Catatan Perjalanan dari Selo

Jari-jari kakiku terasa sedikit ngilu karena kaus kaki tipisku tak mampu menahan dinginnya hawa pegunungan. Pagi ini, pagi pertama di tahun 2009, telah kubulatkan tekat untuk mencoba melangkahkan kaki meski sinar matahari belum juga berhasil menembus tebalnya kabut.

Keduanya tanganku aku masukkan ke dalam saku celana. Tanpa sarung tangan, saku celana mungkin satu-satunya perlindungan bagi tangan yang kedinginan. Sebenarnya seluruh tubuhku juga kedinginan. Aku hanya menggunakan kaus oblong dirangkapi hem flannel tanpa jaket.

Pintu bungalow tempat aku menginap aku tutup rapat. Segera saja, kulangkahkan kaki menuju jalan beraspal yang tepat berada di samping penginapan yang disewa dengan harga sangat murah meriah. Aku dan enam kawanku hanya membayar Rp 76.000 untuk menginap satu malam. Harga sewa penginapan di Selo, Boyolali yang terletak di antara gunung Merapi dan Merbabu relatif lebih murah jika dibandingkan dengan tarif penginapan di daerah Tawangmangu, Karanganyar ataupun Kaliurang, Jogjakarta.

Kuamati jalan menanjak tepat berada di depanku. Namun, jarak pandangku tak lebih dari 10 meter. Kepekatan kabut membuat jarak pandangku terbatas. Rasa penasaran tiba-tiba muncul. Aku ingin mengetahui ada apa di balik kabut tebal itu. Kakiku melangkah pelan. Selain karena aku kedingian, namun juga karena jalan menanjak yang mengharuskan aku mengatur tenaga agar tidak mudah lelah.

Bayangan warna hitam berbetuk rumah mulai terlihat di kanan kiri jalan. Berjalan di tengah perkampungan yang berada di daerah pegunungan memberikan warna lain dalam perjalanan karena tidak hanya tidak hanya rumah-rumah warga yang terlihat, namun di sekitar rumah juga terdapat kebun sayuran. Sebagian besar rumah yang ada terlihat masih terbuat dari gedhek, namun sebagian memang sudah ada rumah gedongan.

Begitu aku sampai di dekat rumah paling ujung, jalan yang tadinya beraspal kini telah berganti menjadi jalan yang terbuat dari cor-coran semen. Kabut memang masih menyelimuti kawasan Selo, namun tidak setebal saat aku mulai berjalan. Di kanan kiriku kini terhampar kebun-kebun sayuran. Beberapa petani terlihat sedang menggarap kebun mereka. Beberapa kali aku juga sempat berpapasan dengan sejumlah warga. Ada yang membawa rumput yang kemungkinan besar untuk pakan sapi. Beberapa orang membawa sabit menuju kebun mereka.

Kabut yang mulai berkurang juga menjadikan pandanganku lebih luas. Bukit-bukit yang menjulang mulai terlihat jelas. Sebagian besar bukit yang ada telah dimanfaatkan oleh warga untuk lahan pertanian, terutama sayuran. Lahan-lahan pertanian yang ada di bukit membentuk motif-motif berbagai rupa sehingga sangat indah jika dilihat.

Rasa letih mulai terasa di sekujur tubuhku. Aku memang belum berjalan terlalu jauh, kemungkinan baru sekitar satu kilometer. Saat jalan datar aku mencoba menghimpun tenaga untuk melanjutkan perjalanan. Kawanku sempat menghubungi dan mengabarkan jika enam kawanku yang berada di bawah hendak sarapan pagi. Sudah aku putuskan untuk telat bergabung dan memilih untuk melanjukan perjalanan.

Jalan yang aku lewati lebih banyak menanjak hanya ada beberapa jalan datar yang aku istilahkan sebagai bonus. Bonus untuk menghimpun tenaga lagi. Jalan kecil itu seperti membelah bukit karena di kanan dan kirinya hanya ada bukit dan bukit. Dan aku sangat yakin jika dibalik bukit itu terdapat bukit-bukit lainnya. Beberapa petani yang sedang bercocok tanam di bukit-bukit itu terlihat kecil.

Setelah berjalan cukup jauh, aku putuskan untuk keluar dari jalan utama. Aku menuju jalan setapak yang biasa dilalui petani. Aku menuju salah satu bukit yang tidak jauh dari tempatku berada. Jalan setapak itu cukup licin setelah semalaman hujan terus menguyur kawasan Selo. Ketika tiba di puncak bukit seperti ada kenikmatan tersendiri yang aku rasakan. Pemandangan yang ada juga lebih luas. Kabut semakin tipis sehingga dari puncak bukit itu, aku bisa melihat gunung Merapi dengan cukup jelas. Bisa melihat kota-kota yang ada di bawah, entah itu Boyolali ataupun Solo.

Rasa letih sepertinya langsung hilang ketika alam memberikan keindahan. Apalagi, matahari mulai bisa menembus kabut sehingga rasa hangat langsung terasa. Setelah puas melihat pemandangan, aku melakukan sebuah “ritual suci” yang sudah lama tidak aku lakukan. Di atas bukit itu, aku memejamkan mata dan pikiran dikonsentrasikan atas berbagai kejadian yang beberapa waktu lalu telah terjadi padaku dan baru kemudian dalam hati mengucapkan sebuah make a wish. Ritual itu dulu biasa aku lakukan saat berada di puncak gunung dan sudah lebih dari 3 tahun aku tidak melakukan pendakian gunung. Begitu “ritual suci” selesai, aku kembali turun, kawan-kawanku sudah menunggu untuk sarapan pagi.

About angscript

Aku hanyalah jurnalis kecil yang bekerja di media kecil di sebuah kota kecil dan menghadapi masalah-masalah kecil dan orang-orang kecil. Tulisan ini hanyalah tentang hal-hal kecil agar aku bisa belajar berkata-kata, saat kata belum terbungkam dan kata masih bisa menjadi senjata. Jangan dianggap serius!!! Lihat semua pos milik angscript

2 responses to “Catatan Perjalanan dari Selo

  • ananti

    sudah dibilang… ayo sama2 menembus rasa penasaran di balik bukit yang masih tertutup kabut,, ya to… tapi anda menelikung saya (hahahha bahasane mas aan banget) ternyata.. saat saya sedang liputan anda telah menjajaki tempat tersebut… dan hanya bilang, dina disana banyak foto lepas??? maksud gimana maksud… itu berita yang soloraya ingin tahu keindahan apa diujung bukit itu,,,
    make a wish… di ujung selo,, bisa kembali lagi ke tempat itu… dan tidak untuk meliput suasana tahun baru… hehhee

  • oelil (liliek)

    Wah dadi pengen ke Selo lagi nih.. kangen ma suasananya…sejuknya..maasyarakatnya yang ramah.
    Selo memang indah mas..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: