Perang & Gadis Ilalang (6)

Dengan susah payah, Maria membantu Marcos kembali berdiri. Di usapkan tangannya ke arah pelipis kanan suaminya yang terus mengucurkan darah. “Sudah tak apa-apa,” kata Marcos.

“Sudah…sudah. Siapa kalian. Aku yakin kalian pasti warga Distrik Huvana. Distrik berkumpulnya orang-orang pendukung Presiden Ernesto,” tanya Kopral Cristian.

Pertanyaan itu tidak dijawa oleh Marcos dan Maria. Lidah mereka kelu melihat 10 moncong senjata di hadapan mereka. Marcos tak berkata-kata dan Maria hanya menangis pelan sendu sambil memeluk suaminya. “Hey, jawab. Bisu kalian,” kata Kopral Cristian dengan nada tinggi sambil mengajukan moncong senjatanya ke wajah Marcos.

“Kami bukan siapa-siapa. Kami hanya warga biasa yang tak tahu politik,” jawab Marcos pelan.

“Tai, kamu. Kalian orang Huvana selama ini getol meminta pecabutan Dwifungsi tentara agar kami tidak bisa ikutan politik dan kalianlah pendukung presiden yang sok demokratis itu,” jawab Kopral Cristian.

Pernyataan itu tidak ditanggapi Marcos. Dia malah semakin mengikatkan tangannya ke pinggang isterinya dan siap menghadapi maut yang mungkin sebentar lagi tiba. “Kenapa kamu diam. Tak bisa menyangkal ya. Dasar tai, kamu,” kata Kopral Cristian sambil menendang Marcos.

Tendangan itu membuat Marcos tersungkur. Dengan susah payah ia kembali berdiri. “Dasar penghianat tak tau diuntung. Kalian hanya bicara demokrasi, tanpa tahu arti perjuangan. Kalian hanya bicara hak asasi manusia, tanpa tahu berapa banyak tentara yang mati di medan perang. Kalian hanya bicara kebebasan, tanpa pernah tahu nasionalisme,” kata Kopral Cristian seperti memberikan ceramah.

Marcos tetap tidak menjawab pertanyaan itu. Di pandanginya satu tersatu wajah tentara itu. Mulai dari Kopral Cristian. Marcos kemudian mengerahkan kepalanya ke wajah tentara lainnya. Dari nama yang terpampang dari seragam doreng yang dikenakannya Marcos tahu nama-nama 10 orang itu. Mulai Cristian, Alfredo, Juan Carlos, Ayala, Fabiano, Hector, Hernandez, Marquez, Guterez dan Aimar.

“Apa kamu lihat-lihat, menantang kamu,” kata Kopral Hector sambil menempelkan moncong AK 47 ke jidat Marcos.

Perlakuan tentara itu membuat Maria semaki ketakutan. Namun, tidak bagi Marcos. Seakan ada kekuatan baru dari dalam tubuhnya setelah ia dikata-katai tidak mengenal nasionalisme, tak tahu arti perjuangan. “Saya tidak menantang, tapi paling tidak saya bisa tahu nama-nama kalian yang akan membunuh saya,” kata Marcos sengit.

Jawaban dari Marcos tidak diduga oleh tentara-tentara itu. “Memang ingin mati kalian. Kalau itu keinginanmu, akan kami turuti,” kata Kopral Fabiano.

“Ya, kalau kalian memang merasa bisa menjadi seorang nasionalis dan pejuang dengan membunuh saya. Silahkan lakukan itu. Lakukan…sekarang juga,” kata Marcos.

Maria hanya bisa memeluk erat Marcos. Ia sudah pasrah meski tetap berharap maut tidak segera menjemput. Jawaban sengit dari Marcos ditanggapi dengan majunya moncong senjata ke arah Marcos. Gerakan itu ditanggapi Marcos dengan menggerakkan tubuh isterinya ke belakang dirinya. Marcos sempat berbisik, “Saat aku bilang lari. Kamu harus lari sekencang-kencangnya tanpa perlu menengok ke belakang,” kata Marcos.

Maria ingin menjawab pernyataan itu, namun belum sempat Maria menjawabnya, Marcos sudah bergerak menyerang tentara itu sambil berteriak, “Lari.”

Marcos bergelut dengan tentara itu dan seperti ada yang menggerakkan, Maria lari menjauh. Marcos sekuat tenaga menghalang-halangi tembakan yang diarahkan ke Maria dan kini peluru itu telah menembus tubuhnya. Darah terus mengalir deras, namun Marcos terus memberikan perlawanan. Dooor…dooor…dooor, peluru terus menembus tubuh Marcos. Darahnya telah mengalir ke tanah. Tentara-tentara itu terus menembaki Marcos meski lawannya sudah tak berdaya.

Maria berusaha lari sekencang-kencangnya. Dalam lari dengan diiringi hujan peluru dari arah tentara, dia terus meneteskan air mata. Ingin rasanya menengokkan kepala ke belakang, namun suara senapan seakan telah mememberikan jawaban. (Bersambung)

About angscript

Aku hanyalah jurnalis kecil yang bekerja di media kecil di sebuah kota kecil dan menghadapi masalah-masalah kecil dan orang-orang kecil. Tulisan ini hanyalah tentang hal-hal kecil agar aku bisa belajar berkata-kata, saat kata belum terbungkam dan kata masih bisa menjadi senjata. Jangan dianggap serius!!! Lihat semua pos milik angscript

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: