Rafting @Progo Atas (2)

Saatnya melawan rasa takut…

Air sungai yang berwarna cokelat, memang mirip dengan warna kopi merk Coffemix. Dengan detail, pemandu memberikan arahan sebelum perahu mulai dikayuh. Tapi rasa penasaran dan adrenalin yang mulai terpacu membuat kami ingin segera melalui jeram demi jeram di sungai itu. Perlahan satu persatu perahu meninggalkan tepi sungai.

Bagi kami, sungai itu terlihat deras karena riak dan gelombang air tidak berhenti saat beradu dengan bebatuan. Namun, ternyata itu belum terlalu deras. Bahkan, di bawah standar. Meski hujan sudah berkali-kali mengguyur daerah Magelang, namun rupanya kemarau panjang sebelumnya menjadikan debit air sungai itu belum juga pulih.

Ketika kami berarung jeram di sungai itu, debit airnya masih jauh di bawah normal. Meski begitu, rasa was-was dan takut tetap menggelayuti sebagian besar dari kami, terutama mereka yang tidak bisa berenang. Bagi yang tidak bisa berenang, berhadapan dengan air tenang sudah seperti berhadapan dengan setan, apalagi ini, gelombang air yang beriak-riak seakan siap menelan siapa saja yang berada di dekatnya.

Dengan modal kemampuan renang gaya batu saya yakin bisa melewati tantangan ini. Beberapa kawan yang tidak bisa berenang punya nyali, maka sudah seharusnya nyali saya lebih besar. Perahu yang saya tumpangi mulai bergoncang-goncang. Antara rasa takut, khawatir dan senang campur aduk, namun kami masih bisa bersendau gurau.

Beberapa puluh meter setelah start, jeram pertama menghadang. Kami diminta siap-siap dan terus mengayuh. Perahu bergoncang. Air masuk ke dalam perahu dan teriakan-teriakan tak jelas bersahutan. Tidak hanya dari perahu yang saya tumpangi saja, dari perahu lain suara teriakan seperti menjadi pelepasan rasa takut.

Ketika jeram pertama terlewati dan kami mengarungi sungai yang kembali tenang, rasa lega begitu terasa. Hampir semuanya tersenyum. Rasa takut telah berganti dengan rasa penasaran. Ketika jeram demi jeram dilalui, masih saja ada teriakan-teriakan, namun bukan lagi pelampiasan rasa takut, tapi semangat dan tertantang untuk melewati jeram.

Jeram demi jeram terus dilalui. Antara jeram yang satu dengan jeram berikutnya selalu diselingi aliran sungai yang tenang. Saat itulah, saat untuk bersenang-senang. Tak hanya mengguyur perahu lain, namun juga menyerang penumpang perahu lain. Jika ada kesempatan, kami mengaet, penumpang perahu lain agar jatuh ke sungai. Namun, demi keselamatan itu hanya boleh dilakukan di aliran sungai yang tenang.

Saling serang, saling menjatuhkan. Jadi bukan hanya soal tantangan dan adrenalin semata, namun juga hiburan. Tentu juga mengasah kekompakan dengan rekan satu perahu agar mendayung yang kompak, menghindari serangan ataupun saling percaya dengan rekan satu perahu. Meski jeram demi jeram dilalui sukses, bukan berarti tantangan telah berakhir karena selalu saja ada uji nyali bagi mereka yang benar-benar punya nyali.

About angscript

Aku hanyalah jurnalis kecil yang bekerja di media kecil di sebuah kota kecil dan menghadapi masalah-masalah kecil dan orang-orang kecil. Tulisan ini hanyalah tentang hal-hal kecil agar aku bisa belajar berkata-kata, saat kata belum terbungkam dan kata masih bisa menjadi senjata. Jangan dianggap serius!!! Lihat semua pos milik angscript

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: