Monthly Archives: Oktober 2009

T.A.S., Sang Pemula & ¼ Abadku…

Tirto Adhi SoerjoBeberapa hari yang lalu, dalam sebuah obrolan di wedangan depan Yahoo Kalitan seorang kawan mengusulkan adanya sebuah kegiatan dari kawan-kawan jurnalis di Solo untuk mengenang seseorang yang bernama Raden Mas Tirto Adhi Soerjo (TAS).

Kawan dari sebuah media online terkemuka itu menceritakan tentang peran besar TAS dalam dunia jurnalisme di Indonesia. Peran TAS yang begitu besar bagi bangsa ini terutama dunia jurnalistik ternyata belum terlalu terdengar gaungnya hingga saat ini. Meski sudah mendapatkan gelar pahlawan nasional, namun nama TAS masih terlalu asing bagi masyarakat umum, bahkan terasa asing bagi sebagian kalangan jurnalis.

“Terlalu sayang jika begi saja melupakan peran TAS. Mungkin belum banyak diungkap karena sebagian pengikutnya condong kiri, termasuk Mas Marco (Mas Marco Kartodikromo),” seloroh dia.

Obrolan mengenai TAS malam itu seakan membawaku kembali ke masa lalu, beberapa tahun yang lalu. Masih teringat jelas kisah Minke dalam Tetralogi Pulau Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca) karya Pramoedya Ananta Toer (PAT). Masih teringat juga sebuah buku pemberian dari seorang kawan yang berjudul Sang Pemula karya PAT pula. Buku-buku itu mengisahkan tentang seseorang yang bernama TAS.

“Dialah Sang Pemula! Dialah Sang Penyuluh itu!” kata Muhidin M Dahlan dalam pengantar buku Sang Pemula.

Buku-buku itu kebetulan terbaca saat harapan menjadi jurnalis membumbung tinggi. Ketika impian sejak SMA mulai terasa jelas arahnya. Dan buku-buku itu seakan menjadi ‘kitab suci’ pengawal diri menuju dunia jurnalisme sambil berharap bisa menjadi ‘Sang Pemula Baru’. Betapa tidak aku punya mimpi menjadi ‘Sang Pemula Baru’, ketika itu TAS yang mempunyai nama kecil Djokomono sejak umur 14-15 tahun telah mengirimkan berbagai tulisan ke sejumlah surat kabar terbitan Betawi.

Aksi tulis menulis, TAS yang mengenyam pendidikan di Stovia (sekolah dokter) itu berlanjut dengan membantu menulis di Chabar Hindia Olanda, kemudian pembantu di Pembrita Betawi, pembantu tetap Pewarta Priangan yang hanya berumur pendek. Salah satu karya jurnalistiknya yang gilang gemilang adalah membongkar skandal Residen Madiun JJ Donner. Kala itu, Donner menurunkan Bupati Madiun Brotodiningrat dengan membuat persekongkolan dengan Patih dan Jaksa Kepala Madiun.

Begitu tajamnya pena TAS hingga akhirnya dia harus berhadapan dengan pengasa Hindia Belanda. Namun, itu semua tidak menyurutkan langkahnya. Hingga Januari 1907, menjadi tonggak berdirinya surat kabar pertama di Indonesia yang dibidani TAS dengan lahirnya Medan Prijaji. Surat kabar ini disebut sebagai koran pertama di Indonesia karena semuanya dikelola oleh pribumi dengan uang dan perusahaan sendiri.

Medan Prijaji

Tidak bisa aku bayangkan, di tengah sikap represif dari penguasa ditambah lagi belum adanya UU Pers yang melindunginya, TAS tak gentar memperjuangkan nasib bangsanya melalui tulisan. Dan kalau boleh aku meminjam istilah anak muda jaman sekarang, saya ngefans dengan TAS.

Aku masih punya mimpi menjadi ‘Sang Pemula Baru’ meski belum melakukan apa-apa. Meski belum berbuat apa-apa hingga umur ¼ abad, tapi mimpi menjadi seperti Sang Pemula itu tak pernah padam. Punya mimpi bisa menjadi seperti TAS seperti yang dikatakan Mas Marco,

“Raden Mas Tirto Adhi Soerjo, jang seorang bangsawan asali dan joega bangsawan kafikiran, Boemipoetra jang pertama kali mendjabat Journalist; boleh bilang toean T.A.S. indoek Journalist Boemipoetra di ini tanah Djawa, tadjam sekali beliau poenya penna, banjak Pembesar-Pembesar jang kena critieknja djadi moentah darah dan sebagian besar soeka memperbaiki kelakoeannja jang koerang senonoh.”

Iklan

Balada (Razia) PSK…

Dua tubuh perempuan yang telah kaku diangkat dari Sungai Kali Anyar, Solo. Sudah tidak ada tanda-tanda kehidupan, mereka sudah tenggelam di sungai itu lebih dari 10 jam.

Namanya Dita dan Winarsih. Tak ada tanda pengenal yang ditemukan dari tubuh Winarsih yang tuna wicara. Dari kantong celananya hanya ada secarik kertas dari Panti Wanita Karta Utama Solo, sebuah panti rehabilitasi bagi pekerja seks komersial (PSK) di Solo.

Dalam surat itu, tertera jelas namanya. Dari surat itu pula diketahui, Winarsih adalah penghuni panti itu yang sedang cuti Lebaran. Sedangkan Dita, meski tidak ada kartu pengenal karena polisi hanya menemukan sebuah Ponsel dan uang Rp 50.000, tapi ibunya, Marni yang melihat proses evakuasi dengan mudah mengenali wajah anaknya. Tangis histeris Marni tidak lagi tertahan melihat Dita sudah tak bernyawa.

Nasib Dita dan Winarsih memang tidak beruntung. Bersama empat teman mereka yang biasa mangkal di pangkalan travel Gilingan, mereka lari tunggang langgang hingga puluhan meter menyelamatkan diri dari razia.

Saat terpojok, hanya ada sungai yang ada di depan mereka hingga akhirnya menceburkan diri ke sungai adalah pilihan. Namun, nahas, tempat mereka menyebur adalah kedung yang memiliki kedalaman lebih dari dua meter. Empat PSK bisa diselamatkan warga dan Dita serta Winarsih harus meregang nyawa.

Tidak ada yang bisa memastikan aparat mana yang melakukan razia. Beberapa warga bilang jika Satpol PP yang merazia, namun pihak Satpol PP membantah melakukan razia, Sabtu malam. Polisipun mengaku tidak melakukan razia malam itu. Beberapa orang mengaku melihat mobil Satpol PP melinta tidak jauh dari lokasi, namun tidak diketahui apakah mereka hanya melintas atau razia.

Sedangkan mobil polisi juga sempat melintas di daerah itu, namun polisi mengaku jika mereka menuju daerah lain untuk operasi hasil-hasil hutan, bukan razia PSK. Keluarga memang telah menerima kematian dua orang itu, namun apakah ini akhir dari kisah duka mereka. Tak ada yang tahu…


%d blogger menyukai ini: