Drama kematian…

Tak pernah ada yang bisa menebak bagaimana drama kematian itu menghampiri manusia. Drama yang mungkin berlansung hanya sepersekian detik. Entah itu di rumah sakit, entah itu di rumah dan datang tiba-tiba. Atau malahan drama itu sudah datang beberapa jam sebelumnya tanpa pernah ada yang menyadarinya.

Drama itu selalu menarik perhatian. Entah dia orang besar dengan segala popularitas yang dimiliknya, entah dia konglomerat yang biaya pemakamannya menelan biaya jutaan rupiah ataupun dia hanya orang biasa-biasa saja yang hanya berbalutkan kain kafan saat menuju liang kuburan.

Tak ada yang menduga, Urip Achmad Riyanto alias Mbah Surip meninggal saat popularitasnya mencapai puncak-puncaknya. Mbah Surip meninggal diusia 60 tahun dan sebelum tenar dengan lagu Tak Gendong, pria kelahiran Mojokerto itu mengaku pernah bekerja di bidang pengeboran minyak serta tambang berlian.

Hanya berselang dua hari, giliran WS Rendra yang menghadapi drama kematian. Si Burung Merak ini menyusul Mbah Surip yang makamnya ada di kawasan Bengkel Teater milik Rendra. Sastrawan dari Solo itu meninggalkan berbagai karya emasnya bagi manusia.

Drama Rendra terlalu cepat berlalu dan tergantikan drama lainnya. Drama “17 jam di Temangung” mungkin menjadi drama kematian yang paling dramatis. Seseorang yang disebut-sebut sebagai gembong teroris Noordin M Top dikepung dalam rumah di daerah Kedu, Temangung, Jateng selama 17 jam.

Drama itu tidak hanya menjadi kisah yang kemudian ditulis dan gambar ulang oleh media, namun media televisi pada khususnya berlomba-lomba menampilkan gambar paling eksklusif dengan melakukan siaran langsung di desa terpencil itu. Drama kematian itu menjadi tontonan jutaan orang mulai dari Jumat malam hingga Sabtu pagi. Entah berapa rating TVOne ataupun MetroTV yang menyiarkan secara langsung drama itu.

Layaknya seperti sinetron, penonton diajak melihat dari dekat upaya polisi menaklukkan orang yang katanya tewas di dalam kamar mandi itu. Pembawa acara kadang menambahi “bumbu-bumbu” sebagai penyedap tontonan sehingga mereka yang melihat terus terpaku di depan layar kaca dan bertanya-tanya bagaimana akhir dari drama itu.

Seperti kata di televisi, polisi meledakkan beberapa bom di rumah tersebut dan peluru terus menghujani rumah itu hingga akhirnya orang itu telah masuk kantong mayat saat dibawa keluar rumah. Drama di televisi itu yang begitu nyata, tidak seperti sinetron murahan. Dan ternyata drama itu belum berakhir karena siapa sesunggunya lelaki itu masih menjadi tanda tanya.

Kalaupun akhirnya itu bukan Noordin seperti yang dikatakan televisi saat penggerebekan terjadi, maka drama itu akan terus berlanjut dan berlanjut lagi, dari satu drama ke drama lainnya dan berharap penonton tetap setia di depan televisi mereka.

About angscript

Aku hanyalah jurnalis kecil yang bekerja di media kecil di sebuah kota kecil dan menghadapi masalah-masalah kecil dan orang-orang kecil. Tulisan ini hanyalah tentang hal-hal kecil agar aku bisa belajar berkata-kata, saat kata belum terbungkam dan kata masih bisa menjadi senjata. Jangan dianggap serius!!! Lihat semua pos milik angscript

3 responses to “Drama kematian…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: