Monthly Archives: Februari 2009

Balada PHK

Dua polisi yang mengapit tubuh Har, menjadikannya tidak bisa bergerak dengan leluasa. Mobil polisi dengan suara sirine meraung-raung melaju kencang menuju kantor kepolisian. Kedua tangannya dipegang erat oleh kedua polisi itu.

Bercak darah masih terlihat membekas di pakaian perawat bagian ICU itu. Kedua tangannya pun masih penuh cipratan darah yang mulai mengering. Ini bukan darah pasien yang masuk ICU. Bukan pula darah korban kecelakaan yang ditangani Har. Namun darah itu adalah darah lima orang yang menjadi sasaran Har untuk menumpahkan segala kekalutan hatinya. Darah yang keluar dari mereka yang akan mengetokkan palu “kematian” pemecatan Har dari sebuah rumah sakit.

Mobil warna coklat tua itu tiba-tiba direm mendadak. Dengan cekatan, anggota polisi itu membuka pintu mobil dan langsung membawa Har keluar menuju sebuah bangunan yang di bagian atasnya tertulis “Satuan Reskrim”. Tangan kanan anggota polisi itu memegang erat leher Har, seperti memiting dan Har hanya bisa tertunduk sambil mengikuti jalannya polisi itu.

Lampu blitz dari kamera para jurnalis terus mengarah ke wajah Har. Mungkin karena malu, dengan segala upaya, Har mencoba menutupi wajahnya. Pintu sebuah ruangan langsung dibuka dan Har dibawa ke dalamnya. “Jangan difoto…jangan difoto,” ujar Har beberapa kali.

Namun, perkataan Har tersebut seakan tertelan oleh kesibukan yang tiba-tiba menyeruak di ruangan yang namanya cukup menyeramkan. Ruang Unit Kejahatan Dengan Kekerasan (Jatanras). Kepalanya terus tertunduk mencoba menghindar dari jepretan kamera yang terus menghujam ke arahnya. Bagi jurnalis mungkin ini adalah adegan yang paling menarik, sebuah borgol telah disiapkan dan dengan begitu cepatnya borgol itu telah melekat di kedua tangannya, secepat rana lensa kamera mengabadikan momen itu dengan foreground sebuah parang yang masih penuh darah.

***

Surat dengan amplop warna coklat itu masih dipandanginya terus. Seakan ada kebimbangan, Har berkali-kali membaca tulisan dalam surat itu untuk sekedar memastikan kalimat demi kalimat dalam surat itu. Kalimat yang begitu menghujam perasaannya adalah kalimat “meminta Saudara Har untuk datang ke Bagian Personalia jam 12.30 WIB.”

Bagi Har, surat panggilan itu seperti surat pengantar menuju “jurang kematian”. Surat yang mengabarkan sebuah dukalara seorang perawat yang telah mengabdi selama 14 tahun di rumah sakit. Skorsing selama 1 bulan telah dijalaninya dan kini surat panggilan itu akan memberikan jawaban atas sebuah pertanyaan tentang masa depannya di rumah sakit swasta itu.

Keputusan skorsing dari manajemen rumah sakit yang diterimanya bulan lalu kembali muncul dalam memori otaknya. Skorsing itu datang hanya beberapa hari setelah ada laporan jika bapak dua anak ini melakukan pelecehan seksual terhadap seorang mahasiswi yang sedang magang di rumah sakit itu.

Hatinya kalut ketika menerima keputusan skorsing itu meski Har juga tahu jika perbuatan asusilanya memang salah dan merupaka kategori pelanggaran berat. Hari-hari skorsing dihabiskan dengan merenung. Selain itu, Har juga beberapa kali mendatangi rumah para petinggi rumah sakit tersebut untuk meminta maaf dan memohon “pengampunan dosa”.

Rasa takut akan adanya PHK begitu terasa pada diri Har. Bukan saja soal tidak adanya tanggapan positif dari para petinggi rumah sakit itu, namun gaji yang diterima hanya 50% dari biasanya sejak skorsing juga menjadikannya semakin kalut.

Apalagi anak pertamanya masuk rumah sakit setelah menderita demam berdarah dan anak keduanya yang baru berumur 10 bulan masih membutuhkan susu yang harganya terus meroket. Memang isterinya juga bekerja. Namun, perhitungan matematika tidak masuk logika sehingga Har begitu khawatir ekonomi keluarganya bakal carut marut.

***

Sebelum berangkat ke rumah sakit memenuhi panggilan dari manajemen, Har sempat menyalami isterinya. “Yang sabar ya mas. Apapun hasilnya nanti, pasti Tuhan memberikan hal yang terbaik untuk kita,” pesan isterinya.

Bayang-bayang menjadi pengangguran terus menggelayuti pikiran. Usianya tak lagi muda, sudah 39 tahun dan Har tahu betul, dengan usianya itu, dirinya tidak akan mudah mencari pekerjaan baru. Jangankan pekerjaan baru, dari berita-berita di koran dan televisi, Har mendengar jika ribuan pekerja di negeri ini terancam kena PHK.

Sepeda motor yang dibeli secara kredit telah distater. Har sudah siap berangkat. Ada kebimbangan yang begitu besar dalam diri Har. Ketakutan akan PHK, kekhawatiran akan nasib anak dan isterinya dan bayang-bayang kesuraman masa depannya.

Roda sepeda motor itu mulai berputar pelan. Namun, hanya beberapa meter motor itu berjalan, Har langsung menghentikannya. Har langsung turun dari motornya dan kembali ke rumah. Dengan ayunan langkah kaki yang cepat, Har menuju dapur. Sebuah parang yang sudah mulai berkarat diambilnya dan dimasukkannya ke dalam tas. Dengan kemantapan hati, Har kembali menaiki sepeda motornya menuju rumah sakit tempatnya bekerja. Kali ini Har sudah mengambil keputusan. Dirinya akan menjadi “hakim” atas kebenaran yang diyakininya sebelum pimpinannya menjadi “hakim” yang akan mengetokkan palu vonis PHK terhadapnya.

Iklan

Untuk Sebuah Kesalahan

Wajah Nova Zaenal dan Bernard Mamadou terlihat bersinar-sinar. Jelas wajah itu bertolak belakang beberapa hari sebelumnya. Wajah pasi, muram penuh kepasrahan ketika ruang tahanan menanti dua pemain sepakbola itu.

Pakaian batik dengan motif warna coklat menjadi saksi bisu hari pembebasan mereka. Setelah sempat bersalaman dengan Kapolda Jateng Irjen Pol Alex Bambang Riatmodjo yang secara resmi mengabulkan penangguhan penahanan pemain Persis dan Gresik United tersebut, udara kebebasan yang tertenggut selama satu pekan terakhir kembali mereka dapatkan.

Kamis pekan lalu bisa jadi menjadi hari yang akan terus mereka kenang. Setelah kericuhan di lapangan, polisi yang dipimpin langsung Kapolda akhirnya menangkap dan menahan mereka atas sebuah kesalahan “adu jotos” di lapangan.

Setelah bersalaman, Nova langsung mengucapkan kata maaf atas kekhilafannya. Dalam suratnya yang ditujukan kepada Kapolda, Nova dan Mamadou juga mengaku emosi sehingga akhirnya saling pukul dan mereka meminta maaf atas “kesalahan” itu.

Surat itu mungkin begitu ampuh karena akhirnya mereka berdua untuk sementara bernafas lega bisa keluar dari tahanan. Dengan jawaban diplomatis, Kapolda mengatakan, tak perlu Nova meminta maaf kepadanya. “Jangan meminta maaf kepada saya. Apa yang saya lakukan karena saya mencintai sepakbola. Saya ingin sepakbola Indonesia bisa lebih baik lagi,” jawab Jenderal bintang dua ini.

Di mata polisi, dua pemain sepakbola itu memang patut diduga “dipersalahkan” atas aksi kekerasan di lapangan. Penangkapan dan penahanan pun akhirnya menjadi sebuah “keniscayaan” atas “kesalahan” yang dilakukan. Namun, begitu kata maaf meluncur dan terucap, ada sebuah keringanan akan “kesalahan” yaitu penangguhan penahanan yang akhirnya mereka dapatkan.

***

Lain Nova dan Mamadou, lain pula dengan Briptu Dadang. Oknum anggota Satintelkam Poltabes Solo yang diduga menjadi pelaku perampokan taksi juga harus siap membayar atas sebuah “kesalahan” yang telah diperbuatnya. Bahkan, dengan nada tegas, Kapolda menyatakan, hukuman bisa sampai pada tingkat pemecatan.

Di depan Kapolda, Dadang juga mengakui apa yang telah diperbuatnya merupakan kesalahan. “Siap, salah,” kata dia dengan gaya bicara khas anggota polisi berbicara pada pimpinannya.

Di depan belasan wartawan, Kapolda pun menyatakan komitmennya atas penegakan hukum. Hukum harus menjadi panglima. “Seandainya langit akan runtuh, penegakan hukum tetap harus jalan,” tegasnya.

Bersama seorang mahasiswa di Solo, anggota polisi yang baru dua tahun berdinas tersebut, nekat melakukan aksi perampokan dengan bermodalkan senjata mainan. Dia beralasan ingin membantu temannya, namun bagi aparat penegak hukum, kesalahan harus ada ganjarannya.

***

Terlalu sering kesalahan itu dilakukan dalam keseharian, mulai dari salah melanggar rambu lalu lintas hingga salah saat bekerja. Dan kesalahan itu memang harus ada ganjaran hukuman, entah hukuman langsung ataupun tidak langsung.

Dari kesalahan itu, orang bisa belajar tentang arti kebenaran. Dari perbuatan yang lalai dan khilaf, orang bisa belajar tentang arti dosa. Dari sebuah kesalahan, orang bisa lebih menghargai kata maaf. Namun, kadang pula terdengar kata majelis hakim saat mengambil keputusan terucap kata: “Tidak ditemukan adanya alasan pemaaf.”


Bukan Intel Sukab

Ini bukan cerita tentang Intel Sukab yang melegenda setelah dikisahkan Seno Gumira Ajidarma. Bukan sebuah kisah tentang seorang intel polisi yang mencoba mengendus gelagat aksi kejahatan atau intel polisi yang memilih menjadi beking di tempat hiburan malam.

Ini cerita tentang intel yang biasa mengamankan aksi demonstrasi. Intel yang suka memanggul kamera video untuk kepentingan kepolisian. Sosok intel muda yang “salah mengambil langkah”. Intel Dudung namanya.

Baru dua tahun, Intel Dudung bertugas di kota ini. Kota yang sedang menggeliat sebagai penyangga dua ibukota provinsi di Jawa. Tak ada yang terlalu menonjol dari Intel Dudung, dia layaknya polisi pada umumnya, dan anggota intel pada khususnya.

Ketidakmenonjolkan Intel Dudung ini menjadikannya tidak menjadi pusat perhatian. Tak banyak yang mengenalnya. Anggota satu korps yang berlainan satuan saja belum banyak yang mengenalnya.

Namun, kejadian disuatu malam, membalikkan itu semua. Dari yang tidak menonjol, menjadi dicari-cari. Dari yang tidak dikenal menjadi ingin tahu. Pagi itu berhembus kabar, Intel Dudung ditangkap. Kabar yang beredar, dia diduga ikut terlibat kasus perampokan taksi.

Tak ada yang menyangka. Tak ada yang menduga. Semuanya bertanya-tanya. Bahkan, pimpinannya pun dibikin bingung bukan kepalang karena belum bisa mengkonfirmasikan kabar penangkapan itu. Dua buah handphone milik Intel Dudung tak bisa dihubungi. Kecurigaan akan penangkapan itu semakin menguat. Hari itu dan mungkin hari-hari berikutnya Intel Dudung bakal jadi buah bibir di kantor kepolisian kota ini.

Semuanya bertanya-tanya mencoba menelisik akan kepastian kabar itu. Ada yang mencoba menghubungi wartawan yang dianggap lebih tahu tentang kabar itu. Ada yang berbisik-bisik kecil di tengah bekerja sambil mengkisahkan tentang keseharian Intel Dudung. Ada yang merayu jurnalis foto yang mungkin memiliki foto penangkapan itu atau setidaknya foto Intel Dudung.

Ada yang langsung menjadi “hakim” dengan menyalahkan perilakunya. Ada yang mencoba bersikap netral, ada yang melihat dari sudut pandang pendapatan anggota polisi dan ada pula yang acuh tak acuh. Namun, pertanyaan besar akan penangkapan itu belum juga terjawab. Mungkin sore itu, mereka pulang dengan tanda tanya besar di kepala mereka.

Hari itu, mungkin ribuan kali orang-orang di kantor kepolisian itu menyebutkan nama Intel Dudung. Dan pagi harinya, seakan memberikan jawaban, semua koran di kota ini mengkisahkan tentang penangkapan Intel Dudung.


Namanya Mus

Panggil saja dia dengan panggilan Mus. Usianya baru 15 tahun. Untuk anak seukuran dia, tubuhnya tergolong bongsor. Kulit wajahnya hitam, menunjukkan sinar ultraviolet sering membakar kulitnya. Wajahnya tidak memancarkan wajah anak yang tampak tanpa dosa. Namun, wajahnya juga tidak menunjukkan keberingasan anak-anak. Wajah standar anak Indonesia pada umumnya, terlihat takut pada orang yang lebih tua dan malu-malu untuk mengungkapkan perasaannya.
Borgol besi melilit kuat di kedua pergelangan tangannya. Kepalanya tertunduk lesu seakan menyesali perbuatan yang dia lakukan pagi itu. Kalau bisa dan boleh mengungkapkan kata sumpah serapah, Mus ingin berkata-kata, “Mengapa…mengapa harus berakhir seperti ini.”
Di pagi yang buta, kala langit belum sepenuhnya terang, saat kabut pagi masih menyelimuti Kota Solo, tubuh Mus menggigil ketakutan. Ketakutan yang luar biasa besar karena ini menyangkut hidup dan mati. Atap rumah menjadi persembunyiannya selama dua jam. Suara pentungan diseret, gesekan pedang dengan aspal yang bikin telinga miris, semakin menyiutkan nyalinya. Belum lagi, teriakan yang saling bersahutan, menjadikan Mus ingin kencing di celana.
Pilihan hidup memutuskan Mus merampok malam itu. Namun, sial bagi dia dan kawannya Teguh. Korban memberikan perlawanan dan membuat Teguh tak berdaya hingga akhirnya pingsan dipukuli massa. Mus bisa selamat dari kejaran massa setelah naik ke atap rumah dan kini atap rumah sebelah yang habis disatroninya menjadi tempat persembunyiannya.
Kedua kakinya sebenarnya sudah kesemutan dari tadi. Namun, untuk menggerakkan kakinya saja, Mus takutnya bukan kepalang. Satu gerakan bisa menimbulkan suara dan itu merupakan bahaya besar. Sepatu lars polisi beberapa kali terdengar keras. Instruksi dari seseorang yang mungkin komandan polisi terdengar begitu dekat, “Coba dikepung, ada yang dari barat, utara, selatan, timur. Semuanya bergerak.”
Perintah itu diikuti suara sepatu lars seperti orang baris berbaris. Seperti ada ritme-nya, namun bagi Mus itu adalah ritme kematian. Mus terlalu bimbang untuk memutuskan, apakah tetap bertahan terus atau akhirnya mengangkat kedua tangan tanda menyerah. Mus tidak memiliki sapu tangan putih sebagai tanda dia menyerah kalah, seperti dalam film-film perang yang sering ditontonnya.
Seluruh tubunya sudah terasa pegal. Mus belum ingin menyerah, namun begitu pegalnya tubuhnya sehingga Mus memutuskan untuk memutar badannya. “Itu di atap kelihatan topinya,” teriak seseorang.
Teriakan itu seperti panggilan kematian. Tiba-tiba jantung Mus seperti berhenti. Matanya terpejam kuat seakan tidak berani menghadapi kenyataan yang akan segera terjadi. Suara orang berteriak-teriak semakin terdengar keras. “Ambil tangga..ambil tangga.”
Nyalinya semakin mengkeret. Tak tahu lagi harus berbuat apa, Mus sudah pasrah. “Sudah, semuanya mundur. Semua anggota mendekat, cepat.” Mus mendengar suara itu, seperti suara orang yang tadi memberi perintah untuk mengepung. Tinggal menunggu waktu saja, bagi Mus untuk tertangkap. Namun, ia masih belum tahu, apakah ia akan “habis” pagi itu, atau Tuhan masih memberi kesempatan lain.
Suara anak tangga dinaiki begitu membahana di telinganya. Inilah akhir dari segalanya pikir Mus. Belum sempat Mus mengambil nafas untuk mempersiapkan kemungkinan terburuk, Mus telah melihat moncong pistol di depannya. Mukannya pucat pasi dan dengan langkah gontai Mus berdiri. “Habisi saja,” teriak orang-orang.
Polisi yang bersiap seperti membuat barikade menenangkan massa yang terlanjur geram dan marah. Satu anak tangga terakhir dan kini Mus kembali menginjak bumi seakan membawa kembali dalam dunia nyata. Polisi tak berseragam yang menodongkan pistol tadi memegang erat lengannya dan tanpa ada komando, Mus diseret lari. Polisi memberikan pengamanan yang super ketat kepada Mus, seperti artis yang diserbu penggemarnya.
Sinar matahari mulai muncul di ufuk timur. Menandakan pagi sebenar-benarnya pagi segera tiba. Di atas truk polisi yang menyelamatkannya dari kejaran massa, Mus melihat matahari yang bersinar cerah.


Mengejar Mimpi

Mataku terbuka yang ada hanyalah gelap. Aku terjaga dari mimpi buruk yang tak kutahu artinya. Bau asap rokok masih terasa di kamar kosku yang teramat sempit. Belum sepenuhnya aku benar-benar “utuh”. Mungkin masih setengah sadar setelah aku tadi tertidur pulang kerja.

Kutarik nafas dalam-dalam dan kucoba memahami kehidupan yang belum “utuh” ini. Butuh beberapa menit untuk aku kembali menjadi manusia yang punya logika dan rasa. Kuangkat kaki dan membuka pintu kamar meski aku tau angin malam yang dingin segera masuk ke kamarku.

Air putih dari gelas plastik ku teguk perlahan. Dalam gelapnya kamarku, tanganku meraba mencari bungkus rokok. Nyala api yang membakar ujung rokok menjadikan kamar sedikit terang meski hanya sesaat. Aku melangkah keluar untuk menghilangkan rasa sumpek di dalam kamar yang terasa semakin sesak saja.

Malam telah benar-benar pekat dan tak ada nyanyian dari binatang malam untuk sekedar menjadi penghibur rasa kesepian. Langit yang tak memberikan bintang dan bulan ku pandang sebentar. Sedikit kecewa karena hanya langit yang hitam pekat meski tidak hujan.

Aku duduk di kursi panjang ada di depan kamar. Asap rokok terus keluar dari mulut dan aku merenung. Entah apa yang kurenungkan. Aku hanya mengingat tentang masa depan. Mungkin hanya khayalan, namun terasa indah ketika alam terlalu sedih karena tidak memberikan cahaya kebahagiaan malam.

Hisapan panjang aku habiskan dan pintu kamar tak lupa aku kunci. Aku langsung rebahan di kasur dan berharap mimpi indah. Mimpi itu harus kukejar mulai malam ini.


%d blogger menyukai ini: