Bebas dari merdeka…

Cahaya mahatari belum terlalu terik ketika belasan siswa SD membelah melintas pematang sawah yang sedikit gersang. Angin pagi yang berhembus agak kencang sedikit mengacaukan barisan pelajar itu. Topi dan dasi yang mereka kenakan bergoyang-goyang disapu angin yang kurang bersahabat.

Satu dua guru mengawal mereka menuju lapangan desa. Mereka tersenyum riang, sedikit bercanda dan tidak terlalu menghiraukan ucapan guru yang meminta agar barisan tetap rapi dan langkah kaki seiring sejalan. “Kiri…kiri…kiri…,” ujar pak guru memberikan aba-aba sambil mengepulkan asap rokoknya.

Lapangan desa yang berada di tengah pematang sawah sudah mulai terlihat. Umbul-umbul berwarna warni serta bendera merah putih memenuhi lapangan desa yang biasa digunakan untuk main sepakbola. Padi yang mulai menguning dan rumput liar yang masih dibasahi embun pagi, menjadi saksi atas keriangan siswa-siswa itu. Keriangan menyambut datangnya hari kemerdekaan seperti yang mereka dengar dari guru, orang tua dan para tetua desa.

Semangat mereka yang sedikit tergerus akibat perjalanan jauh, terobati dengan keramaian lapangan desa. Tidak hanya siswa SD saja, namun ada juga siswa SMP, SMA, Pak guru, Pak hansip desa, polisi dan tentara dari kecamatan dan tentunya Pak camat dengan pakaian putih-putih kebesaarannya.

Mereka diminta berbaris rapi di pojokan lapangan. Pak guru beberapa kali memberikan instruksi, mulai dari lencang depan, lencang kanan hingga istirahat di tempat sambil menunggu upacara dimulai. Bagi siswa-siswa itu, upacara perayaan kemerdekaan, sudah sering mereka ikuti. Setiap tahunnya tiap tanggal 17 Agustus mereka mengikuti upacara bendera di lapangan desa.

Upacara yang sebenarnya mirip dengan upacara bendera yang mereka ikuti tiap hari Senin. Yang membedakan hanyalah pesertanya lebih banyak, pengibar benderanya pakaiannya putih-putih dan inspektur upacaranya adalah Pak Camat. Meski sudah berkali-kali mengikuti upacara yang sama setiap tahunnya, mereka tetap antusias. Meski saat upacara ada sendau gurau di antara mereka, toh tangan mereka memberikan hormat saat lagu Indonesia Raya dinyanyikan dan Merah Putih dikibarkan.

Upacara telah usai, maka siswa SD itupun bersiap menghadapi berbagai lomba yang juga digelar di lapangan desa. Mulai dari panjat pinang hingga makan kerupuk. Dan ketika sore telah tiba, saat perayaan hari kemerdekaan telah usai maka mereka harus kembali hidup dalam kenyataan. Kenyataan hidup di negeri ini yang dipenuhi dengan pemiskinan dan pembodohan.

Iklan

About angscript

Aku hanyalah jurnalis kecil yang bekerja di media kecil di sebuah kota kecil dan menghadapi masalah-masalah kecil dan orang-orang kecil. Tulisan ini hanyalah tentang hal-hal kecil agar aku bisa belajar berkata-kata, saat kata belum terbungkam dan kata masih bisa menjadi senjata. Jangan dianggap serius!!! Lihat semua pos milik angscript

2 responses to “Bebas dari merdeka…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: