Monthly Archives: Januari 2010

Menggugat Bonek!!!

Saya dan ratusan penumpang kereta api (KA) Prambanan Ekspress (Prameks) hanya bisa menggerutu dan ngedumel setelah perjalanan KA yang kami tumpangi harus tertunda perjalanannya gara-gara Kereta Api Luar Biasa (KLB) yang mengangkut suporter Persebaya yang akrab dikenal dengan bondo nekat (Bonek) melintas di Solo, Minggu pagi.

KA yang seharusnya berangkat jam 8 pagi baru bisa meninggalkan Solo jam setengah 11 dan perjalanan Solo-Jogja yang biasanya bisa ditempuh selama 1 jam kini menjadi 3,5 jam. Di stasiun KA Purwosari yang berada di paling barat Kota Solo, ratusan orang telah berkumpul di sepanjang rel KA. Lengkap dengan alat perlindungan berupa helm dan senjata penyerangan berupa batu. Mereka bersiaga “menyambut” kedatangan Bonek di Solo. Bahkan, setiap kali ada kereta yang melintas, petugas stasiun melalui pengeras suara mengingatkan tidak ada Bonek yang ada dalam kereta yang akan masuk stasiun.

“Kereta Sri Tanjung dari Stasiun Lempuyangan, Jogja. Jadi kami menjamin tidak ada Bonek di dalam kereta. Mohon perhatian dari semua orang, jangan melempar batu, tidak ada Bonek dalam kereta itu,” kata petugas stasiun berulang-ulang.

Dari Stasiun Purwosari, saya mulai menumpang KA Prameks. Sebelum meninggalkan Solo, KA itu akan singgah dulu ke Stasiun Balapan, Jebres dan Palur, Karanganyar. Di sepanjang rel KA mulai dari Purwosari di Laweyan hingga Balapan di Banjarsari, ratusan orang berkumpul di setiap perlintasan KA, di tepi-tepi rel KA. Pemandangan serupa juga terlihat dari Jebres hingga Palur. Semuanya bersenjatakan batu di tangan.

Kebetulan mulai hari itu saya cuti tugas sehingga tidak memiliki kesempatan menjadi saksi mata kepulangan Bonek ke Surabaya. Saat keberangkatan mereka ke Bandung, saya bersama puluhan jurnalis lainnya menjadi saksi keberingasan Bonek di Stasiun Jebres, Jumat. Bentrokan terbuka antara Bonek dan warga bisa dihalau polisi setelah ada beberapa kali tembakan peringatan dan KA berjalan.

Saya hanya bisa melihat warga bersiaga penuh, lebih siap dari Jumat lalu. Bersiap melakukan aksi lempar batu, aksi anarkis yang juga sering dilakukan oleh Bonek selama perjalanan berangkat ataupun pulang setelah menonton Persebaya bertanding. Kekhawatirkan adanya kericuhan yang lebih besar saat Bonek pulang sudah bisa diprediksi. Jurnalis di Solo sempat menyerukan agar Bonek tidak kembali melalui Solo agar tidak ada bentrokan yang lebih besar. Bahkan, Kapoltabes Solo Kombes Pol Joko Irwanto pun sudah meminta kepada PT KA agar Bonek tidak dilewatkan Solo.

Sudah terlalu banyak korban dalam kejadian yang memalukan itu. Di Solo, ada fotografer Antara, Hasan Sakri yang dikeroyok Bonek. Ada anggota Brimob Briptu Mursito yang mengalami luka serius di bagian mata, ada juga dua warga yang terluka dan dua Bonek yang jatuh dari kereta dan nyaris jadi bulan-bulanan massa. Peringatan itu tidak diindahkan dan prediksi itu benar adanya.

Disebut-sebut ada sekitar dua ribu warga di sepanjang rel KA di Solo yang menghadang KA yang mengangkut Bonek. Aksi lempar-lempar batu kembali tidak bisa dihindari hingga akhirnya seorang jurnalis kembali menjadi korban. Nia Fathoni dari TATV terkena lemparan batu dari Bonek hingga akhirnya dirawat di rumah sakit.

Aksi brutal yang dilakukan Bonek menjadi sorotan para penumpang Prameks yang saya tumpangi. Seorang bocah sempat nyletuk, “Siapa yang salah. Coba ada salah satu pihak yang mengalah, pasti tidak terjadi.”

Tapi benarkah ada yang mau mengalah? Kami penumpang Prameks sudah mengalah dengan keterlambatan kereta. Para pedagang di stasiun kereta api juga sudah mengalah menutup toko agar tidak dijarah dan itu tentunya mengurangi pendapatan mereka. Rakyat kecil sudah mengalah memberi kesempatan bagi Bonek untuk melintas.

Selama perjalanan Bonek seakan mendapatkan perlakuan istimewa. Mereka diberi maka gratis, minum gratis, jalannya KA juga didahulukan, padahal kereta yang mereka tumpangi adalah KA ekonomi. Sudah menjadi rahasia umum, PT KA selalu mendahulukan KA bisnis dan eksekutif. Tapi khusus KA yang ditumpangi Bonek, mereka didahulukan. Tidak hanya itu saja, para polisi di Solo bahkan rela menjadi pagar hidup bagi para Bonek. Kapolda Jateng Irjen Pol Alex Bambang Riatmodjo, Kapoltabes Solo Kombes Pol Joko Irwanto dan ratusan personel polisi menumpang di dalam KA yang mengangkut Bonek.

Mereka menjadi pagar hidup agar tidak ada aksi anarkis dari kedua belah pihak. Sangat ironis rasanya, mereka para kelompok yang sering berbuat anarkis, berbuat rusuh, menjarah hingga memicu kebencian dengan warga itu mendapatkan perlakuan istimewa dengan alasan demi menjaga keamanan dan saya hanya bisa menggugat atas itu semua.


Lanjar, Ayin & Dagelan Hukum

Melihat wajah Lanjar Sriyanto yang terpampang di beberapa koran beberapa hari terakhir, saya melihat adanya kepedihan yang begitu dalam. Usianya baru 36 tahun, tapi kesan ketuaan itu begitu terlihat dengan tubuh kurusnya. Kumis dan jambangnya lebat dengan tatapan mata yang begitu pilu menambah kesan ketuaan laki-laki itu.

Belum lagi, ada jeruji besi yang mengekang kebebasan Lanjar dalam foto di koran-koran itu. Dia hanya menunduk saat berkonsultasi dengan kuasa hukumnya, M Taufiq SH. Dia kini menjadi pesakitan kasus kecelakaan lalu lintas. Lanjar menjadi terdakwa atas kasus meninggalnya Saptaningsih dalam sebuah kecelakaan di Colomadu, Karanganyar, beberapa bulan yang lalu. Saptaningsih adalah istri Lanjar yang diboncengkan laki-laki yang sehari-hari menjadi buruh bangunan itu.

Ketika itu, Lebaran hari kedua. Lanjar, Saptaningsih dan anak mereka Warih baru saja pulang dari silaturahmi di kerabat mereka. Saat mereka melintas di Jl Adisucipto tiba-tiba mobil Carry yang ada di depan Lanjar mengerem mendadak hingga akhirnya Lanjar tidak bisa menghindari tabrakan. Sepeda motornya jatuh, Lanjar terplanting dan Septaningsih terpental ke kanan.

Namun, kejadian belum usai. Dari arah berlawanan, ada mobil Panther yang melaju kencang dan Septaningsih yang terkapar di jalanan ditabrak hingga tewas. Kini sudah sudah hampir empat bulan berlalu dan Lanjar dimintai pertanggungjawabannya di depan hukum. Jaksa mendakwa Lanjar karena kelalaiannya menyebabkan istrinya tewas seperti apa yang ada dalam Pasal 359 KUHP.

Dia menjadi terdakwa atas meninggalnya istrinya. Dia yang awam hukum mengikuti proses yang ada hingga akhirnya Kejaksaan Negeri (Kejari) Karanganyar menahannya. Keluarga kecil itu kini menjadi korban penegakkan hukum yang membutakan diri dari rasa keadilan. Septa ningsih telah meninggal, Lanjar ditahan dan Warih anak mereka mogok sekolah.

Hukum di negeri ini memang seperti dagelan. Hukum bisa begitu tegas bagi mereka orang kecil dan papa. Tapi hukum bisa sangat fleksibel bagi mereka yang punya kuasa dan uang. Lihat saja, Arthalyta Suryani alias Ayin yang bisa menikmati fasilitas istana di balik jeruji besi. Kamar Ayin di tahanan itu lebih mewah dari kamar tahanan lainnya dan lebih mewah dari kamar di kos atau rumah kontrakan buruh bergaji rendah.

Seorang pakar hukum di Solo pernah berkata, hukum itu benda mati sehingga proses penegakan hukum akan sangat bergantung pada aparat penegaknya. Ketika Lanjar harus duduk di kursi pesakitan pengadilan dan Ayin menjadi ratu di Rutan Pondok Bambu, ternyata slogan semua orang memiliki kedudukan sama di depan hukum nyatanya tidak berlaku lagi. Dulu orang miskin sudah dilarang sakit, dilarang sekolah dan sekarang orang miskin dilarang berurusan dengan hukum.


Dia bergelar Gus Dur

Namanya Abdurrahman Wahid. Dialah tokoh yang penuh kontroversi. Dialah satu-satunya presiden di negeri ini yang memiliki selera humor yang tinggi. Dia telah wafat dan dia menyandang gelar Gus Dur.

Gelar ‘Gus’ sudah lama disandang Abdurrahman Wahid. Sebutan ‘Gus’ sangat akrab bagi warga Nahdiyin untuk memanggil anak atau putra kyai yang tersohor. Maka cucu pendiri NU itu sudah akrab dipanggilan dengan nama Gus Dur.

Nama Gus Dur yang begitu merakyat itu juga ikut meruntuhkan protokoler kepresidenan ketika laki-laki kelahiran Jombang 69 tahun yang lalu menjadi presiden. Ketika dia menjabat, dia membuat istana kepresidenan lebih terbuka. Mungkin dia pulalah satu-satunya presiden di dunia yang sangat jarang dipanggil ‘Pak Presiden’. Tidak juga dipanggil ‘Pak Abdurrahman’ atau ‘Pak Gus Dur’. Dia sudah akrab dan masyarakat sudah biasa memanggilnya ‘Gus Dur’.

Kini, Gus Dur telah tiada. Dia berpulang dan meninggalkan sejuta kenangan, sejuta kontroversi, sejuta guyonan dan tentunya sejuta ilmu bagi semua anak bangsa negeri ini. Belum genap tujuh hari setelah meninggalnya Gus Dur, kontroversi mengenai Gus Dur terus bergulir. Kontroversi itu bernama pemberian gelar pahlawan nasional.

Banyak pihak bersuara mengusulkan mantan presiden ke-4 ini mendapatkan gelar pahlawan nasional. Tokoh politik, masyarakat, agama bersuara Gus Dur layak mendapatkan gelar itu. Tapi birokrasi dan aturan tidak semudah itu. Usulan pemberian gelar pahlawan nasional masih harus diproses dari tingkat bawah hingga nantinya presidenlah yang membuat keputusan, seperti istilah yang sering digunakan oleh Gus Dur, “gitu aja kok repot.”

Ramai-ramai usulan pemberian gelar pahlawan nasional ini seakan menyapu begitu saja, semua kenangan tentang Gus Dur, terutama tentang pemikirannya tentang demokrasi, tentang pluralisme dan tentang keberagamaan. Bukan soal layak atau tidak Gus Dur menyandang gelar pahlawan nasional, tapi pemikiran Gus Dur telah melintas batas melebihi batas-batas geografi negara terutama mengenai pluralisme.

Apakah anak-anak SD di negeri ini nantinya hanya dikenalkan, seorang mantan presiden ke-4 Indonesia yang bernama Abdurrahman Wahid atau Gus Dur adalah pahlawan nasional. Alangkah indahnya anak-anak bangsa dikenalkan tentang Gus Dur dengan segala pemikirannya tentang pluralisme dan keberagaman sehingga mereka bisa melihat Gus Dur tidak hanya dari ‘kulit’-nya saja yang memang layak mendapatkan gelar pahlawan nasional, tapi anak-anak bangsa juga bisa mengetahui ‘isi’ Gus Dur dengan segala pemikirannya sehingga bangsa ini bisa lebih menghargai pluralisme dan keberagaman.


%d blogger menyukai ini: