Para Penunggu ‘Kotak Amal’

Kantor kecamatan masih lengang. Seperti biasa dan telah menjadi rahasia umum, para pegawainya mengisi waktu pagi dengan bersantai, baca koran, ngerumpi hingga nge-game. Beberapa lembar kertas berkas pendukung agar bisa mendapatkan kartu identitas resmi di negeri ini aku sodorkan di sebuah loket yang ditunggui seorang perempuan.

Dibolak-balik berkas itu, ditanyai aku soal keberadaan KTP lama. “Ini formulir dari desa kurang. Ke desa dulu, nanti baru balik sini,” ujar dia singkat.

Meski sudah seperempat abad, baru kali ini aku mengurus KTP sendirian. Biasanya pembuatan KTP aku titipkan ke Pak Kadus. Tentu aku punya alasan sakti, kesibukan hingga akhirnya tidak memungkinkan aku mengurus KTP sendirian. Dan itupun sudah menjadi pemakluman. Cukup setor beberapa lembar pas foto, fotokopi kartu keluarga dan uang jalan, sore hari, KTP pesanan itu sudah diantar ke rumah.

Tapi kali ini, aku tidak bisa menghindar dari pembuatan KTP. Sekarang untuk membuat KTP, pemohonnya harus datang ke kecamatan sendiri karena pengambilan foto dilakukan di tempat itu. Berbeda dengan yang sebelumnya, cetakan foto ukuran 2×3 tertempel di KTP, tapi sekarang foto itu dengan model komputerisasi.

Kembali ke cerita awal, aku pacu motorku menuju kantor desa, mengurus formulir yang kurang itu. Karena masih di desa, unggah-ungguh dengan para pamong desa. Selain ramah dan cekatan, pamong desa itu mengerti kebutuhan warganya yang tergesa-gesa membutuhkan KTP. Tanpa aku bilang, formulir itu isinya dengan cepat. “Sudah mas tandatangani di sini dan di lembar satunya,” kata dia.

Aku pikir urusan sudah selesai. Tapi ternyata belum. Dia pandangi aku sebentar kemudian arah matanya melirik ke sebuah kotak yang ada di pojok meja. Kotak itu mirip kotak amal di masjid-masjid. “4 Ribu saja mas,” ketus dia.

Dan aku hanya mengangguk, tangan merogoh saku celana dan menemukan uang pecahan 5 ribuan. Aku serahkan kepada pamong itu, tapi dia kembali melirik ke ‘kotak amal’ itu. Aku masukkan uang itu, ke dalam ‘kotak amal’ menuruti sinyal yang diberikannya. Aku masih berdiri dihadapannya, seperti menunggu sesuatu.

“Silahkan mbak, ini diisi sebelah sini, nomor KK-nya jangan sampai salah,” kata dia memberikan arahan kepada seorang perempuan kawan SD-ku dulu yang mengantre dibelakangku dan sepertinya pamong itu melupakan diri jika seharusnya dia memberikan kembalian seribu.

Kaki ini melangkah pergi meninggalkan kantor desa. Tidak ada perasaan dongkol atau jengkel kepada pamong itu. Aku mengikhlaskan uang itu. Tapi yang sebenarnya cukup mengganjal adalah dia sepertinya pura-pura urusanku sudah selesai. Kalau dia ngomong, “Yang seribu diikhlasin ya mas, buat amal,” mungkin itu lebih baik.

Segera aku kembali ke kantor kecamatan. Berkas kembali dicek dan semuanya sudah lengkap. “10 Ribu, tunggu sebentar, nanti dipanggil untuk foto,” kata pegawai perempuan yang tadi.

Aku serahkan uang pecahan 50 ribu. Sempat aku berpikir, kalau kali ini tidak diberi kembalian, bisa naik darah. Ternyata aku sudah buruk sangka setelah kejadian di kantor desa tadi. “Ini mas,” ujar perempuan itu menyerahkan uang pecahan 20 ribu dua lembar tanpa menyertakan kuitansi tanda pembuatan KTP.

Setelah foto beberapa saat menunggu, surat sakti saat razia Satpol PP itu telah jadi. Warnanya biru. Bahannya masih sama seperti yang dulu, tipis dan harus dilaminating. Yang membedakan hanya fotonya saja, dulu pakai cetak foto 2×3, sekarang digital foto. Karena aku butuh legalisasi fotokopi KTP, maka aku tanyakan sekalian soal itu dan perempuan itu menjawab, “Silahkan dicek dan ditandatangani kalau datanya sudah benar. Baru difotokopi, nanti dilegalisir,” kata dia dengan ramah.

Aku baca data yang ada dalam KTP itu, semuanya benar. Tempat lahirku yang dulu sering salah sudah benar. Lima lembar fotokopi KTP kembali aku sodorkan kepada pegawai lainnya, juga perempuan. Tanganya begitu cekatan menandatangani lembaran-lembaran itu, membubuhkan stempel yang kalau tidak salah sampai ada tiga stempel yang dibubuhkan dalam satu lembar fotokopi itu.

Tepat saat dia menyodorkan kembali lembaran fotokopi itu, ada panggilan yang masuk ke Ponselku. Aku berbicara dengan rekan kerja, tapi mata ini beradu pandangan dengan perempuan tukang legalisasi itu. Saat kami beradu pandangan, matanya melirik ke kanan, tertuju pada sebuah kotak. Kotak yang ukurannya lebih besar dari kotak di kantor desa, tapi bentuknya sama seperti ‘kotak amal’.

Aku hanya menganggukan kepala, tanganku meraba-raba kantong celana berharap ada beberapa lembar ribuan. Perempuan itu masih menunggu, dengan sedikit kode dia menganggukkan kepala dan matanya kembali melirik ke ‘kotak amal’. Beberapa lembar uang ribuan aku masukkan dan bergegas pergi dari kantor kecamatan.

Sudah tidak aku pikirkan lagi soal ikhlas atau tidak, ridho atau tidak uang itu karena aku harus bergegas, urusanku masih banyak. Segera saja aku ke kantor pos dan menuju ATM mengambil uang. Di dua tempat itu baik di kantor pos ataupun ATM, tepat di pintu keluar, ada perempuan tua mengulurkan tangannya mengharap iba. Dia membawa ‘kotak amal’ dalam bentuk yang lain. Aku berpikir, lalu apa bedanya pamong desa dan perempuan tukang legislasi KTP dengan dua perempuan pengharap iba dari sesama? Aku juga tidak tahu…

About angscript

Aku hanyalah jurnalis kecil yang bekerja di media kecil di sebuah kota kecil dan menghadapi masalah-masalah kecil dan orang-orang kecil. Tulisan ini hanyalah tentang hal-hal kecil agar aku bisa belajar berkata-kata, saat kata belum terbungkam dan kata masih bisa menjadi senjata. Jangan dianggap serius!!! Lihat semua pos milik angscript

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: