Tentang impian, persahabatan dan ketimpangan sosial (resensi film Laskar Pelangi)

Nama Ikal, Lintang, Sahara, Mahar, A Kiong, Syahdan, Kucai, Borek, Trapani dan Harun bukan nama yang asing lagi bagi para pembaca novel Laskar Pelangi. Ketika novel tersebut menjadi best seller, 10 nama yang menjadi pemeran utama dalam Laskar Pelangi itu akhirnya dimunculkan dalam bentuk visual lewat karya Riri Riza. Sampai saat ini pun saya belum pernah membaca novel Laskar Pelangi, apalagi dua buku lainnya yang merupakan bagian dari tetralogi Laskar Pelangi, namun saat film Laskar Pelangi diputar di bioskop, saya punya kesempatan untuk menikmati Laskar Pelangi versi visual ala Riri Riza.

Sebagian orang menilai adanya perubahan dan perbedaan ketika sebuah novel yang akhirnya dibentuk ulang dalam film, seperti kasus Ayat-ayat Cinta. Namun saya tidak ingin membahas hal itu, karena memang saya belum pernah membaca Laskar Pelangi asli karya Andrea Hirata.

Bagi saya yang buta tentang novel Laskar Pelangi, film Laskar Pelangi memberikan kesan tentang sebuah impian, persahabatan dan ketimpangan sosial. Dengan setting Belitong, Sumatera tahun 1970an, film ini mengkisahkan tentang 10 anak SD Muhammadiyah Gantong yang merupakan satu-satunya SD Islam yang ada di Belitong. Tidak ada yang patut dibanggakan dari SD tersebut, bangunannya sudah hampir rubuh atau siswanya minim, namun 10 siswa yang dipersatukan karena kemiskinan memberikan warna tersendiri bagi sekolah itu. Tentunya peran besar sosok Ibu Muslimah (diperankan Cut Mini Theo) tidak dapat dipisahkan dari SD tersebut.

10 Siswa yang bersekolah di SD tersebut adalah orang-orang yang terpinggirkan dan berasal dari keluarga yang miskin secara ekonomi, namun tetap memiliki kemauan untuk belajar, terutama Lintang yang harus menempuh perjalanan jauh agar dapat sekolah. Hal ini sangat kontras dengan SD PN Timah yang merupakan sekolah unggulan dan terkenal di Belitong. Ketika film menceritakan kekontrasan dua SD yang saling bertolak belakang itu, Riri Riza telah membawa penonton tentang kekontrasan pendidikan dan juga ketimpangan sosial. Kekontrasan itu diceritakan secara santun, tanpa mengolok-olok yang miskin dan tidak memuja-muja yang kaya.

Cerita dalam film ini mengalir dengan mulus. Dengan pengambilan gambar yang apik, penonton dibawa hanyut dalam cerita tentang perjalanan sebuah SD dengan segela keterbatasannya. Ada persahabatan, ada impian ada juga harapan tentang masa depan dari 10 anak yang akhirnya menamakan diri mereka Laskar Pelangi itu. Ada juga kisah suka cita, duka lara hingga kisah cinta termasuk kisah cinta Ikal dengan A Ling yang berawal dari kapur tulis, semuanya dituangkan dalam bentuk visual yang menarik.

Kekuatan film ini bukan terletak pada banyaknya aktor dan aktris papan atas seperti Cut Mini Theo, Tora Sudiro, Eros Djarot, Jajang C Noer, Rieke Diah Pitaloka, Matias Mucus ataupun Lukman Sardi. Namun, kekuatannya lebih pada penokohan 10 anak Belitong itu. Untuk pemeran dewasa, mungkin hanya Ibu Muslimah yang diperankan oleh Cut Mini yang cukup menonjol.

Diluar penokohan, kekuatan film ini lebih pada kemampuan untuk mengaduk-aduk perasaan penonton. Hanya dalam hitungan detik, penonton yang baru saja terbahak-bahak melihat Ikal yang sedang jatuh cinta, tiba-tiba langsung dibawa haru kala Pakcik meninggal ataupun kondisi Lintang akhirnya tidak meneruskan sekolah meski dia merupakan siswa tercerdas. Kemampuan membolak-balikkan situasi dengan cepat itu menjadi kekuatan utama cerita itu sehingga tidak hanya banyolan kocak yang didapat, namun pesan tentang persahabatan, tentang humanisme, tentang perjuangan hidup menjadi tersampaikan dengan lebih mudah dan mulus.

Meski memiliki kekuatan cerita yang cukup baik, namun di beberapa potongan film, cukup terasa ada jumping. Mungkin jika mengacu sepenuhnya pada novel, film Laskar Pelangi akan memakan durasi waktu yang cukup lama. Padahal, film Laskar Pelangi yang diputar sudah memakan waktu yang cukup lama yaitu sekitar 120 menit. Namun, apapun itu, film ini memang layak untuk ditonton, kekuatan cerita, sinematografi hingga penokohan memang tergarap dengan baik. Dan mungkin miliaran rupiah yang dikeluarkan untuk penggarapan film ini tidak sia-sia karena film ini kemungkinan besar akan mengikuti jejak sukses novel Laskar Pelangi yang best seller.

Iklan

About angscript

Aku hanyalah jurnalis kecil yang bekerja di media kecil di sebuah kota kecil dan menghadapi masalah-masalah kecil dan orang-orang kecil. Tulisan ini hanyalah tentang hal-hal kecil agar aku bisa belajar berkata-kata, saat kata belum terbungkam dan kata masih bisa menjadi senjata. Jangan dianggap serius!!! Lihat semua pos milik angscript

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: