Monthly Archives: Desember 2008

Perang & Gadis Ilalang (6)

Dengan susah payah, Maria membantu Marcos kembali berdiri. Di usapkan tangannya ke arah pelipis kanan suaminya yang terus mengucurkan darah. “Sudah tak apa-apa,” kata Marcos.

“Sudah…sudah. Siapa kalian. Aku yakin kalian pasti warga Distrik Huvana. Distrik berkumpulnya orang-orang pendukung Presiden Ernesto,” tanya Kopral Cristian.

Pertanyaan itu tidak dijawa oleh Marcos dan Maria. Lidah mereka kelu melihat 10 moncong senjata di hadapan mereka. Marcos tak berkata-kata dan Maria hanya menangis pelan sendu sambil memeluk suaminya. “Hey, jawab. Bisu kalian,” kata Kopral Cristian dengan nada tinggi sambil mengajukan moncong senjatanya ke wajah Marcos.

“Kami bukan siapa-siapa. Kami hanya warga biasa yang tak tahu politik,” jawab Marcos pelan.

“Tai, kamu. Kalian orang Huvana selama ini getol meminta pecabutan Dwifungsi tentara agar kami tidak bisa ikutan politik dan kalianlah pendukung presiden yang sok demokratis itu,” jawab Kopral Cristian.

Pernyataan itu tidak ditanggapi Marcos. Dia malah semakin mengikatkan tangannya ke pinggang isterinya dan siap menghadapi maut yang mungkin sebentar lagi tiba. “Kenapa kamu diam. Tak bisa menyangkal ya. Dasar tai, kamu,” kata Kopral Cristian sambil menendang Marcos.

Tendangan itu membuat Marcos tersungkur. Dengan susah payah ia kembali berdiri. “Dasar penghianat tak tau diuntung. Kalian hanya bicara demokrasi, tanpa tahu arti perjuangan. Kalian hanya bicara hak asasi manusia, tanpa tahu berapa banyak tentara yang mati di medan perang. Kalian hanya bicara kebebasan, tanpa pernah tahu nasionalisme,” kata Kopral Cristian seperti memberikan ceramah.

Marcos tetap tidak menjawab pertanyaan itu. Di pandanginya satu tersatu wajah tentara itu. Mulai dari Kopral Cristian. Marcos kemudian mengerahkan kepalanya ke wajah tentara lainnya. Dari nama yang terpampang dari seragam doreng yang dikenakannya Marcos tahu nama-nama 10 orang itu. Mulai Cristian, Alfredo, Juan Carlos, Ayala, Fabiano, Hector, Hernandez, Marquez, Guterez dan Aimar.

“Apa kamu lihat-lihat, menantang kamu,” kata Kopral Hector sambil menempelkan moncong AK 47 ke jidat Marcos.

Perlakuan tentara itu membuat Maria semaki ketakutan. Namun, tidak bagi Marcos. Seakan ada kekuatan baru dari dalam tubuhnya setelah ia dikata-katai tidak mengenal nasionalisme, tak tahu arti perjuangan. “Saya tidak menantang, tapi paling tidak saya bisa tahu nama-nama kalian yang akan membunuh saya,” kata Marcos sengit.

Jawaban dari Marcos tidak diduga oleh tentara-tentara itu. “Memang ingin mati kalian. Kalau itu keinginanmu, akan kami turuti,” kata Kopral Fabiano.

“Ya, kalau kalian memang merasa bisa menjadi seorang nasionalis dan pejuang dengan membunuh saya. Silahkan lakukan itu. Lakukan…sekarang juga,” kata Marcos.

Maria hanya bisa memeluk erat Marcos. Ia sudah pasrah meski tetap berharap maut tidak segera menjemput. Jawaban sengit dari Marcos ditanggapi dengan majunya moncong senjata ke arah Marcos. Gerakan itu ditanggapi Marcos dengan menggerakkan tubuh isterinya ke belakang dirinya. Marcos sempat berbisik, “Saat aku bilang lari. Kamu harus lari sekencang-kencangnya tanpa perlu menengok ke belakang,” kata Marcos.

Maria ingin menjawab pernyataan itu, namun belum sempat Maria menjawabnya, Marcos sudah bergerak menyerang tentara itu sambil berteriak, “Lari.”

Marcos bergelut dengan tentara itu dan seperti ada yang menggerakkan, Maria lari menjauh. Marcos sekuat tenaga menghalang-halangi tembakan yang diarahkan ke Maria dan kini peluru itu telah menembus tubuhnya. Darah terus mengalir deras, namun Marcos terus memberikan perlawanan. Dooor…dooor…dooor, peluru terus menembus tubuh Marcos. Darahnya telah mengalir ke tanah. Tentara-tentara itu terus menembaki Marcos meski lawannya sudah tak berdaya.

Maria berusaha lari sekencang-kencangnya. Dalam lari dengan diiringi hujan peluru dari arah tentara, dia terus meneteskan air mata. Ingin rasanya menengokkan kepala ke belakang, namun suara senapan seakan telah mememberikan jawaban. (Bersambung)


Perang & Gadis Ilalang (5)

Tanpa sepengetahuan Marcos, pasukan militer yang melakukan kudeta pimpinan Jenderal Pablo juga melakukan pengejaran ke padang ilalang. Pasukan itu menyisir padang yang luas setelah mengetahui banyak warga yang kabur ke padang ilalang itu. Dan tanpa Marcos sadari, api dari batang-batang ilalang yang terbakar menjadi petunjuk bagi pasukan militer.

Suasana padang ilalang masih terasa sunyi. Suara burung hantu terasa semakin keras seakan memberikan kabar duka. Pasukan militer terus bergerak mengejar warga dan orang-orang yang dianggap pendukung Presiden Ernesto. Militer itu hanya mendapat satu perintah, habisi semua orang yang ada. Setiap ada orang yang ada di depan mereka, maka hanya senjata yang berbicara. Tanpa ampun dibrondongkannya peluru ke arah warga hingga darah tak lagi tersisa.

Pergerakan mereka tidak cepat, namun juga tidak lambat. Setiap ada petunjuk yang menunjukkan adanya warga atau orang-orang, pasukan militer itu langsung memburunya. Kali ini pasukan militer melihat cahaya redup di tengah padang ilalang. Dan cahaya redup itu berasal dari batang ilalang yang dibakar Marcos.

Kolonel Ignasio yang menjadi pemimpin lapangan pengejaran memerintahkan 10 orang anak buahnya mendekati cahaya redup itu. Dan setelah mendapatkan perintah itu, 10 orang anggota militer dengan pangkat Kopral itu langsung bergerak maju menuju arah cahaya. “Woyyy… Melawan atau tidak, habisi,” teriak Kolonel Ignasio dengan senyum khasnya, senyuman seorang pembunuh.

Dengan hanya menggunakan pencahayaan lampu senter kecil, 10 orang tentara bergerak pelan dan hati-hati mendekati cahaya itu. Sepatu boot tentara menginjak batang-batang ilalang dan menimbulkan suara tak…tak…tak. Ketika cahaya sudah semakin jelas, hampir bersamaan, 10 tentara itu mengokang senjatanya masing-masing, “krak.”

Mereka kini tinggal berjarak sekitar 20 meter dengan Marcos dan Maria. Semakin dekat tentara itu, semakin jelas pula tubuh Marcos dan Maria yang terlelap tidur. Dua orang itu hanya tampak siluet. Kopral Cristian yang berada paling depan, mengangkat tangan kanannya. Sontak saja, sembilan tentara lainnya langsung berhenti. Kopral Cristian memberikan aba-aba agar sembilan lainnya bergerak memisah untuk mengepung dua orang yang terlelap tidur itu.

Dengan sangat hati-hati, tentara itu menyebar dan seperti membuat formasi sapit urang. Setelah Kopral Cristian kembali memberikan aba-aba, secara serentak, 10 orang tentara itu bergerak maju dan dua orang itu sudah ada di hadapan mata mereka.

Kedatangan tentara itu tidak disadari oleh Marcos dan Maria. Mereka benar-benar terlelap tidur. Di tengah duka lara ini, mungkin Maria dan Marcos masih mimpi indah tentang anak mereka yang akan segera lahir. Setelah benar-benar tepat berada di hadapan mereka, tentara itu hanya diam membisu sambil menodongkan senjata AK-47 ke arah Marcos dan Maria.

Kopral Cristian mencoba mengamati dengan seksama dua orang itu. Dilihatnya Marcos yang tangannya memeluk erat Maria. Dan dilihatnya juga Maria dengan perut buncitnya karena sedang mengandung. Kopral Cristian menegok ke arah 9 temannya. Sembilan tentara lainnya juga hanya bisa terdiam tanpa bergerak sedikitpun meski senjata tetap diarahkan ke Marcos dan Maria.

Moncong AK 47 yang dipegangi Kopral Cristian disentuhkan pada leher Marcos. Merasa ada benda dingin yang menyentuh lehernya, sontak Marcos memegangi lehernya dan setelah diraba-raba yang ia dapatkan adalah moncong senjata. Marcos langsung terbangun dan berdiri dan seketika itu moncong senjata di arahkan ke wajah Marcos. Marcos yang bergerak cepat menjadikan Maria juga ikut terbangun. “Jangan bergerak,” kata Kopral Cristian.

Marcos langsung menyeret Maria untuk berdiri dan hampir bersamaan mereka mengangkat kedua tangannya. Kopral Cristian memberikan aba-aba untuk menggeledah tubuh Marcos dan Maria. Dua orang tentara langsung mendekat dan menggeledah tubuh Marcos dan Maria. Marcos sempat berusaha menghalangi tentara yang menggeledah isterinya, namun usaha itu berbuah pukulan dari popor senjata ke kepala Marcos yang membuatnya tersungkur dan darah mengalir dari pelipis kanannya. Melihat suaminya menggeluarkan darah, sontak Maria menangis minta ampun. Dan tangisan Maria dijawab oleh Kopral Cristian, “Diam.” (Bersambung)


Perang & Gadis Ilalang (4)

Marcos mengamati langit yang mulai berpendar. Saat meninggalkan rumah, ia lupa membawa jam tangan. Namun, dia memperkirakan saat ini sudah jam 5 sore. Langit yang berpendar, warna kuning kemerah-merahan merupakan senja yang sempurna. Marcos membayangkan jika menikmati senja yang sempurna itu dari taman belakang rumahnya. Namun, itu semua hanya impian, pikir Marcos.

Maria masih rebahan di pundak kanannya melepas penat. Cahaya senja menembus padang ilalang yang luas. Pantulan cahaya pada batang-batang ilalang memberikan warna dan sensasi tersendiri pada negeri Revolusi yang baru dirundung duka.

Marcos membelai rambut Maria dan bibirnya mengecup halus jidat isterinya. “Sayang, sebentar lagi malam, saatnya kita meneruskan perjalanan,” kata Marcos.

Maria hanya menganggukan kepala. Mungkin ia sudah terlalu lelah dengan perjalanan ini. Belum lagi Si Kecil yang ada dalam perutnya sepertinya terus bergejolak selayaknya negera itu yang dipenuhi gejolak peperangan. Dua anak manusia yang dipadukan atas nama cinta itu berdiri dan mulai melangkahkan kaki.

Marcos menuntun Maria. Ia tahu, isterinya sudah sangat lelah. Marcos dan Maria saling membisu, tak ada kata yang ucap. Kedua-duanya menikmati senja dengan cara mereka masing-masing. Ilalang yang tinggi disibakkan untuk membuka jalan. Marcos sebenarnya tidak tahu arah kemana mereka pergi. Mereka seperti dalam sebuah labirin tanpa ujung.

Batang-batang ilalang yang disibakkan menimbulkan suara unik. “Tak..tak…tak.”

Ketika keduanya membisu, hanya ada suara tak…tak..tak dari batang ilalang yang patah. Senja yang sunyi, pikir Marcos.

Langit sudah mulai menghitam dan kelam. Marcos sadar, tanpa penerangan ia harus berhenti dari perjalanan itu. “Kita tidak membawa senter dan bulan sepertinya tidak akan bersinar malam ini. Kita cari tempat yang aman untuk istirahat saja,” ujar Marcos.

Untuk kesekian kalinya Maria tak menjawab. Marcos memakluminya. Ia sangat yakin isterinya sudah bertahan sekuat tenaga agar bisa berjalan jauh dengan kondisi mengandung tua. Marcos akhirnya menemukan tempat yang tepat untuk isirahat. Tanahnya cukup rata dan bersih. Marcos memotong batang-batang ilalang untuk alas istirahat. Maria duduk lesu tanpa gairah.

Setelah membuat alas istirahat dari batang-batang ilalang, Marcos duduk dan isterinya rebahan. Kepala Maria ada di kaki Marcos. Dibelainya rambut tipis isterinya. Maria hanya memejamkan mata seakan menikmati setiap belaian yang dirasa. “Sayang, aku lapar,” hanya itu yang diucapkan Maria.

Tangan Marcos langsung menyahut tas punggungnya. Dibukanya tas itu dan langsung mencari air mineral yang tersisa dan makanan ringan yang sempat dibawanya. “Hanya ini yang tersisa. Maafkan aku ya sayang. Aku tidak memberikan yang terbaik saat kau…,” kata Marcos.

Belum selesai Marcos menyelesaikan ucapannya, Maria sudah memegangi mulut Marcos dengan jarinya. “Tak ada yang salah dan tak ada yang patut dipersalahkan. Jangan salahkan dirimu. Aku baik-baik saja,” kata Maria sambil membuka bungkus makanan ringan yang disodorkan Marcos.

Keduanya menikmati makanan ringan itu. Tak terlalu enak dan mengenyangkan, namun apa daya, sudah sejak siang hari perut mereka belum terisi makanan, sehingga makanan ala kadarnya pun terasa nikmat jika perut benar-benar sudah merintih perih.

Kelelahan yang teramat sangat menjadikan Maria terlelap setelah menghabiskan dua bungkus makanan ringan. Marcos masih terjaga. Dibelainya rambut isterinya. Kepalanya mendongak ke atas melihat langit yang kelam. Tak ada bulan. Bintang yang ada pun redup cahayanya seakan enggan menyinari negeri itu yang baru berlumuran darah dan air mata. Bintang seakan tidak mau menjadi saksi mata atas kekejaman manusia.

Sebelum memejamkan mata, Marcos sempat mencari batang-batang ilalang kering. Dikumpulkannya batang-batang itu untuk kemudian dibakar agar menjadi penghangat malam. Asap tipis mengepul dan cahaya redup dari batang ilalang yang terbakar menyinari malam. (Bersambung)


%d blogger menyukai ini: