Perang & Gadis Ilalang (2)

Marcos menilai sudah tidak ada lagi harapan di distrik tersebut karena pasukan alteleri pimpinan Jenderal Pablo sudah berada di seberang jembatan batas kota. “Aku yakin tidak lebih dari lima jam lagi, kota ini akan jatuh ke militer,” kata Marcos kepada Maria sambil mengepaki barang.

“Apa yang ingin didapatkan dari kudeta ini. Apakah mereka telah benar-benar ingkar pada Revolusi Manifesto sehingga memilih mengorbankan rakyat demi kekuasaan,” tanya Maria sambil membantu Marcos memasukkan pakaian bayi untuk persiapan persalinan anak pertama mereka.

“Aku tak tahu, sayang. Bukankah Revolusi Manifesto yang dibuat bapak bangsa kita telah mengakomodir semua golongan, termasuk militer. Sepertinya saat ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan hal itu. Mari cepat kita berkemas,” kata Marcos sambil mengangkat kardus terakhir yang siap dimasukkan bagasi mobil.

Marcos dan Maria sudah berada di dalam mobil. Jalan di depan rumahnya sudah dipenuhi orang yang mengungsi. Ada yang menggunakan mobil, truk, sepeda motor, sepeda angin hingga jalan kaki. Wajah ketakutan menyelimuti semua warga distrik tersebut termasuk Marcos dan Maria. Mobil Marcos yang baru saja lunas bulan lalu mulai berjalan pelan. Maria masih menengokkan kepala menghadap rumah yang baru saja ditinggalkannya. Tanpa sadar Maria menetaskan air mata.

“Mungkin ini adalah jalan hidup. Jalan hidup yang tidak hanya harus dilalui oleh kita, namun juga negeri ini. Saat ini yang penting adalah keselamatan kita termasuk si kecil,” kata Marcos sambil mengelus-elus perut isterinya yang sedang mengandung.

Marcos tidak lagi memikirkan harta benda yang ditinggal ataupun rumah mungil yang dibangun dari jerih payahnya. Marcos hanya memikirkan keselamatan isterinya dan si jabang bayi dalam perut isterinya. Marcos takut jika isterinya jatuh sakit karena usia kandungannya sudah masuk 9 bulan dan diperikirakan dokter beberapa hari ke depan anak pertama mereka lahir.

Baru beberapa kilometer Marcos meninggalkan batas kota, asap membumbung tampak jelas dari kaca spion mobilnya. Marcos langsung menghentikan laju mobilnya dan menengok ke belakang. Kota yang saat dicintainya telah hancur. Dentuman meriam terus sahut menyahut dan diikuti dengan debu dan asap mengepul ke langit menjadikan siang itu seperti malam yang kelam, tanpa bintang dan bulan.

Sudah dua jam lebih, Marcos memacu mobilnya ke arah pedesaan. Banyaknya warga yang mengungsi menjadikan laju mobil hanya 30 Km/jam. Bahkan, kali ini Marcos harus menghentikan laju mobil selama beberapa menit untuk memberi jalan pengungsi lainnya. Mobil kembali berjalan pelan dan belum lebih dari 500 meter mobil itu kembali melaju, letupan kecil terdengar dari kap mobil dan asap putih keluar dari kap mobil tersebut. Mobil berjalan tersendat-sendat dan akhirnya macet. (Bersambung)

About angscript

Aku hanyalah jurnalis kecil yang bekerja di media kecil di sebuah kota kecil dan menghadapi masalah-masalah kecil dan orang-orang kecil. Tulisan ini hanyalah tentang hal-hal kecil agar aku bisa belajar berkata-kata, saat kata belum terbungkam dan kata masih bisa menjadi senjata. Jangan dianggap serius!!! Lihat semua pos milik angscript

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: