Bidadari & Bunga di Telinga Kanannya

Dalam gelapnya malam, bidadari itu seperti turun dari langit. Seperti kilat yang muncul begitu tiba-tiba kala hujan, bidadari itu tiba-tiba hadir di tengah nyanyian jangkrik malam. Bintang dan bulan yang tadinya malu-malu menampakkan diri, kini perlahan mulai memancarkan cahayanya begitu bidadari itu menapakkan kakinya di bumi. Dalam temaram lampu petromaks, bidadari itu berjalan pelan menuju arahku.

Bidadari itu tampak siluet karena seperti ada cahaya di belakangnya yang sengaja dipancarkan untuk menembus kabut tebal. Langkah kakinya tampak anggun. Seperti pakaian adat Jawa, selendang yang melingkar di kedua pundaknya berkelebatan terkena angin pegunungan yang berhembus agak kencang.

Aku terpaku dalam diam, seperti menunggu bidadari itu menghampiriku. Seperti ada nuansa lain yang muncul, entah itu magis entah itu malah romantis. Aku sedikit berkeringat karena gugup, meski hawa dingin pegunungan seperti menusuk-nusuk hingga tulang.

Bidadari itu terus mendekat. Jarak kami kini tak lebih dari 10 meter. Aku masih saja belum bisa melihat secara jelas wajahnya. Yang aku lihat hanya bentuk tubuhnya, pakaian kebesarannya dan suara langkah kaki yang kini semakin jelas. Aku hanya menunggu dan menunggu.

Lampu petromaks yang ada di dekatku tiba-tiba meredup dan akhirnya padam. Cahaya terang yang ada di belakang bidadari itu begitu menyilaukan mata hingga aku tak kuasa lagi untuk memejamkan mata. Hanya kegelapan yang ada ketika mataku tertutup rapat. Suara nyanyian jangkrik tak lagi terdengar. Aku merasakan adanya kesunyian yang sebenar-benarnya sunyi.

Kuberanikan diri untuk kembali membuka mata dan bidadari itu telah ada di depanku. Cahaya terang yang menyilaukan mata hilang entah kemana. Bisa ku lihat secara jelas wajah bidadari itu. Wajah yang mencerminkan keanggunan seorang perempuan. Kecantikan sempurna yang memberikan keteduhan bagi siapa saja yang melihatnya.

Pakaian yang dikenakannya begitu serasi dengan tubuh dan wajahnya. Seperti ada mahkota yang melingkar di kepalanya. Dan ada bunga yang terselip di daun telinga kanannya. Bunga yang sangat indah karena mekar dengan sempurna. Begitu indahnya bunga itu hingga aku bisa melihat tekstur dan detail bunga yang seakan menghembuskan wewangian di sekitarnya.

Mata beningnya menatap lurus ke arahku. Senyuman dari bibir indahnya mengembang. Begitu terpukaunya aku hingga aku membatu, tak ku balas juga senyuman itu. Tangan kanannya mengambil bunga yang terselip di daun telinganya. Entah apa maksudnya, dia mencoba membaui bunga yang dipegangannya. Kepalanya tertunduk seperti menikmati wewangian bunga itu.

Senyuman kedua kembali meluncur begitu bidadari itu selesai membaui bunga itu. Diulurkan tangan yang memegang bunga itu ke arahku. Seperti memberikan sandi, bidadari itu menganggukkan kepala. Kulit tangannya terasa begitu lembut ketika tanpa sengaja aku menyentuhnya saat menerima bunga itu.

Tak tahu atas dasar apa, aku tiba-tiba mendekatkan bunga itu ke hidungku. Aku tiba-tiba ingin membaui bunga itu. Begitu wanginya bunga itu hingga aku memejamkan mata saat membauinya. Satu, dua, tiga menit telah berlalu dan aku kembali membuka mata. Bidadari itu tak lagi berada di hadapanku. Aku mencoba melihat ke arah langit dan berhadap menemukannya lagi. Bukan bidadari yang kutemukan, namun butir-butir air yang jatuh dari langit yang datang sebagai pertanda hujan akan segera tiba.

About angscript

Aku hanyalah jurnalis kecil yang bekerja di media kecil di sebuah kota kecil dan menghadapi masalah-masalah kecil dan orang-orang kecil. Tulisan ini hanyalah tentang hal-hal kecil agar aku bisa belajar berkata-kata, saat kata belum terbungkam dan kata masih bisa menjadi senjata. Jangan dianggap serius!!! Lihat semua pos milik angscript

2 responses to “Bidadari & Bunga di Telinga Kanannya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: