis setelah jaksa menuntutnya 2,5 penjara. Dan, ketika sidang kasus korupsi itu sudah berlalu, kini tinggal sidang korupsi APBD 2003 yang jadi incaran jurnalis.

Ruang sidang IV PN Solo telah disiapkan. Pengeras suara telah terpasang rapi. Namun, hinggga lebih dari 2 jam menunggu belum ada kepastian kapan sidang digelar. Jaksa, pengacara, enam terdakwa yaitu Gunawan M Su’ud, Zaenal Arifin, Sahil Al Hasni, James August Pattiwael, Bambang Rusiantono dan Satryo Hadinagoro juga telah siap. Jurnalis, entah itu jurnalis media cetak, fotografer dan wartawan TV dan radio juga telah siap sedia merekam momen pembacaan tuntutan tersebut.

Tak ada kejelasan kapan sidang dimulai membuat jurnalis mulai letih menunggu dan kursi panjang di dalam ruang sidang menjadi pelarian. Ada sekitar lima kursi panjang di dalam ruang sidang itu dan semuanya terisi oleh jurnalis yang kelelahan menunggu. Beberapa jurnalis bahkan sempat tertidur pulas saat tiduran di kursi panjang. Mereka seakan menanti sebuah hal yang belum pasti.

Apa yang ditunggu oleh jurnalis di kursi panjang itu, tak beda dengan penantian panjang dari masyarakat akan sebuah keadilan. Penantian panjang akan terungkapnya sebuah kasus korupsi yang dilakukan secara massal. Kasus korupsi APBD 2003 telah bergulir sejak tahun 2004 atau empat tahun yang lalu. Pimpinan DPRD Solo periode 1999-2004 dan juga anggota Panitia Rumah Tangga (PRT) telah menjadi terpidana kasus serupa dan kini giliran enam terdakwa yang menunggu kepastian hukum.

Empat tahun proses hukum tersebut berjalan. Untuk sebuah proses hukum, empat tahun merupakan waktu yang lama. Setelah ditangani Polwil Surakarta berkas kasus tersebut sempat bolak-balik dari Kepolisian ke Kejaksaan hingga puluhan kali. Baru pada awal tahun 2008 berkas untuk enam terdakwa dilimpahkan ke PN Solo. Setelah sekitar 8 bulan persidangan digelar, akhir September akhirnya sampai pada tuntutan.

Namun, setelah menunggu sekitar 3 jam, jurnalis harus kecewa karena pembacaan tuntutan baru akan dilakukan setelah Lebaran dengan alasan majelis hakim tidak komplit meski jaksa telah siap dengan tuntutannya. Penantian panjang itu ternyata belum berakhir. Penantian jurnalis di kursi panjang pengadilan seakan menyiratkan sebuah kenyataan penantian panjang masyarakat akan sebuah keadilan.


Logika & Rasa

Siapakah yang berkuasa atas diri ini. Begitu kuatnya logika menjadikan rasa mati. Atau begitu menggeloranya rasa menjadikan logika terbungkam. Atau logika dan rasa dapat berjalan bergandengan tangan dalam diri ini.

Pertemuan kali ini temanya sentimentil. Ah, siapapun aku percaya punya sikap sentimentil. Sikap yang mungkin lebih besar lahir dari dorongan perasaan, entah itu perasaan iba, perasaan sedih, perasaan bahagia atau perasaan suka.

Kopi susu yang ada di depanku tinggal separo, namun tema sentimentil terlalu dini untuk diakhiri, meski aku sadar apa yang dibicarakan tidak akan pernah menghasilkan sebuah kesepakatan karena memang tidak perlu ada kesepakatan. Biarkan tiap orang yang ikut serta berbicara tentang sentimentil mengambil sendiri kesimpulan, mengambil sendiri intisari dari sebuah omongan tentang sentimentil.

Pembicaraan dibuka ketika meluncur sebuah pertanyaan, “Mengapa sikapmu kepadaku sering sentimentil. Adakah faktor X.”

Pertanyaan yang sebenarnya sangat mudah dijawab. Bisa saja pertanyaan itu dijawab dengan lugas “Ah, itu hanya perasaanmu saja.” Atau bisa juga dijawab dengan kalimat yang sedikit lebih santun “Ups, apa sentimentil. Ya, mungkin memang seperti itu, tapi aku merasakan hal itu biasa saja.”

Tapi apa, ternyata menjawab pertanyaan itu lebih sulit dan repot ketimbang harus menjawab pertanyaan, “Mengapa RUU Pornografi&Pornoaksi menimbulkan pro kontra.”

Rokok Djarum Super kembali ku bakar. Dahiku mulai berkerut dan mulut ini belum juga bisa menjawab pertanyaan itu. Mungkin aku terlalu bodoh untuk pertanyaan semacam itu.


Kotang Susu

Namanya Kotang Susu. Harganya Rp 2.800. Warnanya coklat kehitam-hitaman, namun kadang juga ada dua warna yang memiliki gradasi yang kuat, hitam pekat dan coklat kehitam-hitaman. Begitu banyak Kotang Susu dapat ditemukan di Kota Tua Jogja. Dalam gairah malam, Kotang Susu bertebaran di sudut-sudut kota, entah dalam keremangan atau terang benderang. Ukurannya tidak besar, namun juga tidak kecil, sedang saja, sehingga tidak menjadikan penikmatnya merasa kurang, namun juga tidak berlebih atau lebih tepatnya ukurannya pas. Kotang Susu bukan hanya menjadi pelengkap malam, namun juga menjadi pembangkit gairah malam sehingga malam tak akan sempurna tanpa kehadiran Kotang Susu. Dan, pastinya malam-malam di Jogja semakin sempurna ketika aku mencucup habis Kotang Susu alias kopi tanggung susu. Bersama kepulan asap rokok yang tidak pernah berhenti, Kotang Susu menjadi teman setiaku.


“Kemanusiaan” Semut

Hari ini ribuan semut mati di tangan obat antiserangga. Cairan yang keluar dari botol obat antiserangga meluncur deras ke kumpulan semut yang jumlahnya mencapai ribuan. Tak ada yang bisa lolos dalam pembunuhan massal semut itu. Semut berwarna hitam itu seakan pasrah menghadapi kematian.

Tak ada duka lara, tak ada air mata. Semut-semut itu bahkan masih sempat tersenyum bahagia ketika cairan itu mulai disemprot. Mereka masih bisa bergandengan dengan semut-semut lainnya saat racun itu mulai menjalar ke tubuh mereka. Mereka masih bisa merangkul sanak saudara mereka ketika selama beberapa detik racun dari obat serangga itu menyiksa mereka. Mereka masih bisa berpelukan dengan kawan-kawan mereka sebelum nyawa tercabut dari raga. Kalau pun mereka bisa bicara, mereka pasti bilang, “Terima kasih, kami diberikan kematian bersama kawan, bersama saudara dan semua yang kami cintai.”

Roh-roh semut tersebut telah terbang ke langit, seakan Tuhan memberikan mereka sayap agar bisa terbang. Mereka memang mati bahagia, namun dari langit mereka meneteskan air mata melihat manusia yang tidak lagi menghargai kemanusiaan. Semut-semut itu menjadi semakin sedih melihat manusia tak pernah merangkul saudara, menghargai kawan dan melupakan cinta kasih. Air mata semut semakin deras melihat manusia melakukan itu semua dengan tangan memegang obat antiserangga.


Jejak

Bekas tapak kakiku menyusuri pantai nan sepi masih membekas jelas. Lubang yang membentuk kakiku tampak begitu jelas meski genangan air pantai membasahi dasar lubang itu. Ombak seakan mengerti, jejak itu belum saatnya tersapu oleh air laut dan hilang bersama kembalinya air menuju laut lepas.

Di pantai aku melihat senja yang memancarkan warna kuning kemerah-merahan. Senja yang begitu sempurna dengan bulatan matahari yang utuh, tanpa awan tanpa pula mendung. Warna langit biru cerah berbeda dengan warna laut yang biru muda memberikan kekontrasan warna sehingga muncul perpaduan warna biru, biru muda dan kuning kemerah-merahan petang itu.

Aku begitu menyukai senja, tapi tak tahu mengapa, jejak langkahku yang membekas di pasir putih lebih menarik perhatianku. Biasanya aku tak ingin melewatkan senja begitu saja, apalagi senja yang sempurna, tapi jajak langkah kakiku yang membekas di pantai sepertinya lebih memiliki magnet bagiku.

Jejak langkah itu belum juga tersapu juga oleh ombak. Aku menengok ke belakang jejak kakiku dari ujung pantai yang diawali dari depan batu koral masih utuh. Ombak yang berkali-kali menggulung-gulung dengan disertai desiran angin pantai yang kering tanpa bosan menciumi bibir pantai tak juga mengusik jejak itu.

Bekas tapak kaki itu tidak lurus, namun juga tidak berkelok-kelok. Ada alur yang terbentuk, namun bukan seperti jalur yang jelas arahnya. Tidak tampak adanya lubang di bekas tapak kaki paling jauh, namun aku lihat jelas adanya lubang yang membekas dari tapak kaki yang tepat ada di belakangku. Mataku tak ingin melepaskan pandangan dari jejak kaki itu yang seakan membawa hatiku melihat kembali jejak langkah kehidupan.

Aku kembali berjalan ke depan menuju ujung pantai yang lain, namun jejak kaki itu masih membayangiku dari belakang dan hati ini terlalu sentimentil merasai bekas jejak kaki itu, jejak kaki yang membawaku kembali ke masa lalu. Dari jejak langkah itu aku melihat wajah Inea. Wajah yang menghiasi kehidupanku dulu. Wajah bulatnya yang berwarna kecoklat-coklatan, mata sayu yang merindukan kehangatan, bibir mungil yang mengharapkan kecupan dan rambut tipis yang bergelombang. Aku lihat semuanya begitu jelas di bekas tapak kakiku itu.

Mungkin Inea terlalu sempurna sehingga bayangan wajahnya begitu jelas terutama saat hati sentimentil merasai bekas jejak kaki yang seakan memberikan batas jelas antara lautan dan daratan. Aku begitu percaya dengan kesempurnaannya meski dia kini hanya terlihat di bekas jejak kakiku yang memanjang di garis pantai dan tepat berada di belakang punggungku.

Bekas jejak kaki yang terus bertambah tidak hanya memberikan gambaran jelas tentang wajah Inea, namun juga tentang bau keringatnya, tentang senyumannya, tentang air matanya, tentang kekonyolannya, tentang kecerdasannya, tentang kebadungannya, tentang cemberutnya, tentang cara makannya, tentang suara cemprengnya, tentang dompetnya, tentang diamnya, tentang buku diarinya, tentang pakaian kesukaannya, tentang bekas luka bakar di kakinya dan tentang keangkuhannya serta segalanya tentang dia.

Senja sudah hampir usai seakan memberikan tanda jika malam akan segera tiba. Aku telah sampai di ujung pantai yang lain. Aku melihat jejak langkahku dari ujung pantai ke ujung pantai lainnya tanpa putus seperti aku melihat Inea yang memenuhi hati. Ombak masih berdeburan dan dalam sekali sapuan, ombak besar telah menghapuskan jejak langkah itu dan hatiku masih belum berdamai dengan jejak langkah yang hilang itu.


Cermin

Seperti hari-hari sebelumnya, cermin itu kembali menyapaku di pagi hari. Cermin yang aku letakkan di sebelah kanan tempat tidurku menyambut wajahku yang kucel setelah semalaman aku berpadu dengan mimpi. Ku lihat debu tipis menempel di cermin tersebut, sedikit membuat pantulan wajahku agak samar. Aku ambil tisu gulung dan kusapu debu tipis itu karena aku ingin menjadi “nyata”.

Sudah seperti menjadi ritual pagi, sepertinya bagiku pagi belum benar-benar pagi jika aku belum melihat diriku dari pantulan cermin itu. Tak tahu sejak kapan aku gandrung dengan ritual pagi itu, yang aku ingat hanya sejak aku meletakkan cermin di sebelah tempat tidurku, sejak saat itu juga setiap pagi aku selalu memandangi diriku dari cermin itu.

Kadang aku membayangkan jika cermin itu adalah seorang kawan. Kawan yang pertama kali menyambut dan menyapaku ketika aku baru akan mulai dengan kehidupan. Ketika aku menyambut pagi dengan senyuman, maka cermin yang memantulkan wajahku akan membalas senyuman itu. Dan aku senang bercermin tiap pagi, seperti ada kawan yang menemaniku.

Pagi ini, dari cermin aku berusaha melihat kemungkinan adanya perubahan wajahku pagi ini dengan kemarin pagi. Aku amati wajahku, pipiku, hidungku, daguku, alisku, rambutku. Dan saat itu, cermin sepertinya berkata, “Kawan, kumis dan jambangmu sudah tambah tebal. Tuh, lihat juga hidungmu, ada jerawatnya.”

Aku pandangi lagi wajahku dari pantulan cermin. Tak salah kiranya cermin itu, kumis dan jambangku memang sudah lebih tebal dari kemarin. Keberadaan jerawat di hidung itupun juga tak bias aku bantah. Aku tahu cermin itu takkan pernah berbohong kepadaku. Cermin itu telah memberikan apa yang senyatanya ada dalam diriku.

Sepertinya cermin memang telah menjadi kawan pagiku. Cermin itu telah memberikan segalanya bagiku tiap pagi. Dengan jelas, cermin memberikan perubahan yang ada padaku tiap pagi, entah itu kumis yang menebal, jerawat yang muncul di hidung atau mata merahku yang kurang tidur. Namun, ada kalanya cermin juga memberiku stagnasi, tak ada perubahan kecuali kulitku yang semakin hitam terbakar matahari.

Kedua tanganku ku arahkan ke kedua pipiku. Aku melihat cermin juga memberikan hal yang sama seperti aku lakukan. Aku tak tahu betapa tulusnya cermin itu memberikan gambaran yang sama seperti apa yang aku lakukan dan dalam waktu yang bersamaan tanpa adanya delay.

Sebegitu tulus dan setianya cermin itu, pagi ini aku berpikir, cermin bukanlah kawan pagi semata, namun kawan setiaku yang selalu memberikan apa yang terbaik dan terburuk bagiku. Mungkin dia hanya akan menyapaku kala pagi, namun dia selalu menyertai aku dengan segala perubahan dan stagnasiku. Mungkin cermin hanya akan memberikan pantulan wajah, namun cermin tidak pernah berbohong dengan pantulan itu. Mungkin cermin kadang memberikan kesuraman ketika jarang ku bersihkan, namun cermin akan kembali jelas ketika aku membersihkannya, tanpa noda tanpa noise.

Pagi ini aku sudah terlalu lama di depan cermin dan kehidupan telah menantiku. Aku buka pintu kamarku dan cahaya matahari langsung menyoroti wajahku. Aku arahkan pandangan pada cermin dan aku baru sadar jika kerutan di dahiku sudah semakin tebal.


%d blogger menyukai ini: