Monthly Archives: April 2009

“Ini Pesta Demokrasi, Bung!”

Entah mengapa, bagiku raungan suara knalpot yang memekakkan telinga lebih indah suaranya daripada celoteh Jurkam yang mengobral janji. Wajah para simpatisan Parpol yang dicorat-coret juga lebih sedap dipandang mata daripada wajah para Caleg yang mengesankan diri “smart” ketika debat.

Janji yang terucap Jurkam ketika kampanye, pernah aku dengar 5 tahun yang lalu. Apa yang mereka katakan tak jauh beda ketika mereka berdiri di atas panggung tahun 2004 lalu di depan ribuan massa yang aku yakin lebih menunggu goyangan hot penyanyi dangdut daripada ocehan Jurkam. Kalaupun ada bedanya, hanya sedikit saja.

Dan mereka para Caleg sudah terlalu lelah mengesankan diri sebagai seseorang yang “smart”, “perduli” ataupun “aspiratif”. Mereka terlalu letih dengan citra yang ingin didapatkan hingga akhirnya, aku terlalu muak melihat wajah mereka. Bagi mereka citra adalah segalanya, termasuk citra sebagai orang yang dianiaya, didzolimi. Citra sebagai orang yang tertindas terlalu sering diciptakan sehingga hampir semua Caleg mengaku orang tertindas (entah siapa yang menindas).

Ketika mereka Jurkam dan Caleg sibuk dengan cara mereka sendiri menghadapi pemilu, maka masyarakat punya cara sendiri melampiaskan nafsu demokrasi. Knalpot sepeda motor yang meraung-raung, arak-arakan di jalanan yang memacetkan, corat-coret wajah sebagai bentuk fanatisme menjadi cara tersendiri untuk menghadapi proses demokratisasi di negeri ini.

Kampanye Pemilu telah membuktikan dangdut lebih menarik dari janji kampanye. Mendayu-dayunya musik dangdut lebih asoy daripada obral janji yang berbusa-busa. Hentakan musik dangdut (plus kendangnya) lebih membuat masyarakat bergoyang dan mengangkat tangan daripada teriakan Caleg “Pilih saya.”

Saat kampanye sudah akan berakhir, mereka para Caleg dan Jurkam masih punya itung-itungan politik menuju hari pemilihan dan bagi masyarakat, akhir kampanye adalah akhir dari segala pelampiasan nafsu belajar demokrasi seperti kata seorang simpatisan partai yang harus kena tilang polisi, “Ini pesta demokrasi, Bung.”


%d blogger menyukai ini: