Memoar kawan lama

Pasangan muda itu sibuk membolak-balikkan koran nasional di teras rumah. Mereka adalah suami isteri yang sebenarnya masih sepantaran dengan usiaku itu. Berita tentang terorisme yang memenuhi halaman utama koran itu menjadi daya magnet tersendiri bagi siapapun orang di negeri ini, termasuk mereka.

Deru motorku yang tepat berhenti di depan halaman rumah mereka sedikit memecah konsentrasi mereka. Koran itu dilempar begitu saja di meja kecil di depan mereka. Senyum tipis mengembang dari mereka yang sering aku sebut sebagai “pasangan tambun”. Bagaimana tidak, bobot mereka berdua lebih dari 150 Kg.

Yang laki-laki adalah sobat dekatku jaman SMA. Sedangkan yang perempuan adalah mantan pacarnya sobatku itu. Dia menjadi mantan pacar setelah tahun lalu mereka menyatakan ikrar di depan penghulu. Jabat tangan hangat dari keduanya menyambut kedatanganku. “Piye kabare, bro ?” tanya temanku itu.

Setelah kami saling sapa dan isterinya kawanku itu menghidangkan teh hangat dan beberapa makanan kecil, kami kembali lagi ke masa lalu. Seperti membuka kembali album kenangan yang telah berdebu dan tersimpan rapi di dalam almari. Dari satu frame ke frame berikutnya dengan segala detailnya kami berbincang tentang masa lalu yang tak pernah usang dan membosankan meski cerita itu sudah diulang-ulang.

Kami mengingat sobat kami lainnya, Yogi Priaji yang lebih dahulu menghadap Sang Khalik. Sudah beberapa tahun yang lalu, sobat kami meninggal, istilah orang Jawa karena angin duduk. Tak ada yang pernah menduga ketika kematiannya datang begitu cepat, tapi siapa bisa menawar ataupun menolak datangnya maut. “Kowe kelingan pas motor’e Yogi mbok jikuk. Yogi bingung nggoleki,” kataku.

Masih begitu kuat dalam ingatanku, kami bertiga sering menghabiskan waktu bersama, melakukan wisata kuliner tiap akhir pekan. Dari warung satu ke warung lainnya dengan biaya yang ditanggung secara bergantian meski uang sakuku tergolong pas-pasan. Membuang waktu hingga petang tiba adalah kebiasaan kami diakhir pekan. Di sebuah rumah makan yang bernama Balekambang di Jl Raya Borobudur, biasanya kami berkumpul.

Selain ngomongin soal cewek tentunya dan ngrasani para guru, kami juga sering memaksa Yogi untuk membuatkan lagu saat aku dan kawanku itu dilanda asmara SMA. Yah, Yogi adalah satu-satu dari kami yang jago musik. Orangtuanya memberikan peralatan musik selengkap-lengkapnya. Karena dia yang memiliki alat musik lengkap, kami kadang bertandang ke rumahnya untuk sekedar melihat dia bermain musik. “Yen awak’e dewe ki kan isone mung ngelek-elek cah band. Padahal ora iso ngeband,” timpal kawanku sambil terkekeh-kekeh.

Dan harus diakui juga, jika Yogi ini adalah yang paling ganteng di antara kami. Suatu ketika, Yogi menjalin hubungan asmara dengan adik tingkat yang sering kami sebut-sebut sebagai Cindy Fatikasari-nya SMA. Kami pun hanya gigit jari. Namun, soal Cindy itu, tidak meruntuhkan perkawanan kami.

Ketika kami akhirnya lulus, kami memilih jalan masing-masing, saya yang mimpi jadi jurnalis memilih komunikasi di salah satu universitas swasta di Jogja. Kawanku yang ingin kerja jadi broadcaster melanjutkan studi di salah satu akademi di Jogja juga. Dan Yogi, meski satu universitas denganku, jarang sekali kami bertemu karena beda kampus. Hingga akhirnya kabar duka itu datang. Datang dengan begitu tiba-tiba saat kami mencoba meraih mimpi kami masing-masing.

Ah, tak terasa, sudah tiga jam lamanya aku dan kawanku membuka album kenangan lama itu. Mereka bakalan sibuk untuk mengurusi mitoni kakak mereka dan aku harus pamit pulang menyimpan kembali album kenangan itu.

About angscript

Aku hanyalah jurnalis kecil yang bekerja di media kecil di sebuah kota kecil dan menghadapi masalah-masalah kecil dan orang-orang kecil. Tulisan ini hanyalah tentang hal-hal kecil agar aku bisa belajar berkata-kata, saat kata belum terbungkam dan kata masih bisa menjadi senjata. Jangan dianggap serius!!! Lihat semua pos milik angscript

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: