Facebook & “Lilin”

Jarum jam menunjukkan waktu setengah lima sore saat aku nge-save tulisan terakhir. Setelah kumatikan komputer, kaki ini melangkah menuju pintu keluar meninggalkan kantor. Tepat ketika tangan ini memegang gagang pintu aku mendengar selorohan seorang kawan, “Ayo buruan update status, setengah jam maneh wis diblokir,” ujar dia.

Sore itu, lantai II kantor tempatku bekerja sedikit gayeng. Banyak dari kami membicarakan soal pembatasan penggunaan jejaring sosial Facebook (FB). Aku bilang, pembatasan karena memang pada kenyataannya, FB tetap masih bisa diakses meski hanya pada jam-jam tertentu saja. Dan pada jam-jam tertentu lainnya, situs jejaring sosial itu diblokir.

Adanya pembatasan akses FB di kantor sebenarnya bukan hal baru lagi. Beberapa perusahaan di Indonesia telah melakukannya. Aku dengar dari beberapa kawan seprofesi, di kantor mereka FB 100% diblokir. Bahkan, konon katanya 54% perusahaan di Amerika telah memblokir situs jejaring sosial seperti FB dan twitter.

Bagiku, pembatasan akses itu tidak berdampak sama sekali. Selama ini, aku sangat jarang menggunakan fasilitas internet di kantor dan lebih suka ber-pesbuk ria di kamar kos. Banyak pihak menilai, orang-orang yang keranjingan dengan FB akhirnya menurunkan kinerja karena orang-orang asik update status, komentar foto, komentar status kawan hingga nge-game Mafia Wars. Tapi yang paling menarik dari jejaring sosial ini adalah FB menjadi ajang komunikasi yang efektif.

Banyak pihak yang memanfaatkan jejaring sosial ini sebagai tempat interaksi sosial. Tidak hanya berhenti sampai adanya komunikasi dan interaksi sosial, namun FB juga telah menjadi sebuah kekuatan besar layaknya sebuah media massa yang bisa membangun opini publik. Dulu ketika kasus Prita Mulyasari mencuat, ada grup khusus untuk mendukungnya, ada pula grup mendukung Pulau Komodo menjadi tujuh keajaiban dunia.

Dan yang terbaru adalah adanya grup Gerakan 1.000.000 Facebookers Dukung Chandra Hamzah & Bibit Samad Riyanto. Gerakan yang digagas oleh Usman Yasin ini akhirnya menjadi opini yang tidak hanya berkembang bagi para facebookers saja, namun juga bagi masyarakat umum yang tidak memiliki akun FB. Ketika grup ini dibuat, media massa mulai dari koran hingga TV mengungkapkan fakta ini. Bahkan, beberapa TV memantau tiap berapa jam melihat perkembangan jumlah anggota grup ini. Opini itu terus menggelinding ke masyarakat luas, seluas jangkauan media massa itu.

Melihat kenyataan itu, jejaring sosial ini tidak bisa dianggap sebelah mata. Dia telah berdiri kokoh menjadi salah satu bagian dari “media alternatif” di luar media massa konvensional. Komunikasi dan interaksi sosial yang dibangun telah menembus batas ruang dan waktu hingga akhirnya opini publik yang ada di dalam jejaring sosial ini telah menyebar hingga masyarakat luas.

Mungkin ini adalah pola baru adanya media alternatif yang dampaknya bakal bisa mengimbangi media konvensional. Namun, apapun itu, dampak baik atau buruknya jejaring sosial itu, jejaring sosial ini seakan telah mengikuti slogan The Cincinnati Post, “Hidupkan lilin, dan orang-orang akan menemukan jalannya sendiri.”

About angscript

Aku hanyalah jurnalis kecil yang bekerja di media kecil di sebuah kota kecil dan menghadapi masalah-masalah kecil dan orang-orang kecil. Tulisan ini hanyalah tentang hal-hal kecil agar aku bisa belajar berkata-kata, saat kata belum terbungkam dan kata masih bisa menjadi senjata. Jangan dianggap serius!!! Lihat semua pos milik angscript

2 responses to “Facebook & “Lilin”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: