Dia bergelar Gus Dur

Namanya Abdurrahman Wahid. Dialah tokoh yang penuh kontroversi. Dialah satu-satunya presiden di negeri ini yang memiliki selera humor yang tinggi. Dia telah wafat dan dia menyandang gelar Gus Dur.

Gelar ‘Gus’ sudah lama disandang Abdurrahman Wahid. Sebutan ‘Gus’ sangat akrab bagi warga Nahdiyin untuk memanggil anak atau putra kyai yang tersohor. Maka cucu pendiri NU itu sudah akrab dipanggilan dengan nama Gus Dur.

Nama Gus Dur yang begitu merakyat itu juga ikut meruntuhkan protokoler kepresidenan ketika laki-laki kelahiran Jombang 69 tahun yang lalu menjadi presiden. Ketika dia menjabat, dia membuat istana kepresidenan lebih terbuka. Mungkin dia pulalah satu-satunya presiden di dunia yang sangat jarang dipanggil ‘Pak Presiden’. Tidak juga dipanggil ‘Pak Abdurrahman’ atau ‘Pak Gus Dur’. Dia sudah akrab dan masyarakat sudah biasa memanggilnya ‘Gus Dur’.

Kini, Gus Dur telah tiada. Dia berpulang dan meninggalkan sejuta kenangan, sejuta kontroversi, sejuta guyonan dan tentunya sejuta ilmu bagi semua anak bangsa negeri ini. Belum genap tujuh hari setelah meninggalnya Gus Dur, kontroversi mengenai Gus Dur terus bergulir. Kontroversi itu bernama pemberian gelar pahlawan nasional.

Banyak pihak bersuara mengusulkan mantan presiden ke-4 ini mendapatkan gelar pahlawan nasional. Tokoh politik, masyarakat, agama bersuara Gus Dur layak mendapatkan gelar itu. Tapi birokrasi dan aturan tidak semudah itu. Usulan pemberian gelar pahlawan nasional masih harus diproses dari tingkat bawah hingga nantinya presidenlah yang membuat keputusan, seperti istilah yang sering digunakan oleh Gus Dur, “gitu aja kok repot.”

Ramai-ramai usulan pemberian gelar pahlawan nasional ini seakan menyapu begitu saja, semua kenangan tentang Gus Dur, terutama tentang pemikirannya tentang demokrasi, tentang pluralisme dan tentang keberagamaan. Bukan soal layak atau tidak Gus Dur menyandang gelar pahlawan nasional, tapi pemikiran Gus Dur telah melintas batas melebihi batas-batas geografi negara terutama mengenai pluralisme.

Apakah anak-anak SD di negeri ini nantinya hanya dikenalkan, seorang mantan presiden ke-4 Indonesia yang bernama Abdurrahman Wahid atau Gus Dur adalah pahlawan nasional. Alangkah indahnya anak-anak bangsa dikenalkan tentang Gus Dur dengan segala pemikirannya tentang pluralisme dan keberagaman sehingga mereka bisa melihat Gus Dur tidak hanya dari ‘kulit’-nya saja yang memang layak mendapatkan gelar pahlawan nasional, tapi anak-anak bangsa juga bisa mengetahui ‘isi’ Gus Dur dengan segala pemikirannya sehingga bangsa ini bisa lebih menghargai pluralisme dan keberagaman.

About angscript

Aku hanyalah jurnalis kecil yang bekerja di media kecil di sebuah kota kecil dan menghadapi masalah-masalah kecil dan orang-orang kecil. Tulisan ini hanyalah tentang hal-hal kecil agar aku bisa belajar berkata-kata, saat kata belum terbungkam dan kata masih bisa menjadi senjata. Jangan dianggap serius!!! Lihat semua pos milik angscript

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: