Balada (Razia) PSK…

Dua tubuh perempuan yang telah kaku diangkat dari Sungai Kali Anyar, Solo. Sudah tidak ada tanda-tanda kehidupan, mereka sudah tenggelam di sungai itu lebih dari 10 jam.

Namanya Dita dan Winarsih. Tak ada tanda pengenal yang ditemukan dari tubuh Winarsih yang tuna wicara. Dari kantong celananya hanya ada secarik kertas dari Panti Wanita Karta Utama Solo, sebuah panti rehabilitasi bagi pekerja seks komersial (PSK) di Solo.

Dalam surat itu, tertera jelas namanya. Dari surat itu pula diketahui, Winarsih adalah penghuni panti itu yang sedang cuti Lebaran. Sedangkan Dita, meski tidak ada kartu pengenal karena polisi hanya menemukan sebuah Ponsel dan uang Rp 50.000, tapi ibunya, Marni yang melihat proses evakuasi dengan mudah mengenali wajah anaknya. Tangis histeris Marni tidak lagi tertahan melihat Dita sudah tak bernyawa.

Nasib Dita dan Winarsih memang tidak beruntung. Bersama empat teman mereka yang biasa mangkal di pangkalan travel Gilingan, mereka lari tunggang langgang hingga puluhan meter menyelamatkan diri dari razia.

Saat terpojok, hanya ada sungai yang ada di depan mereka hingga akhirnya menceburkan diri ke sungai adalah pilihan. Namun, nahas, tempat mereka menyebur adalah kedung yang memiliki kedalaman lebih dari dua meter. Empat PSK bisa diselamatkan warga dan Dita serta Winarsih harus meregang nyawa.

Tidak ada yang bisa memastikan aparat mana yang melakukan razia. Beberapa warga bilang jika Satpol PP yang merazia, namun pihak Satpol PP membantah melakukan razia, Sabtu malam. Polisipun mengaku tidak melakukan razia malam itu. Beberapa orang mengaku melihat mobil Satpol PP melinta tidak jauh dari lokasi, namun tidak diketahui apakah mereka hanya melintas atau razia.

Sedangkan mobil polisi juga sempat melintas di daerah itu, namun polisi mengaku jika mereka menuju daerah lain untuk operasi hasil-hasil hutan, bukan razia PSK. Keluarga memang telah menerima kematian dua orang itu, namun apakah ini akhir dari kisah duka mereka. Tak ada yang tahu…

About angscript

Aku hanyalah jurnalis kecil yang bekerja di media kecil di sebuah kota kecil dan menghadapi masalah-masalah kecil dan orang-orang kecil. Tulisan ini hanyalah tentang hal-hal kecil agar aku bisa belajar berkata-kata, saat kata belum terbungkam dan kata masih bisa menjadi senjata. Jangan dianggap serius!!! Lihat semua pos milik angscript

2 responses to “Balada (Razia) PSK…

  • Nyoto

    Kadang nyawa PSK dianggap tak ada artinya, suatu kekurang ajaran warisan kita…Dia dianggap orang sia-sia. Hingga suatu kali, seorang PSK yang sering kena garuk nyeletuk: “Ya, pejabat memang nggak pernah ngrasain jadi anak pelacur melarat lagi…”
    Jadi, marilah kita doakan mereka, semoga tetap menuju surga, karena dia berjuang untuk anak-anak dan keluarganya…Sebab, kita tak mau mengawini dan menyelamatkannya…
    Yang saya tahu dua PSK itu bukan lalat, yang mudah saja ditepas kipas atau serbet, mati begitu saja…
    Kaum yang sering atas nama moral, seperti sering kita dengar bicara di koran-koran, memang tak pernah merasakan bagaimana anak-anak atau keluarga PSK itu menderita.
    PSK bukan binatang. Ia sering disebut sampah, jangan-jangan kita sering korupsi, kemudian berucap: Allhamdullilah, Puji Tuhan atau sejenisnya biar religius, tapi sebenarnya giginya sudah jadi taring menyedot rezeki yang bukan haknya. Ini lebih keji dari PSK yang hanya mendapatkan uang hidup sekadar hari esok…

  • angscript

    @ P.Nyoto:mereka tetaplah bagian dari masyarakat yang tidak bisa dipungkiri keberadaannya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: