Europe I’m Coming…

Sudah beberapa menit Yaya terdiam terpaku tanpa kata. Matanya masih tajam menyorot buku tebal yang ada di depannya. Beberapa kali keningnya dikerutkan mencoba memahami kata demi kata dalam buku itu yang terasa asing seperti kata dari negeri antah berantah.

Kata-kata yang tertulis, bukan kata-kata yang biasa keluar dari lidah bocah 12 tahun ini. Tidak juga kata-kata yang tersimpan dalam memori otak yang pernah terekam sejak bayi. Hal yang membingungkan adalah antara ejaan dan cara membacanya tidak sama. “Itu kamus Bahasa Inggrisnya ada di kamar,” kata ibunya mencoba membantu.

Menjadi pelajar SMP kelas internasional atau bilingual adalah impiannya. Bisa sekolah di SMP paling unggulan di sebuah kota kecil menjadi kebanggan tersendiri baginya. Impian itu telah menjadi nyata dan sekarang kenyataanlah yang harus dihadapinya. Fasih Bahasa Inggris harus menjadi syarat utamanya karena faktanya hanya pelajaran Bahasa Indonesia dan Bimbingan Konseling yang bahasa pengantarnya tidak menggunakan Bahasa Inggris.

Yaya belum beranjak dari kursi dan mencoba menghadapi kenyataan yang nyatanya tak mudah seperti bayangannya. Pelan-pelan, ia mencoba memahami kata demi kata dari buku English version yang dikeluarkan Depdiknas. Bukan untuk menjawab soal dalam buku itu, namun untuk memahami apa pertanyaan soal itu baru kemudian menjawab soal itu.

“Sebenarnya itu soalnya mudah, tapi kan bahasa pengantarnya Inggris, jadi memahami dulu soalnya, baru bisa menjawab,” kata Buliknya Yaya yang ikut membantunya belajar pelajaran Matematika malam itu.

Buliknya Yaya memang guru Matematika di salah satu SMP. Namun, karena di SMP-nya tidak ada kelas internasional, semua pelajaran diajakan dengan Bahasa Indonesia. Dia mengatakan, SMP tempat Yaya sekolah memang belum matang betul untuk mendirikan kelas internasional. Sebab, para pengajarnya saja belum fasih menggunakan Bahasa Inggris.

“Lha kalau gurunya saja belum pinter Inggris, gimana muridnya bias paham apa yang dijelaskan. Kadang aku jadi bingung sendiri,” kata Yaya menimpali perkataan Buliknya itu.

Sudah menjadi tren, saat ini sekolah memberikan embel-embel sekolah standar nasional ataupun rintisan sekolah standar internasional, meski kadang sumber daya manusia dan sarana prasarananya belum siap.

Keluh kesah itu berlalu begitu saja ketika Yaya disibukkan lagi menjawab soal-soal English For Tourism (EFT) yang tentunya dengan bahasa pengantar Bahasa Inggris. Semangatnya kembali berkobar ketika Yaya diingatkan kembali tentang mimpi-mimpi masa depannya. Mimpi tentang Eropa, mimpi tentang sepakbola di Benua Biru dan mimpi tentang Cristiano Ronaldo. Dan semangat itu telah meluluhkan keluh kesah yang tidak menjawab persoalan. “Europe I’m coming.”

Iklan

About angscript

Aku hanyalah jurnalis kecil yang bekerja di media kecil di sebuah kota kecil dan menghadapi masalah-masalah kecil dan orang-orang kecil. Tulisan ini hanyalah tentang hal-hal kecil agar aku bisa belajar berkata-kata, saat kata belum terbungkam dan kata masih bisa menjadi senjata. Jangan dianggap serius!!! Lihat semua pos milik angscript

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: