Jejak

Bekas tapak kakiku menyusuri pantai nan sepi masih membekas jelas. Lubang yang membentuk kakiku tampak begitu jelas meski genangan air pantai membasahi dasar lubang itu. Ombak seakan mengerti, jejak itu belum saatnya tersapu oleh air laut dan hilang bersama kembalinya air menuju laut lepas.

Di pantai aku melihat senja yang memancarkan warna kuning kemerah-merahan. Senja yang begitu sempurna dengan bulatan matahari yang utuh, tanpa awan tanpa pula mendung. Warna langit biru cerah berbeda dengan warna laut yang biru muda memberikan kekontrasan warna sehingga muncul perpaduan warna biru, biru muda dan kuning kemerah-merahan petang itu.

Aku begitu menyukai senja, tapi tak tahu mengapa, jejak langkahku yang membekas di pasir putih lebih menarik perhatianku. Biasanya aku tak ingin melewatkan senja begitu saja, apalagi senja yang sempurna, tapi jajak langkah kakiku yang membekas di pantai sepertinya lebih memiliki magnet bagiku.

Jejak langkah itu belum juga tersapu juga oleh ombak. Aku menengok ke belakang jejak kakiku dari ujung pantai yang diawali dari depan batu koral masih utuh. Ombak yang berkali-kali menggulung-gulung dengan disertai desiran angin pantai yang kering tanpa bosan menciumi bibir pantai tak juga mengusik jejak itu.

Bekas tapak kaki itu tidak lurus, namun juga tidak berkelok-kelok. Ada alur yang terbentuk, namun bukan seperti jalur yang jelas arahnya. Tidak tampak adanya lubang di bekas tapak kaki paling jauh, namun aku lihat jelas adanya lubang yang membekas dari tapak kaki yang tepat ada di belakangku. Mataku tak ingin melepaskan pandangan dari jejak kaki itu yang seakan membawa hatiku melihat kembali jejak langkah kehidupan.

Aku kembali berjalan ke depan menuju ujung pantai yang lain, namun jejak kaki itu masih membayangiku dari belakang dan hati ini terlalu sentimentil merasai bekas jejak kaki itu, jejak kaki yang membawaku kembali ke masa lalu. Dari jejak langkah itu aku melihat wajah Inea. Wajah yang menghiasi kehidupanku dulu. Wajah bulatnya yang berwarna kecoklat-coklatan, mata sayu yang merindukan kehangatan, bibir mungil yang mengharapkan kecupan dan rambut tipis yang bergelombang. Aku lihat semuanya begitu jelas di bekas tapak kakiku itu.

Mungkin Inea terlalu sempurna sehingga bayangan wajahnya begitu jelas terutama saat hati sentimentil merasai bekas jejak kaki yang seakan memberikan batas jelas antara lautan dan daratan. Aku begitu percaya dengan kesempurnaannya meski dia kini hanya terlihat di bekas jejak kakiku yang memanjang di garis pantai dan tepat berada di belakang punggungku.

Bekas jejak kaki yang terus bertambah tidak hanya memberikan gambaran jelas tentang wajah Inea, namun juga tentang bau keringatnya, tentang senyumannya, tentang air matanya, tentang kekonyolannya, tentang kecerdasannya, tentang kebadungannya, tentang cemberutnya, tentang cara makannya, tentang suara cemprengnya, tentang dompetnya, tentang diamnya, tentang buku diarinya, tentang pakaian kesukaannya, tentang bekas luka bakar di kakinya dan tentang keangkuhannya serta segalanya tentang dia.

Senja sudah hampir usai seakan memberikan tanda jika malam akan segera tiba. Aku telah sampai di ujung pantai yang lain. Aku melihat jejak langkahku dari ujung pantai ke ujung pantai lainnya tanpa putus seperti aku melihat Inea yang memenuhi hati. Ombak masih berdeburan dan dalam sekali sapuan, ombak besar telah menghapuskan jejak langkah itu dan hatiku masih belum berdamai dengan jejak langkah yang hilang itu.

About angscript

Aku hanyalah jurnalis kecil yang bekerja di media kecil di sebuah kota kecil dan menghadapi masalah-masalah kecil dan orang-orang kecil. Tulisan ini hanyalah tentang hal-hal kecil agar aku bisa belajar berkata-kata, saat kata belum terbungkam dan kata masih bisa menjadi senjata. Jangan dianggap serius!!! Lihat semua pos milik angscript

3 responses to “Jejak

  • Kelabunantiindah

    Pandangilah jejak kaki itu kawan..pandangilah.. Sesekali bjalanlah menjauh,tapi tetap pandangilah..biarkan dia tersapu ombak pantai. Mgkn bkan saat ini dia tersapu,tapi pasti dia terhapus. Dan pada saat itu terjadi,pasti kamu sedang menapaki tepian pantai baru,membuat jejak baru..dan meninggalkan semuanya dengan senyuman. Fin.

  • julle

    Kamu mungkin bisa berbohong di depan semua orang, terutama aku… Tapi aku yakin kamu tidak bisa membohongi hati kamu…perasaan kamu… Dan aku tidak perlu jawaban untuk itu.

  • Mengirap | _matahari terbit_

    […] dari sini Share this:TwitterFacebookLike this:LikeBe the first to like this. Posted in […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: