Satu hari tentang revolusi…

Sayup-sayup teriakan “Revolusi…revolusi sampai mati,” semakin nyaring terdengar. Dengan panji-panji kebesaran masing-masing kelompoknya, para anak muda itu seakan tidak pernah lelah berteriak, bernyanyi dan berorasi.

Patung Slamet Riyadi di Gladak menjadi saksi betapa mereka para anak muda itu telah mengucurkan keringatnya untuk untuk sebuah kata tidak pada korupsi. Kami para saksi kejadian, merekam apa yang melakukan, menulis ulang apa yang mereka katakan, mengambarkan apa yang mereka telah perbuat. Kami telah berjanji untuk menjadi saksi sejarah.

Sang Korlap terus memandu para demonstran, ketika rombongan agen perubahan itu melintas di depan kami. Lagu-lagu perjuangan dan perlawanan seakan tidak pernah ada habisnya dan sayup-sayup teriakan “Revolusi…revolusi sampai mati,” terus menggelegar.

Ah, revolusi mengapa kata itu begitu sakti. Tan Malaka pernah bertutur, revolusi bukanlah suatu pendapatan otak yang luar biasa, bukan hasil persediaan yang jempolan dan bukan lahir atas perintah seorang manusia yang luar biasa. Itu yang Tan Malaka katakan di buku Aksi Massa, buku yang digunakan Soekarno sebagai panduan dalam menggalang aksi revolusi di negeri ini.

Apakah revolusi itu akan tiba hari ini atau esok, seperti revolusi 45 terjadi. Dan lagi-lagi dalam buku yang sama, Tan Malaka pernah berkata, “Hanya satu aksi massa yakni ‘satu aksi massa’ yang tersusun yang akan memperoleh kemenangan di satu negeri yang berindustri seperti Indonesia.”

Mereka para anak muda berada dalam satu barisan yang sama, terteriak sama, sama-sama menuntut penuntasan korupsi dan berharap perbaikan hukum di negeri ini. Apakah itu adalah ‘satu aksi massa’. Persatuan mereka apakah benar-benar teguh atau mereka hanyalah kumpulan sesaat yang setelah aksi usai mereka akan kembali lagi dalam kelompoknya masing-masing.

Apakah mereka masih bisa berharap datangnya revolusi ketika ‘satu aksi massa’ belum juga tercipta. Sayup-sayup teriakan “Revolusi…revolusi sampai mati,” mulai hilang ditelan riuhnya lalu lintas kota yang macet. Dan, aku segera menuliskan apa yang dilakukan anak-anak muda hari itu, karena aku percaya, revolusi itu menciptakan!!!

About angscript

Aku hanyalah jurnalis kecil yang bekerja di media kecil di sebuah kota kecil dan menghadapi masalah-masalah kecil dan orang-orang kecil. Tulisan ini hanyalah tentang hal-hal kecil agar aku bisa belajar berkata-kata, saat kata belum terbungkam dan kata masih bisa menjadi senjata. Jangan dianggap serius!!! Lihat semua pos milik angscript

4 responses to “Satu hari tentang revolusi…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: