Perang & Gadis Ilalang (1)

Kakacauan besar sedang melanda negeri Revolusi. Tatanan politik, ekonomi, budaya hingga infrastruktur yang telah dibangun sejak tiga abad yang lalu luluh lantak seketika sejak kakacauan melanda negeri tersebut satu pekan terakhir. Kekacauan dan perang saudara di negeri yang dikenal dengan New World tersebut disebabkan karena adanya kudeta yang dilakukan Jenderal Pablo terhadap pemerintahan sah pilihan rakyat pimpinan Presiden Ernesto.

Kekacauan yang ditandai dengan adanya penyerbuan istana kepresidenan tersebut tidak hanya berdampak pada roda pemerintahan saja. Toko-toko dijarah, pusat perkantoran dibakar hingga permukiman penduduk pun tak luput dari serangan militer Jenderal Pablo yang ingin menguasai sepenuhnya negara itu sehingga roda ekonomi tak mampu lagi berjalan.

Kakacauan hampir melanda seluruh negeri Revolusi. Tak hanya di kota-kota besar, kekisruhan dan kerusuhan juga melanda daerah pedesaan dari tepi pantai hingga lembah gunung. Gerakan dari militer yang mengkudeta pemerintahan tersusun rapi dan terorganisir dengan baik sehingga ketika letupan kekacauan terjadi pada 1 Mei lalu di Ibu kota, hanya berselang beberapa jam, letupan kekacauan hampir merata di seluruh negeri.

Kepulan asap dari gedung yang terbakar sudah menjadi pemandangan umum. Bau bangkai manusia yang dibakar juga sudah tidak asing lagi bagi warga negeri Revolusi. Tangis bayi kekurangan susu seperti menjadi nyanyikan kelabu negeri itu. Debu-debu yang beterbangan akibat langkah berat dari jutaan pengungsi menjadi saksi bisu penistaan kemanusiaan. Negeri yang digadang-gadang sebagai negeri baru tersebut luluh lantak akibat kerakusan militer untuk menguasai pemerintahan.

Negeri Revolusi ini hanya berharap dari Distrik Huvana. Distrik yang dikenal paling makmur di negeri tersebut memang menjadi satu-satunya distrik yang belum tersentuh kekacauan. Militer yang melakukan kudeta pun juga tidak tinggal diam. Sudah tiga hari tiga malam, distrik tersebut dikepung dari segala penjuru. Semuanya warga distrik tersebut resah, karena masuknya militer ke distrik tersebut sepertinya hanya tinggal menunggu waktu saja.

Warga yang mulai resah mulai meninggalkan kota untuk mengungsi mengikuti jejak jutaan warga lainnya yang telah menungsi lebih dahulu. Warga hanya berharap, nyawa masih berharga meski kemanusiaan telah diinjak-injak. Dokter Marcos, dokter terkemuka di distrik tersebut juga mulai berancang-ancang mengungsi. Bersama isterinya Maria yang sedang hamil tua mulai mengepaki barang-barang untuk dimasukkan ke dalam mobil bututnya. (Bersambung)

About angscript

Aku hanyalah jurnalis kecil yang bekerja di media kecil di sebuah kota kecil dan menghadapi masalah-masalah kecil dan orang-orang kecil. Tulisan ini hanyalah tentang hal-hal kecil agar aku bisa belajar berkata-kata, saat kata belum terbungkam dan kata masih bisa menjadi senjata. Jangan dianggap serius!!! Lihat semua pos milik angscript

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: