Perang & Gadis Ilalang (3)

Marcos akhirnya keluar dari mobil dan membuka kap mobilnya. Bau plastik terbakar langsung terasa. “Hufff. Tak ada onderdil pengganti,” kata Marcos melihat beberapa selang dari dalam kap mobil tersebut terbakar.

Beberapa pengungsi yang berjalan sempat ia tanyai apakah bisa membantu. Maria sendiri terlelap di dalam mobil, keletihan. Marcos tidak ingin mengganggu isterinya. Namun, kali ini ia terpaksa membangunkan isteriya. “Sayang, belum bisa diperbaiki nih. Bagaimana baiknya,” tanya Marcos.

“Perutku mulas sekali. Si Kecil terus-terus menendang dan sepertinya ingin segera keluar,” keluh isterinya.

Marcos kebingungan. Tak mungkin rasanya mengajak isteriya berjalan kaki sejauh 20 Km menunju desa terdekat. Namun, berada di tempat tersebut berlama-lama juga tak baik rasanya karena dari beberapa pengungsi lainnya, dia sempat mendengar pasukan militer terus bergerak ke arahnya setelah menaklukkan kota.

“Sayang. Sepertinya kita terpaksa harus berjalan. Militer terus bergerak ke arah kita. Kabarnya mereka juga ingin menaklukan desa di lembah gunung yang menjadi tempat pengungsian Presiden Ernesto. Dan satu-satunya jalan menuju desa itu adalah jalan ini,” kata Marcos kalut.

“Tak kuat rasanya aku berjalan,” jawab Maria sambil memegangi perut buncitnya.

“Tak ada pilihan lain. Jika militer terlalu dekat dengan kita, maka bisa saja mereka menghabisi kita karena mereka menilai kita loyalis Presiden,” ujar Marcos.

Sambil mengambil perbekalan dan barang penting lainnya ke dalam tas ransel Marcos bilang “Sayang. Percayalah kamu kuat,” kata Marcos pelan.

Setelah menarik nafas panjang, Maria bangun dari jok mobil dan berdiri pelan. Marcos yang disampingnya memegangi pudaknya sambil memapah isterinya. Belum sempurna isterinya berdiri, ribuan pengungsi di belakangnya tampak lari ketakutan. Marcos sempat menarik lengan salah satu pengungsi yang lari tersebut dan menanyakan apa yang tejadi.

“Militer sudah dekat. Mereka menembaki siapa saja yang ada di jalanan,” jawab orang itu.

Mendengar jawaban itu Marcos dan Maria hanya bisa tercengang. Sekejam itukah militer negerinya. Tanpa pikir panjang, Marcos langsung menarik isterinya untuk mulai berjalan. Banyaknya pengungsi yang lari menjadikan Maria dan Marcos beberapa kali terinjak kakinya oleh pengungsi lainnya.

Keringat deras mengucur dari muka keduanya. “Aku mohon, sayang. Kamu harus kuat,” kata Marcos sambil memapah isterinya yang sudah tampak kelelahan.

Belum sempat Maria menjawabnya, suara senjata otomatis terdengar begitu keras di belakang mereka. Ketakutan pengungsi semakin menjadi-jadi. Bahkan, tidak sedikit pengungsi yang terinjak-injak. Semuanya ingin selama. Semuanya ingin lari secepat-cepatnya.

“Sayang, aku sudah tidak kuat,” kata Maria.

Marcos tidak menjawabnya. Ia hanya memapah isterinya agar dapat berjalan semakin cepat. “dooor….door….dooor…door.” Rentetan suara senjata terasa begit dekat. Beberapa orang yang ada di sampingnya tampak roboh dan darah berwarna merah mengalir. Tak kenal muda tua, laki peremupuan, bayi atau kakek, brondongan peluru terus saja mengarah ke semua orang yang ada di jalanan.

Teriakan ketakutan menyelimuti jalanan. Suara tangisan meledak di mana-mana. Peluru itu tak punya mata, hanya bergerak lurus dan kencang menembus dada, kaki, kepala, pinggang. Tak terhitung lagi berapa banyak yang tewas. Hanya darah yang mengalir bak seperti sungai dan suara burung gagak yang tersisa.

Marcos kebingungan dan saat itu juga ia menyeret isterinya keluar dari jalanan dan memasuki padang ilalang di tepi jalan. Ilalang yang tinggi. Marcos terus saja menyeret isterinya tanpa pernah mendengarkan keluhan isterinya yang kesakitan ataupun menengok ke belakang untuk sekedar memastikan mereka akan dari pembantaian itu.

Tak tahu berapa lama itua terus menyeret tangan isterinya. Kini yang dirasakan Marcos hanya kesunyian. Padang ilalang yang luas sepertinya telah menelannya. Saat itu Maria berbisik “Kita istirahat sebentar.”

Marcos yang tidak mendengar suara senapan hingga teriakan mencekam hanya menganggukkan kepala. Mereka berdua duduk selonjor melepas lelah. Marcos mengeluarkan air mineral dari tas ranselnya dan diberikan pada Maria. Ilalang yang sangat tinggi sepertinya telah menelan pasangan suami isteri tersebut. Sepi…sunyi senyap. (Bersambung)

About angscript

Aku hanyalah jurnalis kecil yang bekerja di media kecil di sebuah kota kecil dan menghadapi masalah-masalah kecil dan orang-orang kecil. Tulisan ini hanyalah tentang hal-hal kecil agar aku bisa belajar berkata-kata, saat kata belum terbungkam dan kata masih bisa menjadi senjata. Jangan dianggap serius!!! Lihat semua pos milik angscript

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: