Monthly Archives: Desember 2009

Surat terbuka untuk George Junus Aditjondro

Bung George, sebelumnya saya sampaikan salam hormat saya untuk Anda. Bung George, mencermati perkembangan terkini mengenai kontroversial buku Gurita Cikeas karya Anda, maka tergerak hati saya untuk menuliskan sebuah surat terbuka untuk Anda.

George Junus Anditjondro, selama ini Anda dikenal luas oleh masyarakat sebagai seorang sosiolog, mantan jurnalis dan juga dosen. Karya-karya Anda juga sudah cukup banyak dikenal khalayak umum. Harus saya akui, sampai detik ini saya belum membaca buku Gurita Cikeas yang telah menimbulkan pro dan kontra itu. Namun, saya mengikuti perkembangan pro dan kontra itu melalui media massa.

Dari tayangan televisi, banyak pihak dan kalangan yang merasa namanya disudutkan dalam buku itu mengkomplain dan mengecam keras-keras jika buku karya Anda tidak akurat. Datanya tidak valid. Karena saya belum membaca buku itu, tidak etis saya ikut-ikutan memberikan tanggapan soal buku itu. Meski saya sadari juga saya bukan siapa-siapa dan tanggapan saya juga tidak ada artinya.

Bung George yang terhormat, saya hanya ingin mengatakan kepada Anda, bahwa kontroversi mengenai buku Anda ini telah menunjukkan sifat asli orang-orang di negeri ini yang masih menjunjung tinggi budaya oral (budaya bicara). Itulah kenyataan yang ada, ketika Anda dengan keyakinan diri dan kepercayaan yang tinggi berani mengatakan pendapat Anda melalui sebuah karya tulisan. Sedangkan mereka merasa disudutkan dalam tulisan Anda itu melakukan pembantahan kata-kata, tanpa pernah menunjukkan data.

Mereka hanya pintar berbicara, bisa berkata-kata, tapi tidak pernah menunjukkan data pembanding untuk menandingi data yang sudah Anda rilis dalam buku itu. Mereka hanya mengatakan, data Bung George tidak valid, tapi tidak berani mengungkapkan data versi mereka.

Maka sungguh harus saya katakan kepada Anda George Junus Anditjondro, saya menaruh hormat kepada Anda. Anda memilih berkata-kata melalui sebuah tulisan, bukan hanya kata-kata yang terucap melalui mulut. Seperti sebuah pepatah, scripta manent verba volant, yang tertulis akan mengabadi, yang terucap akan berlalu bersama angin.

PS. Semoga launching bukunya lancar.

Salam hormat,

angscript


Satu hari tentang revolusi…

Sayup-sayup teriakan “Revolusi…revolusi sampai mati,” semakin nyaring terdengar. Dengan panji-panji kebesaran masing-masing kelompoknya, para anak muda itu seakan tidak pernah lelah berteriak, bernyanyi dan berorasi.

Patung Slamet Riyadi di Gladak menjadi saksi betapa mereka para anak muda itu telah mengucurkan keringatnya untuk untuk sebuah kata tidak pada korupsi. Kami para saksi kejadian, merekam apa yang melakukan, menulis ulang apa yang mereka katakan, mengambarkan apa yang mereka telah perbuat. Kami telah berjanji untuk menjadi saksi sejarah.

Sang Korlap terus memandu para demonstran, ketika rombongan agen perubahan itu melintas di depan kami. Lagu-lagu perjuangan dan perlawanan seakan tidak pernah ada habisnya dan sayup-sayup teriakan “Revolusi…revolusi sampai mati,” terus menggelegar.

Ah, revolusi mengapa kata itu begitu sakti. Tan Malaka pernah bertutur, revolusi bukanlah suatu pendapatan otak yang luar biasa, bukan hasil persediaan yang jempolan dan bukan lahir atas perintah seorang manusia yang luar biasa. Itu yang Tan Malaka katakan di buku Aksi Massa, buku yang digunakan Soekarno sebagai panduan dalam menggalang aksi revolusi di negeri ini.

Apakah revolusi itu akan tiba hari ini atau esok, seperti revolusi 45 terjadi. Dan lagi-lagi dalam buku yang sama, Tan Malaka pernah berkata, “Hanya satu aksi massa yakni ‘satu aksi massa’ yang tersusun yang akan memperoleh kemenangan di satu negeri yang berindustri seperti Indonesia.”

Mereka para anak muda berada dalam satu barisan yang sama, terteriak sama, sama-sama menuntut penuntasan korupsi dan berharap perbaikan hukum di negeri ini. Apakah itu adalah ‘satu aksi massa’. Persatuan mereka apakah benar-benar teguh atau mereka hanyalah kumpulan sesaat yang setelah aksi usai mereka akan kembali lagi dalam kelompoknya masing-masing.

Apakah mereka masih bisa berharap datangnya revolusi ketika ‘satu aksi massa’ belum juga tercipta. Sayup-sayup teriakan “Revolusi…revolusi sampai mati,” mulai hilang ditelan riuhnya lalu lintas kota yang macet. Dan, aku segera menuliskan apa yang dilakukan anak-anak muda hari itu, karena aku percaya, revolusi itu menciptakan!!!


%d blogger menyukai ini: