Monthly Archives: November 2009

Kisah Bib & Ponpesnya…

Mata sebelah kirinya masih lebam. Ada warna merah kebiru-biruan di kantong mata kirinya itu. Darah di telinga kirinya sudah mengering. Dia hanya bisa duduk termenung menatap layar televisi sambil lalu.

Panggil saja dia dengan nama Bib. Dia masih sibuk dengan pikirannya sendiri. Entah apa yang sedang ada dalam pikiran laki-laki muda berumur 22 tahun ini. Mungkin Bib sedang memikirkan tentang apa yang telah diperbuatnya dini hari tadi. Mungkin juga kata hatinya sedang berkata-kata tentang arti tobat.

“Dari belakang saya turunkan celananya selutut. Dia sedang tidur jadi tidak tahu, tapi baru sebentar ada yang lihat,” kata Bib lirih.

Perbuatannya itulah yang akhirnya membawa santri pondok pesantren (Ponpes) di Solo ini berada di kantor kepolisiaan. Dalam keremangan malam di sebuah asrama Ponpes di salah satu sudut Solo, Bib belum tidur.

Dia menuju ranjang santri lainnya, santri baru yang masih duduk di bangku SMP. Usia bocah itu terpaut 10 tahun dari usianya. Dengan begitu tenangnya Bib menurunkan celana bocah itu. Dan, semua terjadi begitu cepatnya.

Namun, sepertinya nasib tidak berpihak kepadanya. Santri lainnya mengetahui perbuatan Bib. Ketenangan malam di Ponpes itu terusik. Santri-santri terbangun. Dan Bib hanya bisa pasrah ketika beberapa tangan santri lainnya dengan keras menghujani wajahnya.

“Tidak pernah ada perempuan di pondok, laki-laki semua,” itulah kata meluncur dari mulut Bib berikutnya.

Dia masih tertunduk lesu. Beberapa polisi yang ada dalam ruangan itu juga masih sibuk dengan aktivitasnya sendiri. Seperti sedang membuat ‘pengakuan dosa’, remaja itu berujar pelan, perbuatannya malam itu bukanlah perbuatan pertamanya. Bib mengaku, beberapa santri lainnya sudah pernah menjadi ‘korban’-nya. Suaranya semakin pelan ketika dia mengaku sudah 10 kali melakukan perbuatan itu.

Seperti membuat pembelaan atas apa yang telah dilakukannya, dia tidak sendirian. Apa yang dilakukannya terhadap santri baru malam itu, juga pernah dilakukan santri-santri lainnya. Bahkan, dia mengaku hanya ikut-ikutan apa yang dilakukan santri lainnya. “Dulu ada yang seperti itu, terutama yang dari luar Jawa, tapi tidak pernah ketahuan.”

Dari masuk SMP hingga lulus SMA dan kini dia bekerja di sebuah percetakan di Solo, kehidupan Bib tidak pernah lepas dari Ponpes itu. Ponpes yang mengajarkan tentang ilmu pengetahuan dan agama. Tempat dimana dogma-dogma agama dan ilmu pengetahuan digali dan dikaji.

Bib sangat paham dan tahu apa yang telah dilakukannya malam itu tidak dapat dibenarkan dari sudut pandang agama. Dia tahu dalam agama itu disebut dengan dosa. Cukup lama dia terdiam tanpa kata dan tiba-tiba dia beranjak bangkit dari kursi panjang menuju salah seorang polisi. Dia meminta izin agar diberi kesempatan untuk sembahyang menghadap Tuhan. “Saya disuruh tobat,” ucap dia.


Para Penunggu ‘Kotak Amal’

Kantor kecamatan masih lengang. Seperti biasa dan telah menjadi rahasia umum, para pegawainya mengisi waktu pagi dengan bersantai, baca koran, ngerumpi hingga nge-game. Beberapa lembar kertas berkas pendukung agar bisa mendapatkan kartu identitas resmi di negeri ini aku sodorkan di sebuah loket yang ditunggui seorang perempuan.

Dibolak-balik berkas itu, ditanyai aku soal keberadaan KTP lama. “Ini formulir dari desa kurang. Ke desa dulu, nanti baru balik sini,” ujar dia singkat.

Meski sudah seperempat abad, baru kali ini aku mengurus KTP sendirian. Biasanya pembuatan KTP aku titipkan ke Pak Kadus. Tentu aku punya alasan sakti, kesibukan hingga akhirnya tidak memungkinkan aku mengurus KTP sendirian. Dan itupun sudah menjadi pemakluman. Cukup setor beberapa lembar pas foto, fotokopi kartu keluarga dan uang jalan, sore hari, KTP pesanan itu sudah diantar ke rumah.

Tapi kali ini, aku tidak bisa menghindar dari pembuatan KTP. Sekarang untuk membuat KTP, pemohonnya harus datang ke kecamatan sendiri karena pengambilan foto dilakukan di tempat itu. Berbeda dengan yang sebelumnya, cetakan foto ukuran 2×3 tertempel di KTP, tapi sekarang foto itu dengan model komputerisasi.

Kembali ke cerita awal, aku pacu motorku menuju kantor desa, mengurus formulir yang kurang itu. Karena masih di desa, unggah-ungguh dengan para pamong desa. Selain ramah dan cekatan, pamong desa itu mengerti kebutuhan warganya yang tergesa-gesa membutuhkan KTP. Tanpa aku bilang, formulir itu isinya dengan cepat. “Sudah mas tandatangani di sini dan di lembar satunya,” kata dia.

Aku pikir urusan sudah selesai. Tapi ternyata belum. Dia pandangi aku sebentar kemudian arah matanya melirik ke sebuah kotak yang ada di pojok meja. Kotak itu mirip kotak amal di masjid-masjid. “4 Ribu saja mas,” ketus dia.

Dan aku hanya mengangguk, tangan merogoh saku celana dan menemukan uang pecahan 5 ribuan. Aku serahkan kepada pamong itu, tapi dia kembali melirik ke ‘kotak amal’ itu. Aku masukkan uang itu, ke dalam ‘kotak amal’ menuruti sinyal yang diberikannya. Aku masih berdiri dihadapannya, seperti menunggu sesuatu.

“Silahkan mbak, ini diisi sebelah sini, nomor KK-nya jangan sampai salah,” kata dia memberikan arahan kepada seorang perempuan kawan SD-ku dulu yang mengantre dibelakangku dan sepertinya pamong itu melupakan diri jika seharusnya dia memberikan kembalian seribu.

Kaki ini melangkah pergi meninggalkan kantor desa. Tidak ada perasaan dongkol atau jengkel kepada pamong itu. Aku mengikhlaskan uang itu. Tapi yang sebenarnya cukup mengganjal adalah dia sepertinya pura-pura urusanku sudah selesai. Kalau dia ngomong, “Yang seribu diikhlasin ya mas, buat amal,” mungkin itu lebih baik.

Segera aku kembali ke kantor kecamatan. Berkas kembali dicek dan semuanya sudah lengkap. “10 Ribu, tunggu sebentar, nanti dipanggil untuk foto,” kata pegawai perempuan yang tadi.

Aku serahkan uang pecahan 50 ribu. Sempat aku berpikir, kalau kali ini tidak diberi kembalian, bisa naik darah. Ternyata aku sudah buruk sangka setelah kejadian di kantor desa tadi. “Ini mas,” ujar perempuan itu menyerahkan uang pecahan 20 ribu dua lembar tanpa menyertakan kuitansi tanda pembuatan KTP.

Setelah foto beberapa saat menunggu, surat sakti saat razia Satpol PP itu telah jadi. Warnanya biru. Bahannya masih sama seperti yang dulu, tipis dan harus dilaminating. Yang membedakan hanya fotonya saja, dulu pakai cetak foto 2×3, sekarang digital foto. Karena aku butuh legalisasi fotokopi KTP, maka aku tanyakan sekalian soal itu dan perempuan itu menjawab, “Silahkan dicek dan ditandatangani kalau datanya sudah benar. Baru difotokopi, nanti dilegalisir,” kata dia dengan ramah.

Aku baca data yang ada dalam KTP itu, semuanya benar. Tempat lahirku yang dulu sering salah sudah benar. Lima lembar fotokopi KTP kembali aku sodorkan kepada pegawai lainnya, juga perempuan. Tanganya begitu cekatan menandatangani lembaran-lembaran itu, membubuhkan stempel yang kalau tidak salah sampai ada tiga stempel yang dibubuhkan dalam satu lembar fotokopi itu.

Tepat saat dia menyodorkan kembali lembaran fotokopi itu, ada panggilan yang masuk ke Ponselku. Aku berbicara dengan rekan kerja, tapi mata ini beradu pandangan dengan perempuan tukang legalisasi itu. Saat kami beradu pandangan, matanya melirik ke kanan, tertuju pada sebuah kotak. Kotak yang ukurannya lebih besar dari kotak di kantor desa, tapi bentuknya sama seperti ‘kotak amal’.

Aku hanya menganggukan kepala, tanganku meraba-raba kantong celana berharap ada beberapa lembar ribuan. Perempuan itu masih menunggu, dengan sedikit kode dia menganggukkan kepala dan matanya kembali melirik ke ‘kotak amal’. Beberapa lembar uang ribuan aku masukkan dan bergegas pergi dari kantor kecamatan.

Sudah tidak aku pikirkan lagi soal ikhlas atau tidak, ridho atau tidak uang itu karena aku harus bergegas, urusanku masih banyak. Segera saja aku ke kantor pos dan menuju ATM mengambil uang. Di dua tempat itu baik di kantor pos ataupun ATM, tepat di pintu keluar, ada perempuan tua mengulurkan tangannya mengharap iba. Dia membawa ‘kotak amal’ dalam bentuk yang lain. Aku berpikir, lalu apa bedanya pamong desa dan perempuan tukang legislasi KTP dengan dua perempuan pengharap iba dari sesama? Aku juga tidak tahu…


Facebook & “Lilin”

Jarum jam menunjukkan waktu setengah lima sore saat aku nge-save tulisan terakhir. Setelah kumatikan komputer, kaki ini melangkah menuju pintu keluar meninggalkan kantor. Tepat ketika tangan ini memegang gagang pintu aku mendengar selorohan seorang kawan, “Ayo buruan update status, setengah jam maneh wis diblokir,” ujar dia.

Sore itu, lantai II kantor tempatku bekerja sedikit gayeng. Banyak dari kami membicarakan soal pembatasan penggunaan jejaring sosial Facebook (FB). Aku bilang, pembatasan karena memang pada kenyataannya, FB tetap masih bisa diakses meski hanya pada jam-jam tertentu saja. Dan pada jam-jam tertentu lainnya, situs jejaring sosial itu diblokir.

Adanya pembatasan akses FB di kantor sebenarnya bukan hal baru lagi. Beberapa perusahaan di Indonesia telah melakukannya. Aku dengar dari beberapa kawan seprofesi, di kantor mereka FB 100% diblokir. Bahkan, konon katanya 54% perusahaan di Amerika telah memblokir situs jejaring sosial seperti FB dan twitter.

Bagiku, pembatasan akses itu tidak berdampak sama sekali. Selama ini, aku sangat jarang menggunakan fasilitas internet di kantor dan lebih suka ber-pesbuk ria di kamar kos. Banyak pihak menilai, orang-orang yang keranjingan dengan FB akhirnya menurunkan kinerja karena orang-orang asik update status, komentar foto, komentar status kawan hingga nge-game Mafia Wars. Tapi yang paling menarik dari jejaring sosial ini adalah FB menjadi ajang komunikasi yang efektif.

Banyak pihak yang memanfaatkan jejaring sosial ini sebagai tempat interaksi sosial. Tidak hanya berhenti sampai adanya komunikasi dan interaksi sosial, namun FB juga telah menjadi sebuah kekuatan besar layaknya sebuah media massa yang bisa membangun opini publik. Dulu ketika kasus Prita Mulyasari mencuat, ada grup khusus untuk mendukungnya, ada pula grup mendukung Pulau Komodo menjadi tujuh keajaiban dunia.

Dan yang terbaru adalah adanya grup Gerakan 1.000.000 Facebookers Dukung Chandra Hamzah & Bibit Samad Riyanto. Gerakan yang digagas oleh Usman Yasin ini akhirnya menjadi opini yang tidak hanya berkembang bagi para facebookers saja, namun juga bagi masyarakat umum yang tidak memiliki akun FB. Ketika grup ini dibuat, media massa mulai dari koran hingga TV mengungkapkan fakta ini. Bahkan, beberapa TV memantau tiap berapa jam melihat perkembangan jumlah anggota grup ini. Opini itu terus menggelinding ke masyarakat luas, seluas jangkauan media massa itu.

Melihat kenyataan itu, jejaring sosial ini tidak bisa dianggap sebelah mata. Dia telah berdiri kokoh menjadi salah satu bagian dari “media alternatif” di luar media massa konvensional. Komunikasi dan interaksi sosial yang dibangun telah menembus batas ruang dan waktu hingga akhirnya opini publik yang ada di dalam jejaring sosial ini telah menyebar hingga masyarakat luas.

Mungkin ini adalah pola baru adanya media alternatif yang dampaknya bakal bisa mengimbangi media konvensional. Namun, apapun itu, dampak baik atau buruknya jejaring sosial itu, jejaring sosial ini seakan telah mengikuti slogan The Cincinnati Post, “Hidupkan lilin, dan orang-orang akan menemukan jalannya sendiri.”


%d blogger menyukai ini: