Monthly Archives: Agustus 2009

Negeri Maling(sia)

Negeri Maling. Biasanya aku menyebutnya begitu. Mungkin agak berlebihan, tapi itulah realitas yang ada di negeri di mana penguasa memiliki kesempatan untuk menjadi maling.

Negeri yang kaya raya dengan sumber daya alam. Orang biasa menyebutnya dengan gemah ripah loh jinawi. Negeri di mana, tanpa perlu banyak mengeluarkan keringat agar tanaman tumbuh subur. Negeri di mana, matahari bersinar setengah tahun dan hujan akan turun membasahi kekeringan setengah tahun berikutnya.

Banyak orang menyebutnya sebagai Keajaiban dari Asia. Ada yang lebih suka menyebut dengan sebutan Macan Baru dari Asia. Dulu, ada istilah era tinggal landas, era di mana negeri yang kaya raya itu akan dapat terbang layaknya burung garuda dan menuju kemakmuran.

Sudah lebih dari 10 tahun penguasa yang menciptakan slogan era tinggal landas itu jatuh, namun negeri itu masih berada di landasan. Borok dari penguasa lama banyak yang terkelupas dan meninggalkan berbagai macam kebobrokan hingga akhirnya negeri itu menjadi Negeri Maling.

Hampir setiap sudut kehidupan di negeri itu dikuasai oleh maling. Ada yang suka maling kayu, ada yang tertarik menjadi maling ikan. Kadang ada juga yang memilih menjadi maling emas, maling minyak, maling kebebasan, maling demokrasi, maling keadilan, maling hukum hingga maling suara rakyat. Namun, yang agak berlebihan adalah mereka yang memilih menjadi maling duitnya rakyat.

Bukan tanpa aturan, maling-maling itu menciptakan beragam aturan yang ujung-ujungnya menjadi jalan pemulus untuk kehidupan maling itu sendiri. Tidak hanya itu saja, maling itu saling terkait dan memiliki hubungan saling ketergantungan. Maling kayu dan ikan sering kongkalikong dengan maling keadilan dan hukum, begitu juga dengan maling emas dan minyak. Kalau maling demokrasi, maling suara rakyat, maling kekuasaan itu tak jauh-jauh dari urusan duitnya rakyat.

Negeri yang begitu kaya itu seakan tidak ada habisnya untuk dimaling. Semua yang ada dikuras habis, disikat tanpa ampun, disedot tanpa henti. Nasfu bermaling-maling ria sudah begitu akutnya hingga rakyat dilupa, begitu banyak kekayaan lain negeri itu seperti seni dan budaya dilupakan begitu saja.

Hingga suatu ketika ada negeri lain yang berani maling kekayaan di Negeri Maling. Semua terhentak dan tersentak. Mereka sudah mengikrarkan diri sebagai Negeri Maling paling maling di dunia. Namun, nyatanya masih saja ada negeri lain yang berani maling di Negeri Maling yaitu Negeri Malingsia.

Negeri Malingsia itu suka mengklaim berbagai seni dan budaya Negeri Maling. Mencaplok dua pulau Negeri Maling dan hobi bertindak keji terhadap rakyat jelata Negeri Maling yang mengadu nasib di negeri itu. Negeri Maling merasa kebobolan hingga akhirnya negeri itu mengikrarkan untuk menolak segala permalingan hingga itu semua tak ubahnya maling teriak maling.

Iklan

Mukena putih

Suara azan dari surau yang ada di ujung kampung sudah terdengar sedari tadi. Suara azan dari sang muadzin terdengar jelas di telinga Inea yang masih ada di kamarnya. Nyanyian jangkrik dari sawah belakang rumahnya seakan lenyap begitu saja ikut mendengarkan panggilan Sang Khalik.

Di hadapan Inea, mukena putih masih terlipat rapi. Sehari sebelum bulan Ramadhan tiba, ibunya sengaja mencucikan mukena satu-satunya yang dimiliki bocah SD itu. Rukuh biasa Inea menyebut kain panjang yang menutupi seluruh tubuhnya itu dan hanya menyisakan wajah dan telapak tangannya yang terlihat.

“Inea, ayo berangkat. Sudah azan dari tadi lo. Inikan tarawih pertama, jangan sampai telat,” kata ibunya.

Sudah cukup lama Inea memandangi kain putih panjang itu. Ia duduk di kasur tepat di sebelah mukena dan sajadah yang sudah dipersiapkan ibunya selepas Maghrib. Dipeganginya pelan-pelan mukena pemberian ibunya tiga tahun lalu. Warnanya sudah agak pudar. Meski sudah dicuci dengan detergen yang katanya dengan pemutih, namun waktu sepertinya menggerogoti keputihan mukena itu.

Tak lagi putih bersih seperti saat ibunya memberikan mukena itu sebagai hadiah kenaikan kelas. Tidak juga seputih mukena milik Dewi, anak pak lurah. Tidak juga seindah mukena milik Fitri, anak juragan beras yang mukenanya dipenuhi manik-manik. Mukena milik Inea putih polos tanpa manik-manik, tanpa pula renda-renda yang saat ini sedang tren.

“Mukena Inea sudah jelek. Tidak seperti miliknya Dewi dan Fitri. Sudah tiga tahun pakainya ini terus. Kapan Bu, Inea dibelikan mukena baru. Ramadhan tahun ini ya, Bu,” ujar Inea beberapa hari sebelum bulan suci tiba.

“Sabar ya nak. Nanti kalau ibu ada rejeki, pasti ibu belikan. Tapi jangan sekarang, itu adikmu kan baru saja masuk sekolah, biayanya juga banyak,” jawab ibunya.

Mukena itu masih terlipat rapi. Sambil memeganginya, Inea meletakkan rukuh itu di pahanya. Sudah tiga tahun mukena itu menjadi saksi saat Inea menghadap Sang Pencipta. Kadang bocah itu bisa memahami kondisi ekonomi keluarganya yang pas-pasan. Semenjak ayahnya meninggal lima tahun yang lalu, praktis ibunya yang menjadi buruh di perusahaan rokok menjadi penopang ekonomi keluarga. Namun, kadang ada rasa malu dan tidak percaya diri saat dirinya salat berjamaah di surau. Teman-teman seumurannya selalu membeli mukena baru tiap tahun dan Inea sudah tiga tahun terakhir tidak memiliki mukena baru. Inea selalu mengenakan mukena putih polos yang keputihannya terus memudar.

“Nak, sedang apa. Ayo berangkat ke surau,” teriak ibunya yang membuyarkan lamunan Inea.

Inea pun bangkit dan segera mengenakan mukena itu. Dipandangi lagi mukena yang kini telah menutupi tubuhnya. Mukena yang tidak lagi putih cemerlang. Sambil berjalan, Inea memantapkan hati tetap menggunakan mukena itu selama Ramadhan tahun ini karena Inea percaya, Tuhan Maha Melihat dan tidak membedakan umatnya dari mukena yang dikenakannya.

“Ups, hampir lupa,” ketus Inea kembali ke kamar sambil menyambar sajadah.


Bebas dari merdeka…

Cahaya mahatari belum terlalu terik ketika belasan siswa SD membelah melintas pematang sawah yang sedikit gersang. Angin pagi yang berhembus agak kencang sedikit mengacaukan barisan pelajar itu. Topi dan dasi yang mereka kenakan bergoyang-goyang disapu angin yang kurang bersahabat.

Satu dua guru mengawal mereka menuju lapangan desa. Mereka tersenyum riang, sedikit bercanda dan tidak terlalu menghiraukan ucapan guru yang meminta agar barisan tetap rapi dan langkah kaki seiring sejalan. “Kiri…kiri…kiri…,” ujar pak guru memberikan aba-aba sambil mengepulkan asap rokoknya.

Lapangan desa yang berada di tengah pematang sawah sudah mulai terlihat. Umbul-umbul berwarna warni serta bendera merah putih memenuhi lapangan desa yang biasa digunakan untuk main sepakbola. Padi yang mulai menguning dan rumput liar yang masih dibasahi embun pagi, menjadi saksi atas keriangan siswa-siswa itu. Keriangan menyambut datangnya hari kemerdekaan seperti yang mereka dengar dari guru, orang tua dan para tetua desa.

Semangat mereka yang sedikit tergerus akibat perjalanan jauh, terobati dengan keramaian lapangan desa. Tidak hanya siswa SD saja, namun ada juga siswa SMP, SMA, Pak guru, Pak hansip desa, polisi dan tentara dari kecamatan dan tentunya Pak camat dengan pakaian putih-putih kebesaarannya.

Mereka diminta berbaris rapi di pojokan lapangan. Pak guru beberapa kali memberikan instruksi, mulai dari lencang depan, lencang kanan hingga istirahat di tempat sambil menunggu upacara dimulai. Bagi siswa-siswa itu, upacara perayaan kemerdekaan, sudah sering mereka ikuti. Setiap tahunnya tiap tanggal 17 Agustus mereka mengikuti upacara bendera di lapangan desa.

Upacara yang sebenarnya mirip dengan upacara bendera yang mereka ikuti tiap hari Senin. Yang membedakan hanyalah pesertanya lebih banyak, pengibar benderanya pakaiannya putih-putih dan inspektur upacaranya adalah Pak Camat. Meski sudah berkali-kali mengikuti upacara yang sama setiap tahunnya, mereka tetap antusias. Meski saat upacara ada sendau gurau di antara mereka, toh tangan mereka memberikan hormat saat lagu Indonesia Raya dinyanyikan dan Merah Putih dikibarkan.

Upacara telah usai, maka siswa SD itupun bersiap menghadapi berbagai lomba yang juga digelar di lapangan desa. Mulai dari panjat pinang hingga makan kerupuk. Dan ketika sore telah tiba, saat perayaan hari kemerdekaan telah usai maka mereka harus kembali hidup dalam kenyataan. Kenyataan hidup di negeri ini yang dipenuhi dengan pemiskinan dan pembodohan.


Memoar kawan lama

Pasangan muda itu sibuk membolak-balikkan koran nasional di teras rumah. Mereka adalah suami isteri yang sebenarnya masih sepantaran dengan usiaku itu. Berita tentang terorisme yang memenuhi halaman utama koran itu menjadi daya magnet tersendiri bagi siapapun orang di negeri ini, termasuk mereka.

Deru motorku yang tepat berhenti di depan halaman rumah mereka sedikit memecah konsentrasi mereka. Koran itu dilempar begitu saja di meja kecil di depan mereka. Senyum tipis mengembang dari mereka yang sering aku sebut sebagai “pasangan tambun”. Bagaimana tidak, bobot mereka berdua lebih dari 150 Kg.

Yang laki-laki adalah sobat dekatku jaman SMA. Sedangkan yang perempuan adalah mantan pacarnya sobatku itu. Dia menjadi mantan pacar setelah tahun lalu mereka menyatakan ikrar di depan penghulu. Jabat tangan hangat dari keduanya menyambut kedatanganku. “Piye kabare, bro ?” tanya temanku itu.

Setelah kami saling sapa dan isterinya kawanku itu menghidangkan teh hangat dan beberapa makanan kecil, kami kembali lagi ke masa lalu. Seperti membuka kembali album kenangan yang telah berdebu dan tersimpan rapi di dalam almari. Dari satu frame ke frame berikutnya dengan segala detailnya kami berbincang tentang masa lalu yang tak pernah usang dan membosankan meski cerita itu sudah diulang-ulang.

Kami mengingat sobat kami lainnya, Yogi Priaji yang lebih dahulu menghadap Sang Khalik. Sudah beberapa tahun yang lalu, sobat kami meninggal, istilah orang Jawa karena angin duduk. Tak ada yang pernah menduga ketika kematiannya datang begitu cepat, tapi siapa bisa menawar ataupun menolak datangnya maut. “Kowe kelingan pas motor’e Yogi mbok jikuk. Yogi bingung nggoleki,” kataku.

Masih begitu kuat dalam ingatanku, kami bertiga sering menghabiskan waktu bersama, melakukan wisata kuliner tiap akhir pekan. Dari warung satu ke warung lainnya dengan biaya yang ditanggung secara bergantian meski uang sakuku tergolong pas-pasan. Membuang waktu hingga petang tiba adalah kebiasaan kami diakhir pekan. Di sebuah rumah makan yang bernama Balekambang di Jl Raya Borobudur, biasanya kami berkumpul.

Selain ngomongin soal cewek tentunya dan ngrasani para guru, kami juga sering memaksa Yogi untuk membuatkan lagu saat aku dan kawanku itu dilanda asmara SMA. Yah, Yogi adalah satu-satu dari kami yang jago musik. Orangtuanya memberikan peralatan musik selengkap-lengkapnya. Karena dia yang memiliki alat musik lengkap, kami kadang bertandang ke rumahnya untuk sekedar melihat dia bermain musik. “Yen awak’e dewe ki kan isone mung ngelek-elek cah band. Padahal ora iso ngeband,” timpal kawanku sambil terkekeh-kekeh.

Dan harus diakui juga, jika Yogi ini adalah yang paling ganteng di antara kami. Suatu ketika, Yogi menjalin hubungan asmara dengan adik tingkat yang sering kami sebut-sebut sebagai Cindy Fatikasari-nya SMA. Kami pun hanya gigit jari. Namun, soal Cindy itu, tidak meruntuhkan perkawanan kami.

Ketika kami akhirnya lulus, kami memilih jalan masing-masing, saya yang mimpi jadi jurnalis memilih komunikasi di salah satu universitas swasta di Jogja. Kawanku yang ingin kerja jadi broadcaster melanjutkan studi di salah satu akademi di Jogja juga. Dan Yogi, meski satu universitas denganku, jarang sekali kami bertemu karena beda kampus. Hingga akhirnya kabar duka itu datang. Datang dengan begitu tiba-tiba saat kami mencoba meraih mimpi kami masing-masing.

Ah, tak terasa, sudah tiga jam lamanya aku dan kawanku membuka album kenangan lama itu. Mereka bakalan sibuk untuk mengurusi mitoni kakak mereka dan aku harus pamit pulang menyimpan kembali album kenangan itu.


Europe I’m Coming…

Sudah beberapa menit Yaya terdiam terpaku tanpa kata. Matanya masih tajam menyorot buku tebal yang ada di depannya. Beberapa kali keningnya dikerutkan mencoba memahami kata demi kata dalam buku itu yang terasa asing seperti kata dari negeri antah berantah.

Kata-kata yang tertulis, bukan kata-kata yang biasa keluar dari lidah bocah 12 tahun ini. Tidak juga kata-kata yang tersimpan dalam memori otak yang pernah terekam sejak bayi. Hal yang membingungkan adalah antara ejaan dan cara membacanya tidak sama. “Itu kamus Bahasa Inggrisnya ada di kamar,” kata ibunya mencoba membantu.

Menjadi pelajar SMP kelas internasional atau bilingual adalah impiannya. Bisa sekolah di SMP paling unggulan di sebuah kota kecil menjadi kebanggan tersendiri baginya. Impian itu telah menjadi nyata dan sekarang kenyataanlah yang harus dihadapinya. Fasih Bahasa Inggris harus menjadi syarat utamanya karena faktanya hanya pelajaran Bahasa Indonesia dan Bimbingan Konseling yang bahasa pengantarnya tidak menggunakan Bahasa Inggris.

Yaya belum beranjak dari kursi dan mencoba menghadapi kenyataan yang nyatanya tak mudah seperti bayangannya. Pelan-pelan, ia mencoba memahami kata demi kata dari buku English version yang dikeluarkan Depdiknas. Bukan untuk menjawab soal dalam buku itu, namun untuk memahami apa pertanyaan soal itu baru kemudian menjawab soal itu.

“Sebenarnya itu soalnya mudah, tapi kan bahasa pengantarnya Inggris, jadi memahami dulu soalnya, baru bisa menjawab,” kata Buliknya Yaya yang ikut membantunya belajar pelajaran Matematika malam itu.

Buliknya Yaya memang guru Matematika di salah satu SMP. Namun, karena di SMP-nya tidak ada kelas internasional, semua pelajaran diajakan dengan Bahasa Indonesia. Dia mengatakan, SMP tempat Yaya sekolah memang belum matang betul untuk mendirikan kelas internasional. Sebab, para pengajarnya saja belum fasih menggunakan Bahasa Inggris.

“Lha kalau gurunya saja belum pinter Inggris, gimana muridnya bias paham apa yang dijelaskan. Kadang aku jadi bingung sendiri,” kata Yaya menimpali perkataan Buliknya itu.

Sudah menjadi tren, saat ini sekolah memberikan embel-embel sekolah standar nasional ataupun rintisan sekolah standar internasional, meski kadang sumber daya manusia dan sarana prasarananya belum siap.

Keluh kesah itu berlalu begitu saja ketika Yaya disibukkan lagi menjawab soal-soal English For Tourism (EFT) yang tentunya dengan bahasa pengantar Bahasa Inggris. Semangatnya kembali berkobar ketika Yaya diingatkan kembali tentang mimpi-mimpi masa depannya. Mimpi tentang Eropa, mimpi tentang sepakbola di Benua Biru dan mimpi tentang Cristiano Ronaldo. Dan semangat itu telah meluluhkan keluh kesah yang tidak menjawab persoalan. “Europe I’m coming.”


Drama kematian…

Tak pernah ada yang bisa menebak bagaimana drama kematian itu menghampiri manusia. Drama yang mungkin berlansung hanya sepersekian detik. Entah itu di rumah sakit, entah itu di rumah dan datang tiba-tiba. Atau malahan drama itu sudah datang beberapa jam sebelumnya tanpa pernah ada yang menyadarinya.

Drama itu selalu menarik perhatian. Entah dia orang besar dengan segala popularitas yang dimiliknya, entah dia konglomerat yang biaya pemakamannya menelan biaya jutaan rupiah ataupun dia hanya orang biasa-biasa saja yang hanya berbalutkan kain kafan saat menuju liang kuburan.

Tak ada yang menduga, Urip Achmad Riyanto alias Mbah Surip meninggal saat popularitasnya mencapai puncak-puncaknya. Mbah Surip meninggal diusia 60 tahun dan sebelum tenar dengan lagu Tak Gendong, pria kelahiran Mojokerto itu mengaku pernah bekerja di bidang pengeboran minyak serta tambang berlian.

Hanya berselang dua hari, giliran WS Rendra yang menghadapi drama kematian. Si Burung Merak ini menyusul Mbah Surip yang makamnya ada di kawasan Bengkel Teater milik Rendra. Sastrawan dari Solo itu meninggalkan berbagai karya emasnya bagi manusia.

Drama Rendra terlalu cepat berlalu dan tergantikan drama lainnya. Drama “17 jam di Temangung” mungkin menjadi drama kematian yang paling dramatis. Seseorang yang disebut-sebut sebagai gembong teroris Noordin M Top dikepung dalam rumah di daerah Kedu, Temangung, Jateng selama 17 jam.

Drama itu tidak hanya menjadi kisah yang kemudian ditulis dan gambar ulang oleh media, namun media televisi pada khususnya berlomba-lomba menampilkan gambar paling eksklusif dengan melakukan siaran langsung di desa terpencil itu. Drama kematian itu menjadi tontonan jutaan orang mulai dari Jumat malam hingga Sabtu pagi. Entah berapa rating TVOne ataupun MetroTV yang menyiarkan secara langsung drama itu.

Layaknya seperti sinetron, penonton diajak melihat dari dekat upaya polisi menaklukkan orang yang katanya tewas di dalam kamar mandi itu. Pembawa acara kadang menambahi “bumbu-bumbu” sebagai penyedap tontonan sehingga mereka yang melihat terus terpaku di depan layar kaca dan bertanya-tanya bagaimana akhir dari drama itu.

Seperti kata di televisi, polisi meledakkan beberapa bom di rumah tersebut dan peluru terus menghujani rumah itu hingga akhirnya orang itu telah masuk kantong mayat saat dibawa keluar rumah. Drama di televisi itu yang begitu nyata, tidak seperti sinetron murahan. Dan ternyata drama itu belum berakhir karena siapa sesunggunya lelaki itu masih menjadi tanda tanya.

Kalaupun akhirnya itu bukan Noordin seperti yang dikatakan televisi saat penggerebekan terjadi, maka drama itu akan terus berlanjut dan berlanjut lagi, dari satu drama ke drama lainnya dan berharap penonton tetap setia di depan televisi mereka.


Mati suri…

Mungkin sudah terlalu lama mati suri hingga akhirnya aku tak pernah tahu rasa yang sebenar-benarnya dirasakan. Melewatkan waktu dengan keterasingan,  melambungkan mimpi yang tidak pernah usai dan meratapi realita yang begitu menggusarkan jiwa.

Matahari tak pernah ramah menyapa, terlalu terik dan panas. Bulan dan bintang terlalu redup untuk menjadi penuntun hati. Mungkin hanya senja yang begitu cepat yang mampu meredam gejolak hati.

Mungkin waktu terlalau cepat bagiku, hingga kenangan begitu mudah berlalu. Ritme keseharian terlalu mudah dipahami dan diikuti sehingga tak lagi nada-nada fals yang kadang malah membuat itu lebih indah.

Kini aku hanya bisa berharap pada kekinian dan masa depan.  Sudah saatnya merajut mimpi, mengolah rasa dan kembali bangun dari mati suri.


%d blogger menyukai ini: