Mukena putih

Suara azan dari surau yang ada di ujung kampung sudah terdengar sedari tadi. Suara azan dari sang muadzin terdengar jelas di telinga Inea yang masih ada di kamarnya. Nyanyian jangkrik dari sawah belakang rumahnya seakan lenyap begitu saja ikut mendengarkan panggilan Sang Khalik.

Di hadapan Inea, mukena putih masih terlipat rapi. Sehari sebelum bulan Ramadhan tiba, ibunya sengaja mencucikan mukena satu-satunya yang dimiliki bocah SD itu. Rukuh biasa Inea menyebut kain panjang yang menutupi seluruh tubuhnya itu dan hanya menyisakan wajah dan telapak tangannya yang terlihat.

“Inea, ayo berangkat. Sudah azan dari tadi lo. Inikan tarawih pertama, jangan sampai telat,” kata ibunya.

Sudah cukup lama Inea memandangi kain putih panjang itu. Ia duduk di kasur tepat di sebelah mukena dan sajadah yang sudah dipersiapkan ibunya selepas Maghrib. Dipeganginya pelan-pelan mukena pemberian ibunya tiga tahun lalu. Warnanya sudah agak pudar. Meski sudah dicuci dengan detergen yang katanya dengan pemutih, namun waktu sepertinya menggerogoti keputihan mukena itu.

Tak lagi putih bersih seperti saat ibunya memberikan mukena itu sebagai hadiah kenaikan kelas. Tidak juga seputih mukena milik Dewi, anak pak lurah. Tidak juga seindah mukena milik Fitri, anak juragan beras yang mukenanya dipenuhi manik-manik. Mukena milik Inea putih polos tanpa manik-manik, tanpa pula renda-renda yang saat ini sedang tren.

“Mukena Inea sudah jelek. Tidak seperti miliknya Dewi dan Fitri. Sudah tiga tahun pakainya ini terus. Kapan Bu, Inea dibelikan mukena baru. Ramadhan tahun ini ya, Bu,” ujar Inea beberapa hari sebelum bulan suci tiba.

“Sabar ya nak. Nanti kalau ibu ada rejeki, pasti ibu belikan. Tapi jangan sekarang, itu adikmu kan baru saja masuk sekolah, biayanya juga banyak,” jawab ibunya.

Mukena itu masih terlipat rapi. Sambil memeganginya, Inea meletakkan rukuh itu di pahanya. Sudah tiga tahun mukena itu menjadi saksi saat Inea menghadap Sang Pencipta. Kadang bocah itu bisa memahami kondisi ekonomi keluarganya yang pas-pasan. Semenjak ayahnya meninggal lima tahun yang lalu, praktis ibunya yang menjadi buruh di perusahaan rokok menjadi penopang ekonomi keluarga. Namun, kadang ada rasa malu dan tidak percaya diri saat dirinya salat berjamaah di surau. Teman-teman seumurannya selalu membeli mukena baru tiap tahun dan Inea sudah tiga tahun terakhir tidak memiliki mukena baru. Inea selalu mengenakan mukena putih polos yang keputihannya terus memudar.

“Nak, sedang apa. Ayo berangkat ke surau,” teriak ibunya yang membuyarkan lamunan Inea.

Inea pun bangkit dan segera mengenakan mukena itu. Dipandangi lagi mukena yang kini telah menutupi tubuhnya. Mukena yang tidak lagi putih cemerlang. Sambil berjalan, Inea memantapkan hati tetap menggunakan mukena itu selama Ramadhan tahun ini karena Inea percaya, Tuhan Maha Melihat dan tidak membedakan umatnya dari mukena yang dikenakannya.

“Ups, hampir lupa,” ketus Inea kembali ke kamar sambil menyambar sajadah.

About angscript

Aku hanyalah jurnalis kecil yang bekerja di media kecil di sebuah kota kecil dan menghadapi masalah-masalah kecil dan orang-orang kecil. Tulisan ini hanyalah tentang hal-hal kecil agar aku bisa belajar berkata-kata, saat kata belum terbungkam dan kata masih bisa menjadi senjata. Jangan dianggap serius!!! Lihat semua pos milik angscript

4 responses to “Mukena putih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: