Balada PHK

Dua polisi yang mengapit tubuh Har, menjadikannya tidak bisa bergerak dengan leluasa. Mobil polisi dengan suara sirine meraung-raung melaju kencang menuju kantor kepolisian. Kedua tangannya dipegang erat oleh kedua polisi itu.

Bercak darah masih terlihat membekas di pakaian perawat bagian ICU itu. Kedua tangannya pun masih penuh cipratan darah yang mulai mengering. Ini bukan darah pasien yang masuk ICU. Bukan pula darah korban kecelakaan yang ditangani Har. Namun darah itu adalah darah lima orang yang menjadi sasaran Har untuk menumpahkan segala kekalutan hatinya. Darah yang keluar dari mereka yang akan mengetokkan palu “kematian” pemecatan Har dari sebuah rumah sakit.

Mobil warna coklat tua itu tiba-tiba direm mendadak. Dengan cekatan, anggota polisi itu membuka pintu mobil dan langsung membawa Har keluar menuju sebuah bangunan yang di bagian atasnya tertulis “Satuan Reskrim”. Tangan kanan anggota polisi itu memegang erat leher Har, seperti memiting dan Har hanya bisa tertunduk sambil mengikuti jalannya polisi itu.

Lampu blitz dari kamera para jurnalis terus mengarah ke wajah Har. Mungkin karena malu, dengan segala upaya, Har mencoba menutupi wajahnya. Pintu sebuah ruangan langsung dibuka dan Har dibawa ke dalamnya. “Jangan difoto…jangan difoto,” ujar Har beberapa kali.

Namun, perkataan Har tersebut seakan tertelan oleh kesibukan yang tiba-tiba menyeruak di ruangan yang namanya cukup menyeramkan. Ruang Unit Kejahatan Dengan Kekerasan (Jatanras). Kepalanya terus tertunduk mencoba menghindar dari jepretan kamera yang terus menghujam ke arahnya. Bagi jurnalis mungkin ini adalah adegan yang paling menarik, sebuah borgol telah disiapkan dan dengan begitu cepatnya borgol itu telah melekat di kedua tangannya, secepat rana lensa kamera mengabadikan momen itu dengan foreground sebuah parang yang masih penuh darah.

***

Surat dengan amplop warna coklat itu masih dipandanginya terus. Seakan ada kebimbangan, Har berkali-kali membaca tulisan dalam surat itu untuk sekedar memastikan kalimat demi kalimat dalam surat itu. Kalimat yang begitu menghujam perasaannya adalah kalimat “meminta Saudara Har untuk datang ke Bagian Personalia jam 12.30 WIB.”

Bagi Har, surat panggilan itu seperti surat pengantar menuju “jurang kematian”. Surat yang mengabarkan sebuah dukalara seorang perawat yang telah mengabdi selama 14 tahun di rumah sakit. Skorsing selama 1 bulan telah dijalaninya dan kini surat panggilan itu akan memberikan jawaban atas sebuah pertanyaan tentang masa depannya di rumah sakit swasta itu.

Keputusan skorsing dari manajemen rumah sakit yang diterimanya bulan lalu kembali muncul dalam memori otaknya. Skorsing itu datang hanya beberapa hari setelah ada laporan jika bapak dua anak ini melakukan pelecehan seksual terhadap seorang mahasiswi yang sedang magang di rumah sakit itu.

Hatinya kalut ketika menerima keputusan skorsing itu meski Har juga tahu jika perbuatan asusilanya memang salah dan merupaka kategori pelanggaran berat. Hari-hari skorsing dihabiskan dengan merenung. Selain itu, Har juga beberapa kali mendatangi rumah para petinggi rumah sakit tersebut untuk meminta maaf dan memohon “pengampunan dosa”.

Rasa takut akan adanya PHK begitu terasa pada diri Har. Bukan saja soal tidak adanya tanggapan positif dari para petinggi rumah sakit itu, namun gaji yang diterima hanya 50% dari biasanya sejak skorsing juga menjadikannya semakin kalut.

Apalagi anak pertamanya masuk rumah sakit setelah menderita demam berdarah dan anak keduanya yang baru berumur 10 bulan masih membutuhkan susu yang harganya terus meroket. Memang isterinya juga bekerja. Namun, perhitungan matematika tidak masuk logika sehingga Har begitu khawatir ekonomi keluarganya bakal carut marut.

***

Sebelum berangkat ke rumah sakit memenuhi panggilan dari manajemen, Har sempat menyalami isterinya. “Yang sabar ya mas. Apapun hasilnya nanti, pasti Tuhan memberikan hal yang terbaik untuk kita,” pesan isterinya.

Bayang-bayang menjadi pengangguran terus menggelayuti pikiran. Usianya tak lagi muda, sudah 39 tahun dan Har tahu betul, dengan usianya itu, dirinya tidak akan mudah mencari pekerjaan baru. Jangankan pekerjaan baru, dari berita-berita di koran dan televisi, Har mendengar jika ribuan pekerja di negeri ini terancam kena PHK.

Sepeda motor yang dibeli secara kredit telah distater. Har sudah siap berangkat. Ada kebimbangan yang begitu besar dalam diri Har. Ketakutan akan PHK, kekhawatiran akan nasib anak dan isterinya dan bayang-bayang kesuraman masa depannya.

Roda sepeda motor itu mulai berputar pelan. Namun, hanya beberapa meter motor itu berjalan, Har langsung menghentikannya. Har langsung turun dari motornya dan kembali ke rumah. Dengan ayunan langkah kaki yang cepat, Har menuju dapur. Sebuah parang yang sudah mulai berkarat diambilnya dan dimasukkannya ke dalam tas. Dengan kemantapan hati, Har kembali menaiki sepeda motornya menuju rumah sakit tempatnya bekerja. Kali ini Har sudah mengambil keputusan. Dirinya akan menjadi “hakim” atas kebenaran yang diyakininya sebelum pimpinannya menjadi “hakim” yang akan mengetokkan palu vonis PHK terhadapnya.

About angscript

Aku hanyalah jurnalis kecil yang bekerja di media kecil di sebuah kota kecil dan menghadapi masalah-masalah kecil dan orang-orang kecil. Tulisan ini hanyalah tentang hal-hal kecil agar aku bisa belajar berkata-kata, saat kata belum terbungkam dan kata masih bisa menjadi senjata. Jangan dianggap serius!!! Lihat semua pos milik angscript

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: