Bunga-Bunga Bermekaran

Senja di Solo baru saja berlalu. Tak ada lagi cahaya kuning kemerah-merahan yang berpendar di ujung langit sebelah barat. Yang ada hanya lampu-lampu kota yang baru saja menyala, bersiap menyambut malam. Gairah malam belum terlalu terasa, apakah malam ini ada tawaran petualangan yang bisa memperkaya hati dan pikiran?

Dua orang laki-laki dari perempuan baru saja berhenti di salah satu ujung jalan di daerah Gremet, Manahan, Solo. Dua sepeda motor yang mereka kendarai tepat berhenti di ujung jalan yang sedikit menikung. Pandangan tiga orang itu diarahkan neon box di seberang jalan yang bertuliskan “Soloppuccino”. Malam yang baru saja tiba, menelantarkan tiga anak muda itu di tempat tersebut setelah hik langganan mereka di barat Stadion Manahan tutup.

Tiga anak muda itu seperti mengalami loncatan berpikir dalam memilih tempat tongkrongan malam itu. Dari hik tiba-tiba otak liar mereka akhirnya menuju pada salah satu warung kopi (Warkop) yang lokasinya tidak jauh dari jalur rel kereta api itu. Namun, apalah arti locatan berpikir karena yang mereka pikirkan adalah menikmati malam dengan indah.

Cahaya lilin di meja-meja yang tertata rapi memberikan daya tarik tersendiri bagi tiga anak muda itu. Penerangan yang tidak terlalu terang, namun juga tidak terlalu remang, seperti menjadi magnet tersendiri. Meja-meja bundar yang ditata rapi di luar bangunan Warkop tersebut sebagian telah terisi. Ada tiga gadis remaja, ada dua orang yang memadu kasih di pojokan dan ada seorang ekspatriat yang sibuk dengan laptopnya.

Tiga anak muda yang bernama Awan, Nie dan San itu memilih tempat yang berada di pojokan luar. Selain view-nya lebih luas, tempatnya yang tidak jauh dari pohon rindang menjadikan tempat itu terasa nyaman untuk kongkow-kongkow. Satu-satunya perempuan di antara mereka, Nie mengambil inisiatif untuk memesan minuman.

Sambil melemparkan senyum tipis, seorang waiters menghampiri dan menyodorkan menu di Warkop tersebut. Nie memilih Froz Mocha, Awan tertarik dengan Frap n Mocha sedangkan San memesan Froz Chocolatte. Untuk kudapan, tiga anak muda yang dipertemukan atas nama persahabatan itu memesan FF Babaerque, Brownies dan French Toast.

Minuman dan makanan ringan yang mereka pesan sudah datang. “Tema malam ini apa ?,” tanya San membuka pembicaraan setelah mencocol French Toast dengan saus dengan ikuti membakar rokok.

“Apa aja, asal gak ada hubungannya dengan masalah kerjaan,” jawab Nie yang juga disepakati Awan dengan menganggukkan kepala.

Nie, Awan dan San langsung terlibat pembicaraan seru tentang pernikahan kawan yang baru tadi siang didatangi hingga membicarakan soal harga pulsa. Namun, pembicaraan mereka berlalu begitu saja dan tiba-tiba San membicarakan tentang bunga-bunga yang bermekaran di musim hujan.

“Hmm, kayaknya ini bakal menjadi tema utama malam ini,” kata Nie menimpali.

“Tema yang sesuai dengan suasana hati ha…ha…ha…,” ujar Awan menaggapi.

“Dimulai dari siapa?” tanya San sambil melirik ke arah Awan berharap Awan mau memulai tema utama malam itu.

“Aku dulu neh. Oke deh lampu hijau. Tapi kamu saja yang bercerita. Aku suka gaya bertuturmu. Nanti kalau ada yang kurang aku tambal sulam,” jawab Awan pada San. Nie yang ada di depan San hanya senyam-senyum menunggu tema utama dimulai.

Sebelumnya, San memang sudah sedikit banyak tau duduk perkara “Bunga-Bunga yang Bermekaran” pada diri Awan. Beberapa kali Awan sempat bercerita pada San, namun bagi Nie “Bunga-Bunga yang Bermekaran” itu benar-benar baru. Waktu dan jarak yang tidak bisa menyatukan mereka dan malam itu waktu sedang bersahabat dan tak ada lagi jarak yang memisahkan tiga sahabat tersebut.

Mulailah San bercerita tentang “Bunga-Bunga yang Bermekaran” di hati Awan. Tentang awal mula munculnya “Bunga” itu. Tentang bagaimana “Bunga” itu dirawat dan disirami tiap pagi hingga kini bunga-bunga itu telah bermekaran. Dengan gayanya yang lugas dan agak melebih-lebihkan San bercerita tentang semua proses itu. Kadang diselingi dengan gelak tawa dan senyuman.

Baik Awan ataupun Nie serius mendengarkan kisah tentang senitimentilnya manusia. Kadang Awan tersenyum kecut ketika cerita menginjak pada klimaks saat Awan dan “Bunga” menyatu dalam deru perjalanan dan kadang Nie mengerutkan dahi dan tersenyum ringan melihat ekspresi Awan.

Warkop semakin ramai saja. Malam memang belum terlalu larut, namun setiap orang seperti ingin menikmati malam itu dengan suka cita. Dan alampun menyambut mereka dengan lapang dada, malam layaknya toko yang buka lebih awal dan tutup lebih akhir. Mereka masih larut dalam kisah “Bunga-Bunga yang Bermekaran”.

Malam itu, Nie, San dan Awan telah menunjukkan sifat asli manusia yang sentimental saat hati tersentuh. “Memang ikuti saja kata hati, tapi bukankah kata hati bisa dikendalikan melalui pikiran yang nantinya dimanifestasikan pada perbuatan,” kata San pada Awan saat mereka membahas kata hati.

“Bener tuh. Pikiran bisa mengendalikan. Semuanya berawal dari sini,” ujar Nie sambil memegang kepalanya.

“Apapun itu. Aku pikir ada benarnya juga mengikuti kata hati,” jawab Awan.

Hujan yang turun tak mengganggu mereka. Pembicaraan tentang bunga-bunga yang bermekaran terus mendominasi, apakah itu tentang langkah ke depan atau tentang sikap yang harus diambil. Hujan yang membasahi bumi telah reda, mereka memutuskan pulang dengan membawa kisah bunga-bunga yang bermekaran yang semakin mekar malam itu selayaknya tanah yang merindukan hujan setelah lama kemarau.

About angscript

Aku hanyalah jurnalis kecil yang bekerja di media kecil di sebuah kota kecil dan menghadapi masalah-masalah kecil dan orang-orang kecil. Tulisan ini hanyalah tentang hal-hal kecil agar aku bisa belajar berkata-kata, saat kata belum terbungkam dan kata masih bisa menjadi senjata. Jangan dianggap serius!!! Lihat semua pos milik angscript

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: