Monthly Archives: November 2008

Perang & Gadis Ilalang (3)

Marcos akhirnya keluar dari mobil dan membuka kap mobilnya. Bau plastik terbakar langsung terasa. “Hufff. Tak ada onderdil pengganti,” kata Marcos melihat beberapa selang dari dalam kap mobil tersebut terbakar.

Beberapa pengungsi yang berjalan sempat ia tanyai apakah bisa membantu. Maria sendiri terlelap di dalam mobil, keletihan. Marcos tidak ingin mengganggu isterinya. Namun, kali ini ia terpaksa membangunkan isteriya. “Sayang, belum bisa diperbaiki nih. Bagaimana baiknya,” tanya Marcos.

“Perutku mulas sekali. Si Kecil terus-terus menendang dan sepertinya ingin segera keluar,” keluh isterinya.

Marcos kebingungan. Tak mungkin rasanya mengajak isteriya berjalan kaki sejauh 20 Km menunju desa terdekat. Namun, berada di tempat tersebut berlama-lama juga tak baik rasanya karena dari beberapa pengungsi lainnya, dia sempat mendengar pasukan militer terus bergerak ke arahnya setelah menaklukkan kota.

“Sayang. Sepertinya kita terpaksa harus berjalan. Militer terus bergerak ke arah kita. Kabarnya mereka juga ingin menaklukan desa di lembah gunung yang menjadi tempat pengungsian Presiden Ernesto. Dan satu-satunya jalan menuju desa itu adalah jalan ini,” kata Marcos kalut.

“Tak kuat rasanya aku berjalan,” jawab Maria sambil memegangi perut buncitnya.

“Tak ada pilihan lain. Jika militer terlalu dekat dengan kita, maka bisa saja mereka menghabisi kita karena mereka menilai kita loyalis Presiden,” ujar Marcos.

Sambil mengambil perbekalan dan barang penting lainnya ke dalam tas ransel Marcos bilang “Sayang. Percayalah kamu kuat,” kata Marcos pelan.

Setelah menarik nafas panjang, Maria bangun dari jok mobil dan berdiri pelan. Marcos yang disampingnya memegangi pudaknya sambil memapah isterinya. Belum sempurna isterinya berdiri, ribuan pengungsi di belakangnya tampak lari ketakutan. Marcos sempat menarik lengan salah satu pengungsi yang lari tersebut dan menanyakan apa yang tejadi.

“Militer sudah dekat. Mereka menembaki siapa saja yang ada di jalanan,” jawab orang itu.

Mendengar jawaban itu Marcos dan Maria hanya bisa tercengang. Sekejam itukah militer negerinya. Tanpa pikir panjang, Marcos langsung menarik isterinya untuk mulai berjalan. Banyaknya pengungsi yang lari menjadikan Maria dan Marcos beberapa kali terinjak kakinya oleh pengungsi lainnya.

Keringat deras mengucur dari muka keduanya. “Aku mohon, sayang. Kamu harus kuat,” kata Marcos sambil memapah isterinya yang sudah tampak kelelahan.

Belum sempat Maria menjawabnya, suara senjata otomatis terdengar begitu keras di belakang mereka. Ketakutan pengungsi semakin menjadi-jadi. Bahkan, tidak sedikit pengungsi yang terinjak-injak. Semuanya ingin selama. Semuanya ingin lari secepat-cepatnya.

“Sayang, aku sudah tidak kuat,” kata Maria.

Marcos tidak menjawabnya. Ia hanya memapah isterinya agar dapat berjalan semakin cepat. “dooor….door….dooor…door.” Rentetan suara senjata terasa begit dekat. Beberapa orang yang ada di sampingnya tampak roboh dan darah berwarna merah mengalir. Tak kenal muda tua, laki peremupuan, bayi atau kakek, brondongan peluru terus saja mengarah ke semua orang yang ada di jalanan.

Teriakan ketakutan menyelimuti jalanan. Suara tangisan meledak di mana-mana. Peluru itu tak punya mata, hanya bergerak lurus dan kencang menembus dada, kaki, kepala, pinggang. Tak terhitung lagi berapa banyak yang tewas. Hanya darah yang mengalir bak seperti sungai dan suara burung gagak yang tersisa.

Marcos kebingungan dan saat itu juga ia menyeret isterinya keluar dari jalanan dan memasuki padang ilalang di tepi jalan. Ilalang yang tinggi. Marcos terus saja menyeret isterinya tanpa pernah mendengarkan keluhan isterinya yang kesakitan ataupun menengok ke belakang untuk sekedar memastikan mereka akan dari pembantaian itu.

Tak tahu berapa lama itua terus menyeret tangan isterinya. Kini yang dirasakan Marcos hanya kesunyian. Padang ilalang yang luas sepertinya telah menelannya. Saat itu Maria berbisik “Kita istirahat sebentar.”

Marcos yang tidak mendengar suara senapan hingga teriakan mencekam hanya menganggukkan kepala. Mereka berdua duduk selonjor melepas lelah. Marcos mengeluarkan air mineral dari tas ranselnya dan diberikan pada Maria. Ilalang yang sangat tinggi sepertinya telah menelan pasangan suami isteri tersebut. Sepi…sunyi senyap. (Bersambung)


Perang & Gadis Ilalang (2)

Marcos menilai sudah tidak ada lagi harapan di distrik tersebut karena pasukan alteleri pimpinan Jenderal Pablo sudah berada di seberang jembatan batas kota. “Aku yakin tidak lebih dari lima jam lagi, kota ini akan jatuh ke militer,” kata Marcos kepada Maria sambil mengepaki barang.

“Apa yang ingin didapatkan dari kudeta ini. Apakah mereka telah benar-benar ingkar pada Revolusi Manifesto sehingga memilih mengorbankan rakyat demi kekuasaan,” tanya Maria sambil membantu Marcos memasukkan pakaian bayi untuk persiapan persalinan anak pertama mereka.

“Aku tak tahu, sayang. Bukankah Revolusi Manifesto yang dibuat bapak bangsa kita telah mengakomodir semua golongan, termasuk militer. Sepertinya saat ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan hal itu. Mari cepat kita berkemas,” kata Marcos sambil mengangkat kardus terakhir yang siap dimasukkan bagasi mobil.

Marcos dan Maria sudah berada di dalam mobil. Jalan di depan rumahnya sudah dipenuhi orang yang mengungsi. Ada yang menggunakan mobil, truk, sepeda motor, sepeda angin hingga jalan kaki. Wajah ketakutan menyelimuti semua warga distrik tersebut termasuk Marcos dan Maria. Mobil Marcos yang baru saja lunas bulan lalu mulai berjalan pelan. Maria masih menengokkan kepala menghadap rumah yang baru saja ditinggalkannya. Tanpa sadar Maria menetaskan air mata.

“Mungkin ini adalah jalan hidup. Jalan hidup yang tidak hanya harus dilalui oleh kita, namun juga negeri ini. Saat ini yang penting adalah keselamatan kita termasuk si kecil,” kata Marcos sambil mengelus-elus perut isterinya yang sedang mengandung.

Marcos tidak lagi memikirkan harta benda yang ditinggal ataupun rumah mungil yang dibangun dari jerih payahnya. Marcos hanya memikirkan keselamatan isterinya dan si jabang bayi dalam perut isterinya. Marcos takut jika isterinya jatuh sakit karena usia kandungannya sudah masuk 9 bulan dan diperikirakan dokter beberapa hari ke depan anak pertama mereka lahir.

Baru beberapa kilometer Marcos meninggalkan batas kota, asap membumbung tampak jelas dari kaca spion mobilnya. Marcos langsung menghentikan laju mobilnya dan menengok ke belakang. Kota yang saat dicintainya telah hancur. Dentuman meriam terus sahut menyahut dan diikuti dengan debu dan asap mengepul ke langit menjadikan siang itu seperti malam yang kelam, tanpa bintang dan bulan.

Sudah dua jam lebih, Marcos memacu mobilnya ke arah pedesaan. Banyaknya warga yang mengungsi menjadikan laju mobil hanya 30 Km/jam. Bahkan, kali ini Marcos harus menghentikan laju mobil selama beberapa menit untuk memberi jalan pengungsi lainnya. Mobil kembali berjalan pelan dan belum lebih dari 500 meter mobil itu kembali melaju, letupan kecil terdengar dari kap mobil dan asap putih keluar dari kap mobil tersebut. Mobil berjalan tersendat-sendat dan akhirnya macet. (Bersambung)


Perang & Gadis Ilalang (1)

Kakacauan besar sedang melanda negeri Revolusi. Tatanan politik, ekonomi, budaya hingga infrastruktur yang telah dibangun sejak tiga abad yang lalu luluh lantak seketika sejak kakacauan melanda negeri tersebut satu pekan terakhir. Kekacauan dan perang saudara di negeri yang dikenal dengan New World tersebut disebabkan karena adanya kudeta yang dilakukan Jenderal Pablo terhadap pemerintahan sah pilihan rakyat pimpinan Presiden Ernesto.

Kekacauan yang ditandai dengan adanya penyerbuan istana kepresidenan tersebut tidak hanya berdampak pada roda pemerintahan saja. Toko-toko dijarah, pusat perkantoran dibakar hingga permukiman penduduk pun tak luput dari serangan militer Jenderal Pablo yang ingin menguasai sepenuhnya negara itu sehingga roda ekonomi tak mampu lagi berjalan.

Kakacauan hampir melanda seluruh negeri Revolusi. Tak hanya di kota-kota besar, kekisruhan dan kerusuhan juga melanda daerah pedesaan dari tepi pantai hingga lembah gunung. Gerakan dari militer yang mengkudeta pemerintahan tersusun rapi dan terorganisir dengan baik sehingga ketika letupan kekacauan terjadi pada 1 Mei lalu di Ibu kota, hanya berselang beberapa jam, letupan kekacauan hampir merata di seluruh negeri.

Kepulan asap dari gedung yang terbakar sudah menjadi pemandangan umum. Bau bangkai manusia yang dibakar juga sudah tidak asing lagi bagi warga negeri Revolusi. Tangis bayi kekurangan susu seperti menjadi nyanyikan kelabu negeri itu. Debu-debu yang beterbangan akibat langkah berat dari jutaan pengungsi menjadi saksi bisu penistaan kemanusiaan. Negeri yang digadang-gadang sebagai negeri baru tersebut luluh lantak akibat kerakusan militer untuk menguasai pemerintahan.

Negeri Revolusi ini hanya berharap dari Distrik Huvana. Distrik yang dikenal paling makmur di negeri tersebut memang menjadi satu-satunya distrik yang belum tersentuh kekacauan. Militer yang melakukan kudeta pun juga tidak tinggal diam. Sudah tiga hari tiga malam, distrik tersebut dikepung dari segala penjuru. Semuanya warga distrik tersebut resah, karena masuknya militer ke distrik tersebut sepertinya hanya tinggal menunggu waktu saja.

Warga yang mulai resah mulai meninggalkan kota untuk mengungsi mengikuti jejak jutaan warga lainnya yang telah menungsi lebih dahulu. Warga hanya berharap, nyawa masih berharga meski kemanusiaan telah diinjak-injak. Dokter Marcos, dokter terkemuka di distrik tersebut juga mulai berancang-ancang mengungsi. Bersama isterinya Maria yang sedang hamil tua mulai mengepaki barang-barang untuk dimasukkan ke dalam mobil bututnya. (Bersambung)


Polling Artist Of The Month

Menurut kamu, siapa yang layak menyandang gelar Artist Of The Month bulan November ini? Ini nominasinya:

  1. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (Dikabarkan mundur dari jabatan Menkeu)
  2. Amrozi Cs (Eksekusi mati trio Bom Bali I)
  3. Syech Puji dan Ulfa (Pernikahan dini)
  4. Barrack Obama (Presiden terpilih Pilpres Amerika Serikat)
  5. Paul McCartney (Peraih penghargaan khusus MTV Eropa)
  6. Aulia Pohan (Besan SBY yang jadi tersangka kasus aliran dana BI)
  7. Rizki The Titans (Siap dicerai sang isteri)
  8. Chris John (Pertahankan juara dunia kelas bulu WBA)
  9. Sri Sultan Hamengku Buwono X (Nyalon jadi calon presiden)
  10. Hashim Djojohadikusumo (pengusaha kondang jadi terdakwa kasus arca Museum Radya Pustaka)
  11. Krisdayanti (Peluncuran buku KD, Hidup Tak Bisa Menunggu)
  12. Presiden SBY (Turunkan harga premium Rp 500)
  13. Bunga Citra Lestari (Menikah dengan sang pacar Ashraf)
  14. Bung Tomo (10 November resmi jadi pahlawan nasional)
  15. Lain-lain (Tulis tokoh atau figur lain jika kamu punya pilihan lain)

Ayo buruan pilih nominasi Artist Of The Month. Semakin banyak komen dari kamu, maka artis pilihanmu akan semakin dekat dengan gelar Artist Of The Month!!!Dan Indonesia memilih…


Hanya Aku & Nyamuk

Ngingggg…ngingggg…ngingggg. Suara nyamuk yang mengitari sekitar telingaku begitu nyaring kala malam telah berlalu dan pagi belum juga tiba. Beberapa kali, nyamuk menempel di kulitku yang berkeringat. Hawa gerah Solo membuat aku melepaskan baju meski harus rela membagi darah dengan nyamuk.

Televisi di depanku telah lama aku matikan. Tak ada acara yang menarik. Yang ada hanya film yang aneh, sinetron yang memuakkan dan acara recorder yang membosankan. Mata ini sudah pedih. Mata ini sudah kututup. Mata ini sudah lelah. Mata ini sudah ingin rehat. Namun, ternyata mata ini masih enggan terpejam dan memilih tetap menyala dalam kegelapan kamar yang pengap.

Tak ada suatu masalah yang terlalu membebani pikiran. Tidak tentang pekerjaan. Tidak tentang seorang gadis. Tidak tentang keluarga. Tidak tentang keuanganku yang agak carut marut bulan ini. Tidak juga tentang kredit motor yang bulan ini belum aku setorkan.

Nyamuk yang menempel di daun telinga aku usir. Entah mengapa aku tidak menaboknya atau berusaha membinasakannya. Biasanya aku akan sangat marah jika dalam keremangan kamar dan posisi tidur sudah diambil, nyamuk datang mengganggu tanpa diundang. Seperti ingin memanfaatkan kelemahan manusia yang terkantuk-kantuk, nyamuk datang untuk sebuah gigitan kecil dan menyisakan bekas warna merah di kulit.

Kali ini aku memaafkan beberapa gigitan kecil nyamuk. Kalaupun agak terasa mengganggu aku berusaha mengusirnya. Mungkin dalam sepinya malam, nyamuk punya maksud baik menemaniku. Menemaniku menikmati sepi yang benar-benar sepi. Memberikan hiburan dalam sepi dengan simphoni suara yang khas ngingggg…ngingggg…ngingggg. Tak terasa, suara azan subuh terdengar di telinga dan aku menikmati simphoni suara nyamuk dalam sepi.


%d blogger menyukai ini: