Monthly Archives: Mei 2010

Aku ingin bicara kenangan (2)

Bukan senja, tapi derai hujan deras. Bukan cahaya kuning kemerah-merahan dari ufuk barat, tapi langit yang kelam nan gelap. Bukan semilir angin yang menyejukkan hati, tapi kipasan angin yang menusuk hingga tulang.

Layaknya sebuah kenangan, sebuah ritual suci yang biasa aku lakukan itu hadir lagi di depan mataku. Sebuah ritual yang bisa menyatukanku dengan senja. Sebuah kesakralan tentang langit yang berpendar kuning kemerah-merahan.

Di sebuah balkon, ritual suci itu sering terjadi. Dari ketinggian itu, senja akan nampak sempurna. Dari tempat itu pula siluet pohon, dedaunan dan manusia menjadi keelokan senja.

Dari tempat itu aku kembali pada kenangan. Dari sebuah ruang panjang itu kenangan itu bangkit. Dari kursi yang panjangnya lebih dari 20 meter itu kenangan hadir.

Dunia terlalu gelap. Langit sudah murka. Awan hitam bergulung-gulung menumpahkan air sederas-derasnya. Tak ada senja, tak ada pendaran cahaya kuning kemerah-merahan, tak ada siluet pohon. Aku hanya bisa jongkok menahan terpaan air. Kursi panjang itu sudah basah dari tadi. Lantai balkon tergenang air.

Kenangan itu selalu muncul dan hadir tanpa mengenal ruang dan waktu. Tak mengenal apakah senja tiba atau tidak. Tak mengenal hujan deras mengguyur membahasi bumi, kenangan itu tetap hadir.

Dari titik-titik air yang terus membahasi tanah kenangan itu terlihat nyata. Dari pantulan genangan air, kenangan itu hadir begitu dekat. Dari nyala lampu mobil yang lalu lalang, kenangan itu tetap bersinar. Dari daun-daun yang basah, kenangan itu seakan enggan pergi.

Terbuat dari apakah kenangan itu?

*@Balkon 20.15 WIB


Aku ingin bicara kenangan

Terbuat dari apakah kenangan? Aku tak pernah bisa mengerti, mengapa pemandangan itu selalu kembali dan kembali lagi, tulis Seno Gumira Ajidarma (SGA) dalam Cerpennya Kyoto Monogatari.

Buku yang memuat kumpulan Cerpen itu sudah aku baca berulang-ulang. Setiap kali membaca Kyoto Monogatari, Cerpen itu seakan membawaku dalam kenangan, kenangan dan kenangan. Seakan akulah pemeran utama dalam Cerpen itu. Serasa SGA khusus menuliskan Cerpen itu untukku.

Kyoto Monogatari-nya SGA yang mengenang perempuan di tengah badai salju yang hebat, seperti menceritakan kisah hidup anak manusia yang selalu dan selalu dihadapkan pada permasalahan kehidupan.

Badai salju yang datang kadang tak mengenal waktu, terpaannya begitu keras hingga menghujam menembus pori-pori kulit, kuat dan tajam menghantam daging dan tulang hingga menusuk ke jantung hati. Badai salju menerpa hingga membuat jatuh tersungkur. Namun, badai tidak harus dilawan, tapi dihadapi. Pusaran badai harus menjadi titik tolak untuk kembali melangkah.

Dan kala SGA bercerita tentang perempuan yang tertatih-tatih berjalan di badai salju, aku hanya ingin melangkah pelan, sejengkal demi sejengkal seperti dikatakan Puthut EA dalam novel Cinta Tak Pernah Tepat Waktu, “Kamu bukan orang hebat, tapi kamu tahu persis bagaimana agar selalu bisa belajar dari kesalahan di masa lampau. Kamu tahu bahwa dunia ini kacau dan sakit. Tapi kamu tidak boleh tidak punya harapan.”

Tak ada yang tahu kenapa perempuan itu meninggalkan rumah dan menghadapi badai salju, tulis SGA. Dan bagiku, tak ada yang tahu kenapa aku memilih perjalanan berat dan melelahkan ini, meski sebenarnya sejak awal aku memiliki pilihan tetap berada di dalam rumah seperti cerita SGA itu tapi aku telah memutuskan berjalan dan menghadapi badai salju itu.

Berhadapan dengan badai salju itu memang melelahkan. Tapi dari badai salju pula aku mendapatkan pelajaran tentang hidup. Ada pelajaran tentang kehidupan yang mungkin tidak akan aku dapatkan jika aku tetap bertahan dalam rumah karena aku telah memiliki berjalan di tengah badai salju seperti perempuan itu.

Badai pula lah yang mengajarkan tentang membaca kehidupan seperti kata SGA dalam Kitab Omong Kosong kala Satya berbicara dengan Maneka bahwa membaca tidak hanya membaca tulisan tapi juga kehidupan.

“Aku tidak tahu terbuat dari apa kenangan itu.”


Kemuning dan sepeda

Mobil putih Toyota Hiace keluaran tahun 1982 melaju melintasi bukit demi bukit. Jalan berkelok dengan tanjakan seakan tidak menjadi masalah bagi mobil pikap yang sering disebut mobil sayur karena sering digunakan untuk mengangkut sayur mayur.

BERANGKAT- Perjalanan menuju Kemuning

Tanah masih basah, sisa hujan semalam. Tetes-tetes embun masih menempel di dedaunan meski mentari sudah mulai menyingsing dari Timur. Hari sudah tidak terlalu pagi ketika perjalanan Solo-Kemuning ditempuh sekitar 1,5 jam.

Di Pasar Kemuning kami berhenti. Sebenarnya tempat itu kurang tepat disebut pasar karena tidak ada aktivitas jual beli yang terlalu mencolok. Hanya beberapa warung makan yang buka dan beberapa angkutan mobil berhenti di daerah itu.

Pasar itu bukan tujuan akhir kami. Dari tempat itulah petualangan baru akan dimulai. Sepeda angin yang terikat kencang, satu persatu kami turunkan. Helm, kaus tangan, botol berisi air minum kami persiapkan dan tujuan kami adalah bersepeda di tengah kebun teh Kemuning.

KEBUN TEH- Melintas di tengah kebun teh

Kemuning, sebuah tempat di mana kebun teh tidak hanya menjadi roda penggerak ekonomi warga. Tapi kebun teh juga menjadi tempat di mana orang bisa melepas penat dari rutinitas dan hiruk pikuk kehidupan yang kadang terlalu menjengahkan. Dengan landscape yang indah dan berlatar belakang Gunung Lawu, Kemuning menjadi tempat tujuan rekreasi.

Hari itu, saya dan enam orang yang suka bersepeda ria, ingin menjajal jalur kebun teh dengan bersepeda. Ini adalah pengalaman pertama saya datang ke Kemuning. Namun, bagi kawan-kawan yang lainnya, mereka sudah berkali-kali datang ke sini. Tapi dalam satu hal, saya dan kawan-kawan saya sama yaitu baru kali pertama ke Kemuning dengan bersepeda.

Di belakang pasar itulah, kebun teh terhampar luas bagai tak berujung. Bukit demi bukit hanya berisi kebun teh. Di sela-sela kebun teh terdapat jalur yang biasa digunakan pemetik teh, di jalur itulah kami akan bersepeda.

Hamparan kebun teh berada di Kemuning

Jalur pemetik teh itu lebarnya tidak lebih dari satu meter. Kadang cukup lebar untuk bersepeda ria, namun kadang juga menyempit hingga menyebabkan ranting-ranting pohon teh menggores kaki-kaki.

Trek yang naik turun dengan pemandangan yang indah menjadi daya tarik tersendiri. Kemuning telah memberikan warna tersendiri bagi kami karena sambil menikmati alam yang indah juga bisa berolahraga ria.

KAKI GUNUNG- Bersepeda di tengah kebun teh dengan latar belakang Gunung Lawu.


Cerita dari Gawok

Ada banyak cerita saat perjalanan bersepeda dilakukan. Kali ini dari Gawok, Sukoharjo ada bait-bait kisah tentang penjual sego liwet di sebelah palang rel Stasiun Gawok. Ada pula tentang pasar hewan yang hanya ramai di hari pasaran pon. Termasuk juga riuh rendah Pilkada Sukoharjo dengan segala janji para calonnya.

Foto: Sunaryo Haryo Bayu/Arief Budiman/Andri Prasetyo

JEMBATAN- Melintas batas di tengah sungai kecil di tepian jalan Gawok-Balepadi.

PASAR GAWOK- Pasar yang biasanya buat jualan hewan sepi.

REHAT- Melepas lelah di tengah perjalanan.

BERKABUT-Berselimutkan kabut melintas jalan desa.



%d blogger menyukai ini: