Monthly Archives: Januari 2009

Logika & Rasa

Hujan petang tadi menyisakan tetes-tetes air di ujung genteng depan rumahku. Butir-butir air itu jatuh ke tanah yang sudah basah. Kemanakah air itu akan mengakhiri perjalanan. Ditelan bumikah? Atau malah larut dalam air got yang baunya menyengat hidung?

Angin malam membelai daun-daun pohon yang masih basah. Daun bergoyang seperti mengikuti nada-nada simphoni malam. Satu, dua, daun berguguran, bukan sebagai pertanda musim semi tiba, namun daun itu terlalu ringkih dan tua. Kemanakah daun tua itu akan berakhir. Melapuk dan tertelan bumi? Atau hilang tersapu oleh petugas kebersihan sudah siap bekerja ketika fajar tiba?

Suasana seperti ini terlalu sentimentil untuk dirasakan. Butir-butir air hujan, angin malam dan daun yang berguguran membawaku dalam dunia sentimentil yang teramat sangat. Aku terlalu sentimentil merasakan itu semua. Merasakan segala sesuatu dengan rasa sehingga aku hidup dalam labirin sentimentil.

Apakah sentimentil itu bisa membunuh logika yang ada. Aku tak tau pasti karena perbedaan antara logika dan rasa juga tak ku ketahui secara pasti batasannya. Apakah rasa lebih berkuasa atas logika atau logika adalah raja atas rasa. Kehidupan ini sepertinya cukup melelahkan sehingga aku lupa bertanya apakah aku berjalan atas nama logika atau rasa.

Dimanakah sebenarnya logika dan rasa itu berada? Apakah logika itu berada di dalam relung rasa yang paling dalam? Apakah rasa itu berada di dalam sistem logika yang kadang begitu rumit dicerna? Aku tak tau pasti. Sepertinya aku berjalan di padang pasir yang bernama logika dan rasa.


Catatan Perjalanan dari Selo

Jari-jari kakiku terasa sedikit ngilu karena kaus kaki tipisku tak mampu menahan dinginnya hawa pegunungan. Pagi ini, pagi pertama di tahun 2009, telah kubulatkan tekat untuk mencoba melangkahkan kaki meski sinar matahari belum juga berhasil menembus tebalnya kabut.

Keduanya tanganku aku masukkan ke dalam saku celana. Tanpa sarung tangan, saku celana mungkin satu-satunya perlindungan bagi tangan yang kedinginan. Sebenarnya seluruh tubuhku juga kedinginan. Aku hanya menggunakan kaus oblong dirangkapi hem flannel tanpa jaket.

Pintu bungalow tempat aku menginap aku tutup rapat. Segera saja, kulangkahkan kaki menuju jalan beraspal yang tepat berada di samping penginapan yang disewa dengan harga sangat murah meriah. Aku dan enam kawanku hanya membayar Rp 76.000 untuk menginap satu malam. Harga sewa penginapan di Selo, Boyolali yang terletak di antara gunung Merapi dan Merbabu relatif lebih murah jika dibandingkan dengan tarif penginapan di daerah Tawangmangu, Karanganyar ataupun Kaliurang, Jogjakarta.

Kuamati jalan menanjak tepat berada di depanku. Namun, jarak pandangku tak lebih dari 10 meter. Kepekatan kabut membuat jarak pandangku terbatas. Rasa penasaran tiba-tiba muncul. Aku ingin mengetahui ada apa di balik kabut tebal itu. Kakiku melangkah pelan. Selain karena aku kedingian, namun juga karena jalan menanjak yang mengharuskan aku mengatur tenaga agar tidak mudah lelah.

Bayangan warna hitam berbetuk rumah mulai terlihat di kanan kiri jalan. Berjalan di tengah perkampungan yang berada di daerah pegunungan memberikan warna lain dalam perjalanan karena tidak hanya tidak hanya rumah-rumah warga yang terlihat, namun di sekitar rumah juga terdapat kebun sayuran. Sebagian besar rumah yang ada terlihat masih terbuat dari gedhek, namun sebagian memang sudah ada rumah gedongan.

Begitu aku sampai di dekat rumah paling ujung, jalan yang tadinya beraspal kini telah berganti menjadi jalan yang terbuat dari cor-coran semen. Kabut memang masih menyelimuti kawasan Selo, namun tidak setebal saat aku mulai berjalan. Di kanan kiriku kini terhampar kebun-kebun sayuran. Beberapa petani terlihat sedang menggarap kebun mereka. Beberapa kali aku juga sempat berpapasan dengan sejumlah warga. Ada yang membawa rumput yang kemungkinan besar untuk pakan sapi. Beberapa orang membawa sabit menuju kebun mereka.

Kabut yang mulai berkurang juga menjadikan pandanganku lebih luas. Bukit-bukit yang menjulang mulai terlihat jelas. Sebagian besar bukit yang ada telah dimanfaatkan oleh warga untuk lahan pertanian, terutama sayuran. Lahan-lahan pertanian yang ada di bukit membentuk motif-motif berbagai rupa sehingga sangat indah jika dilihat.

Rasa letih mulai terasa di sekujur tubuhku. Aku memang belum berjalan terlalu jauh, kemungkinan baru sekitar satu kilometer. Saat jalan datar aku mencoba menghimpun tenaga untuk melanjutkan perjalanan. Kawanku sempat menghubungi dan mengabarkan jika enam kawanku yang berada di bawah hendak sarapan pagi. Sudah aku putuskan untuk telat bergabung dan memilih untuk melanjukan perjalanan.

Jalan yang aku lewati lebih banyak menanjak hanya ada beberapa jalan datar yang aku istilahkan sebagai bonus. Bonus untuk menghimpun tenaga lagi. Jalan kecil itu seperti membelah bukit karena di kanan dan kirinya hanya ada bukit dan bukit. Dan aku sangat yakin jika dibalik bukit itu terdapat bukit-bukit lainnya. Beberapa petani yang sedang bercocok tanam di bukit-bukit itu terlihat kecil.

Setelah berjalan cukup jauh, aku putuskan untuk keluar dari jalan utama. Aku menuju jalan setapak yang biasa dilalui petani. Aku menuju salah satu bukit yang tidak jauh dari tempatku berada. Jalan setapak itu cukup licin setelah semalaman hujan terus menguyur kawasan Selo. Ketika tiba di puncak bukit seperti ada kenikmatan tersendiri yang aku rasakan. Pemandangan yang ada juga lebih luas. Kabut semakin tipis sehingga dari puncak bukit itu, aku bisa melihat gunung Merapi dengan cukup jelas. Bisa melihat kota-kota yang ada di bawah, entah itu Boyolali ataupun Solo.

Rasa letih sepertinya langsung hilang ketika alam memberikan keindahan. Apalagi, matahari mulai bisa menembus kabut sehingga rasa hangat langsung terasa. Setelah puas melihat pemandangan, aku melakukan sebuah “ritual suci” yang sudah lama tidak aku lakukan. Di atas bukit itu, aku memejamkan mata dan pikiran dikonsentrasikan atas berbagai kejadian yang beberapa waktu lalu telah terjadi padaku dan baru kemudian dalam hati mengucapkan sebuah make a wish. Ritual itu dulu biasa aku lakukan saat berada di puncak gunung dan sudah lebih dari 3 tahun aku tidak melakukan pendakian gunung. Begitu “ritual suci” selesai, aku kembali turun, kawan-kawanku sudah menunggu untuk sarapan pagi.


Bidadari & Bunga di Telinga Kanannya

Dalam gelapnya malam, bidadari itu seperti turun dari langit. Seperti kilat yang muncul begitu tiba-tiba kala hujan, bidadari itu tiba-tiba hadir di tengah nyanyian jangkrik malam. Bintang dan bulan yang tadinya malu-malu menampakkan diri, kini perlahan mulai memancarkan cahayanya begitu bidadari itu menapakkan kakinya di bumi. Dalam temaram lampu petromaks, bidadari itu berjalan pelan menuju arahku.

Bidadari itu tampak siluet karena seperti ada cahaya di belakangnya yang sengaja dipancarkan untuk menembus kabut tebal. Langkah kakinya tampak anggun. Seperti pakaian adat Jawa, selendang yang melingkar di kedua pundaknya berkelebatan terkena angin pegunungan yang berhembus agak kencang.

Aku terpaku dalam diam, seperti menunggu bidadari itu menghampiriku. Seperti ada nuansa lain yang muncul, entah itu magis entah itu malah romantis. Aku sedikit berkeringat karena gugup, meski hawa dingin pegunungan seperti menusuk-nusuk hingga tulang.

Bidadari itu terus mendekat. Jarak kami kini tak lebih dari 10 meter. Aku masih saja belum bisa melihat secara jelas wajahnya. Yang aku lihat hanya bentuk tubuhnya, pakaian kebesarannya dan suara langkah kaki yang kini semakin jelas. Aku hanya menunggu dan menunggu.

Lampu petromaks yang ada di dekatku tiba-tiba meredup dan akhirnya padam. Cahaya terang yang ada di belakang bidadari itu begitu menyilaukan mata hingga aku tak kuasa lagi untuk memejamkan mata. Hanya kegelapan yang ada ketika mataku tertutup rapat. Suara nyanyian jangkrik tak lagi terdengar. Aku merasakan adanya kesunyian yang sebenar-benarnya sunyi.

Kuberanikan diri untuk kembali membuka mata dan bidadari itu telah ada di depanku. Cahaya terang yang menyilaukan mata hilang entah kemana. Bisa ku lihat secara jelas wajah bidadari itu. Wajah yang mencerminkan keanggunan seorang perempuan. Kecantikan sempurna yang memberikan keteduhan bagi siapa saja yang melihatnya.

Pakaian yang dikenakannya begitu serasi dengan tubuh dan wajahnya. Seperti ada mahkota yang melingkar di kepalanya. Dan ada bunga yang terselip di daun telinga kanannya. Bunga yang sangat indah karena mekar dengan sempurna. Begitu indahnya bunga itu hingga aku bisa melihat tekstur dan detail bunga yang seakan menghembuskan wewangian di sekitarnya.

Mata beningnya menatap lurus ke arahku. Senyuman dari bibir indahnya mengembang. Begitu terpukaunya aku hingga aku membatu, tak ku balas juga senyuman itu. Tangan kanannya mengambil bunga yang terselip di daun telinganya. Entah apa maksudnya, dia mencoba membaui bunga yang dipegangannya. Kepalanya tertunduk seperti menikmati wewangian bunga itu.

Senyuman kedua kembali meluncur begitu bidadari itu selesai membaui bunga itu. Diulurkan tangan yang memegang bunga itu ke arahku. Seperti memberikan sandi, bidadari itu menganggukkan kepala. Kulit tangannya terasa begitu lembut ketika tanpa sengaja aku menyentuhnya saat menerima bunga itu.

Tak tahu atas dasar apa, aku tiba-tiba mendekatkan bunga itu ke hidungku. Aku tiba-tiba ingin membaui bunga itu. Begitu wanginya bunga itu hingga aku memejamkan mata saat membauinya. Satu, dua, tiga menit telah berlalu dan aku kembali membuka mata. Bidadari itu tak lagi berada di hadapanku. Aku mencoba melihat ke arah langit dan berhadap menemukannya lagi. Bukan bidadari yang kutemukan, namun butir-butir air yang jatuh dari langit yang datang sebagai pertanda hujan akan segera tiba.


%d blogger menyukai ini: