Perang & Gadis Ilalang (5)

Tanpa sepengetahuan Marcos, pasukan militer yang melakukan kudeta pimpinan Jenderal Pablo juga melakukan pengejaran ke padang ilalang. Pasukan itu menyisir padang yang luas setelah mengetahui banyak warga yang kabur ke padang ilalang itu. Dan tanpa Marcos sadari, api dari batang-batang ilalang yang terbakar menjadi petunjuk bagi pasukan militer.

Suasana padang ilalang masih terasa sunyi. Suara burung hantu terasa semakin keras seakan memberikan kabar duka. Pasukan militer terus bergerak mengejar warga dan orang-orang yang dianggap pendukung Presiden Ernesto. Militer itu hanya mendapat satu perintah, habisi semua orang yang ada. Setiap ada orang yang ada di depan mereka, maka hanya senjata yang berbicara. Tanpa ampun dibrondongkannya peluru ke arah warga hingga darah tak lagi tersisa.

Pergerakan mereka tidak cepat, namun juga tidak lambat. Setiap ada petunjuk yang menunjukkan adanya warga atau orang-orang, pasukan militer itu langsung memburunya. Kali ini pasukan militer melihat cahaya redup di tengah padang ilalang. Dan cahaya redup itu berasal dari batang ilalang yang dibakar Marcos.

Kolonel Ignasio yang menjadi pemimpin lapangan pengejaran memerintahkan 10 orang anak buahnya mendekati cahaya redup itu. Dan setelah mendapatkan perintah itu, 10 orang anggota militer dengan pangkat Kopral itu langsung bergerak maju menuju arah cahaya. “Woyyy… Melawan atau tidak, habisi,” teriak Kolonel Ignasio dengan senyum khasnya, senyuman seorang pembunuh.

Dengan hanya menggunakan pencahayaan lampu senter kecil, 10 orang tentara bergerak pelan dan hati-hati mendekati cahaya itu. Sepatu boot tentara menginjak batang-batang ilalang dan menimbulkan suara tak…tak…tak. Ketika cahaya sudah semakin jelas, hampir bersamaan, 10 tentara itu mengokang senjatanya masing-masing, “krak.”

Mereka kini tinggal berjarak sekitar 20 meter dengan Marcos dan Maria. Semakin dekat tentara itu, semakin jelas pula tubuh Marcos dan Maria yang terlelap tidur. Dua orang itu hanya tampak siluet. Kopral Cristian yang berada paling depan, mengangkat tangan kanannya. Sontak saja, sembilan tentara lainnya langsung berhenti. Kopral Cristian memberikan aba-aba agar sembilan lainnya bergerak memisah untuk mengepung dua orang yang terlelap tidur itu.

Dengan sangat hati-hati, tentara itu menyebar dan seperti membuat formasi sapit urang. Setelah Kopral Cristian kembali memberikan aba-aba, secara serentak, 10 orang tentara itu bergerak maju dan dua orang itu sudah ada di hadapan mata mereka.

Kedatangan tentara itu tidak disadari oleh Marcos dan Maria. Mereka benar-benar terlelap tidur. Di tengah duka lara ini, mungkin Maria dan Marcos masih mimpi indah tentang anak mereka yang akan segera lahir. Setelah benar-benar tepat berada di hadapan mereka, tentara itu hanya diam membisu sambil menodongkan senjata AK-47 ke arah Marcos dan Maria.

Kopral Cristian mencoba mengamati dengan seksama dua orang itu. Dilihatnya Marcos yang tangannya memeluk erat Maria. Dan dilihatnya juga Maria dengan perut buncitnya karena sedang mengandung. Kopral Cristian menegok ke arah 9 temannya. Sembilan tentara lainnya juga hanya bisa terdiam tanpa bergerak sedikitpun meski senjata tetap diarahkan ke Marcos dan Maria.

Moncong AK 47 yang dipegangi Kopral Cristian disentuhkan pada leher Marcos. Merasa ada benda dingin yang menyentuh lehernya, sontak Marcos memegangi lehernya dan setelah diraba-raba yang ia dapatkan adalah moncong senjata. Marcos langsung terbangun dan berdiri dan seketika itu moncong senjata di arahkan ke wajah Marcos. Marcos yang bergerak cepat menjadikan Maria juga ikut terbangun. “Jangan bergerak,” kata Kopral Cristian.

Marcos langsung menyeret Maria untuk berdiri dan hampir bersamaan mereka mengangkat kedua tangannya. Kopral Cristian memberikan aba-aba untuk menggeledah tubuh Marcos dan Maria. Dua orang tentara langsung mendekat dan menggeledah tubuh Marcos dan Maria. Marcos sempat berusaha menghalangi tentara yang menggeledah isterinya, namun usaha itu berbuah pukulan dari popor senjata ke kepala Marcos yang membuatnya tersungkur dan darah mengalir dari pelipis kanannya. Melihat suaminya menggeluarkan darah, sontak Maria menangis minta ampun. Dan tangisan Maria dijawab oleh Kopral Cristian, “Diam.” (Bersambung)

About angscript

Aku hanyalah jurnalis kecil yang bekerja di media kecil di sebuah kota kecil dan menghadapi masalah-masalah kecil dan orang-orang kecil. Tulisan ini hanyalah tentang hal-hal kecil agar aku bisa belajar berkata-kata, saat kata belum terbungkam dan kata masih bisa menjadi senjata. Jangan dianggap serius!!! Lihat semua pos milik angscript

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: