Politik, batik & falsafah Jawa

Lelaki paruh baya itu berdiri tenang di tengah podium. Semua mata menatap ke arahnya. Dia bukan orator ulung, tapi semua orang yang berada di dalam ruangan itu menunggu lelaki berperawakan kurus itu mengucapkan kata.

“Saya minta maaf,” kata dia.

Pengusaha yang larut dalam riuh rendahnya dunia politik itu tidak mengawali pidatonya dengan kalimat berapi-api. Ucapan maaflah yang meluncur dari bibir lelaki itu. Sebuah permintaan maaf, atas “ketidaksopanan”-nya mengenakan hem bermotif daun pepaya dan bergaya kasual di tengah acara formal.

Di dampingi seorang lelaki berkumis tebal di sebelah kirinya yang menjadi pasangannya dalam sebuah pertarungan politik, dia memilih menembus batas garis formalitas sebuah acara pemerintahan demi sebuah kebanggaan atas karya yang bernama batik. Demi sebuah promosi karya seni kebanggan Indonesia itu, dua lelaki yang mengenakan batik dengan motif sama itu, “tak mengindahkan” formalitas pakaian resmi, jas dan peci.

Pedagang di Pasar Klewer dan Kampung Batik Laweyan, berharap saya mempromosikan batik.”

Dia memilih mendengarkan keluh kesah pedagang batik yang sedang berjuang melawan serbuan batik abal-abal dari mancanegara daripada menuruti formalitas acara yang kadang mengharuskan seseorang berpakaian jas. Dan dari pakaian ngejreng itu mereka tidak hanya menembus batas-batas formalitas acara, mereka telah melunturkan kekakuan sebuah acara formal.

Tapi dunia politik tidak melulu soal keluh kesah masyarakat saja, politik juga soal seni. Seni menempatkan posisi yang tepat dan diwaktu yang tepat. Dan lawan politik lelaki itu merasa, lelaki yang menjadi pesaingnya itu tidak bisa menempatkan posisi yang tepat dan diwaktu yang tepat.

“Sebenarnya saya juga ingin tampil cakep dengan mengenakan batik. Tapi dalam undangan, saya diminta mengenakan pakaian jas, maka saya mengikuti aturan diundangan itu,” kata dia yang terlihat handsome dengan setelan jas dan peci didampingi pasangannya.

Dalam dunia politik, sebuah hal kecil yang bernama pakaian saja bisa diperdebatkan, apalagi sesuatu hal yang esensial dan prinsipil. Dan dua pasangan yang sudah masuk gelanggang pertarungan politik memang harus beradu sesuatu hal yang esensial dan mendasar daripada membicarakan soal pakaian.

Bagi pasangan yang menjadi pesaing lelaki berbaju batik, simbol-simbol budaya mulai batik, heritage dan pengembalian nama kampung dan jalan seperti masa lalu memang penting. Namun, lelaki yang merupakan orang dalam dari sebuah keraton di Jawa itu menilai ada hal lain yang lebih fundamental dan mendasar yaitu pembangunan budaya Jawa dengan berpegang teguh pada falsafah Jawa.

Atas dasar falsafah itu pembangunan budaya Jawa bisa dikembangkan. Mempertahankan budaya dari arus globalisasi yang semakin menggurita memang bukan perkara gampang. Budaya bukan hanya sesuatu yang berwujud seperti bangunan, pakaian ataupun pengembalian momori masa lalu. Tapi budaya juga soal karakter, pola hidup dan prinsip hidup sesuai budaya itu.

Ada tiga falsafah yang harus jadi pegangan yaitu menjaga harmoni kehidupan, mengurangi yang merusak harmoni itu dan meningkatkan budi.”

Dan falsafah yang agung itu harus diterjemahkan dan gariskan dalam sebuah kebijakan untuk pembangunan budaya Jawa. Seperti menjawab falsafah dari pesaingnya itu, lelaki kurus itu menutup pidato dengan berkata, “Bisa rumangsa, ora rumangsa bisa (bisa merasa, bukan merasa bisa).”

About angscript

Aku hanyalah jurnalis kecil yang bekerja di media kecil di sebuah kota kecil dan menghadapi masalah-masalah kecil dan orang-orang kecil. Tulisan ini hanyalah tentang hal-hal kecil agar aku bisa belajar berkata-kata, saat kata belum terbungkam dan kata masih bisa menjadi senjata. Jangan dianggap serius!!! Lihat semua pos milik angscript

2 responses to “Politik, batik & falsafah Jawa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: