Aku ingin bicara kenangan

Terbuat dari apakah kenangan? Aku tak pernah bisa mengerti, mengapa pemandangan itu selalu kembali dan kembali lagi, tulis Seno Gumira Ajidarma (SGA) dalam Cerpennya Kyoto Monogatari.

Buku yang memuat kumpulan Cerpen itu sudah aku baca berulang-ulang. Setiap kali membaca Kyoto Monogatari, Cerpen itu seakan membawaku dalam kenangan, kenangan dan kenangan. Seakan akulah pemeran utama dalam Cerpen itu. Serasa SGA khusus menuliskan Cerpen itu untukku.

Kyoto Monogatari-nya SGA yang mengenang perempuan di tengah badai salju yang hebat, seperti menceritakan kisah hidup anak manusia yang selalu dan selalu dihadapkan pada permasalahan kehidupan.

Badai salju yang datang kadang tak mengenal waktu, terpaannya begitu keras hingga menghujam menembus pori-pori kulit, kuat dan tajam menghantam daging dan tulang hingga menusuk ke jantung hati. Badai salju menerpa hingga membuat jatuh tersungkur. Namun, badai tidak harus dilawan, tapi dihadapi. Pusaran badai harus menjadi titik tolak untuk kembali melangkah.

Dan kala SGA bercerita tentang perempuan yang tertatih-tatih berjalan di badai salju, aku hanya ingin melangkah pelan, sejengkal demi sejengkal seperti dikatakan Puthut EA dalam novel Cinta Tak Pernah Tepat Waktu, “Kamu bukan orang hebat, tapi kamu tahu persis bagaimana agar selalu bisa belajar dari kesalahan di masa lampau. Kamu tahu bahwa dunia ini kacau dan sakit. Tapi kamu tidak boleh tidak punya harapan.”

Tak ada yang tahu kenapa perempuan itu meninggalkan rumah dan menghadapi badai salju, tulis SGA. Dan bagiku, tak ada yang tahu kenapa aku memilih perjalanan berat dan melelahkan ini, meski sebenarnya sejak awal aku memiliki pilihan tetap berada di dalam rumah seperti cerita SGA itu tapi aku telah memutuskan berjalan dan menghadapi badai salju itu.

Berhadapan dengan badai salju itu memang melelahkan. Tapi dari badai salju pula aku mendapatkan pelajaran tentang hidup. Ada pelajaran tentang kehidupan yang mungkin tidak akan aku dapatkan jika aku tetap bertahan dalam rumah karena aku telah memiliki berjalan di tengah badai salju seperti perempuan itu.

Badai pula lah yang mengajarkan tentang membaca kehidupan seperti kata SGA dalam Kitab Omong Kosong kala Satya berbicara dengan Maneka bahwa membaca tidak hanya membaca tulisan tapi juga kehidupan.

“Aku tidak tahu terbuat dari apa kenangan itu.”

Iklan

About angscript

Aku hanyalah jurnalis kecil yang bekerja di media kecil di sebuah kota kecil dan menghadapi masalah-masalah kecil dan orang-orang kecil. Tulisan ini hanyalah tentang hal-hal kecil agar aku bisa belajar berkata-kata, saat kata belum terbungkam dan kata masih bisa menjadi senjata. Jangan dianggap serius!!! Lihat semua pos milik angscript

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: