Cermin

Seperti hari-hari sebelumnya, cermin itu kembali menyapaku di pagi hari. Cermin yang aku letakkan di sebelah kanan tempat tidurku menyambut wajahku yang kucel setelah semalaman aku berpadu dengan mimpi. Ku lihat debu tipis menempel di cermin tersebut, sedikit membuat pantulan wajahku agak samar. Aku ambil tisu gulung dan kusapu debu tipis itu karena aku ingin menjadi “nyata”.

Sudah seperti menjadi ritual pagi, sepertinya bagiku pagi belum benar-benar pagi jika aku belum melihat diriku dari pantulan cermin itu. Tak tahu sejak kapan aku gandrung dengan ritual pagi itu, yang aku ingat hanya sejak aku meletakkan cermin di sebelah tempat tidurku, sejak saat itu juga setiap pagi aku selalu memandangi diriku dari cermin itu.

Kadang aku membayangkan jika cermin itu adalah seorang kawan. Kawan yang pertama kali menyambut dan menyapaku ketika aku baru akan mulai dengan kehidupan. Ketika aku menyambut pagi dengan senyuman, maka cermin yang memantulkan wajahku akan membalas senyuman itu. Dan aku senang bercermin tiap pagi, seperti ada kawan yang menemaniku.

Pagi ini, dari cermin aku berusaha melihat kemungkinan adanya perubahan wajahku pagi ini dengan kemarin pagi. Aku amati wajahku, pipiku, hidungku, daguku, alisku, rambutku. Dan saat itu, cermin sepertinya berkata, “Kawan, kumis dan jambangmu sudah tambah tebal. Tuh, lihat juga hidungmu, ada jerawatnya.”

Aku pandangi lagi wajahku dari pantulan cermin. Tak salah kiranya cermin itu, kumis dan jambangku memang sudah lebih tebal dari kemarin. Keberadaan jerawat di hidung itupun juga tak bias aku bantah. Aku tahu cermin itu takkan pernah berbohong kepadaku. Cermin itu telah memberikan apa yang senyatanya ada dalam diriku.

Sepertinya cermin memang telah menjadi kawan pagiku. Cermin itu telah memberikan segalanya bagiku tiap pagi. Dengan jelas, cermin memberikan perubahan yang ada padaku tiap pagi, entah itu kumis yang menebal, jerawat yang muncul di hidung atau mata merahku yang kurang tidur. Namun, ada kalanya cermin juga memberiku stagnasi, tak ada perubahan kecuali kulitku yang semakin hitam terbakar matahari.

Kedua tanganku ku arahkan ke kedua pipiku. Aku melihat cermin juga memberikan hal yang sama seperti aku lakukan. Aku tak tahu betapa tulusnya cermin itu memberikan gambaran yang sama seperti apa yang aku lakukan dan dalam waktu yang bersamaan tanpa adanya delay.

Sebegitu tulus dan setianya cermin itu, pagi ini aku berpikir, cermin bukanlah kawan pagi semata, namun kawan setiaku yang selalu memberikan apa yang terbaik dan terburuk bagiku. Mungkin dia hanya akan menyapaku kala pagi, namun dia selalu menyertai aku dengan segala perubahan dan stagnasiku. Mungkin cermin hanya akan memberikan pantulan wajah, namun cermin tidak pernah berbohong dengan pantulan itu. Mungkin cermin kadang memberikan kesuraman ketika jarang ku bersihkan, namun cermin akan kembali jelas ketika aku membersihkannya, tanpa noda tanpa noise.

Pagi ini aku sudah terlalu lama di depan cermin dan kehidupan telah menantiku. Aku buka pintu kamarku dan cahaya matahari langsung menyoroti wajahku. Aku arahkan pandangan pada cermin dan aku baru sadar jika kerutan di dahiku sudah semakin tebal.

About angscript

Aku hanyalah jurnalis kecil yang bekerja di media kecil di sebuah kota kecil dan menghadapi masalah-masalah kecil dan orang-orang kecil. Tulisan ini hanyalah tentang hal-hal kecil agar aku bisa belajar berkata-kata, saat kata belum terbungkam dan kata masih bisa menjadi senjata. Jangan dianggap serius!!! Lihat semua pos milik angscript

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: