Monthly Archives: Juni 2010

Membungkus kenangan

Kotak hitam itu masih kosong. Tanpa isi. Hampa. Aku ingin mengisinya dengan kenangan. Menutup dan memasukkannya ke dalam ruang kosong yang hampa.

Satu persatu kenangan itu harus masuk dalam kotak hitam itu. Aku katakan harus karena aku tidak ingin larut dalam kenangan. Bahwa kenangan itu kadang indah, kadang pahit itu memang benar adanya. Namun, aku tidak sudi hidup dalam kenangan, maka kenangan itu harus masuk dalam kotak hitam itu.

Kutata rapi setiap kenangan itu. Kupandangi dalam-dalam detail kenangan itu. Kurasakan dengan hati, kenangan itu pernah ada dan nyata. Aku tersenyum membungkus kenangan itu, meski sebenarnya terasa pahit.

Kenangan itu sudah menjadi penghuni kotak kosong. Kututup rapat kotak itu, memasukkannya dalam sebuah tempat tak bertuan, sebuah ruangan gelap dan hampa.

Aku sadar kenangan itu ada di hati dan pikiran. Sehebat-hebatnya aku, sekuat-kuatnya aku memasukkan kenangan itu dalam sebuah kotak, kenangan itu akan tetap ada. Dia tidak akan hilang, lenyap karena dia telah masuk dalam setiap sendi. Dalam aliran darah. Dalam sunsum tulang.

Karena aku tahu itu, maka aku memilih memasukkan kenangan itu dalam kotak hitam itu. Kalaupun kenangan itu akan muncul, maka kenangan itu tidak menyakitkan. Kalau kenangan itu hadir lagi, maka tidak ada dendam dan kebencian. Karena aku menghargai kenangan, aku memilih memasukkan kenangan itu dalam kotak hitam.


Bukan Cerita

Sebenarnya tidak ada yang inginku ceritakan kepadamu kali ini. Aku hanya ingin menulis saja. Tangan ini gatal melihat keyboard tidak dipencet-pencet.

Sejak awal aku ingin mengingatkanmu, tidak ada cerita yang menarik yang bakal aku kisahkan. Kalau kau ingin berhenti membaca sampai di sini silahkan saja, tapi jangan menyesal di kemudian hari. Kalau kau ingin melanjutkan membaca, jangan merasa bosan karena ini bukan cerita.

Ajeg. Stagnan. Mungkin kata ajeg dan stagnan mewakili kehidupanku. Sehari-hari hanya melakukan itu-itu saja. Ritmenya sama, polanya sama. Dari pagi kemudian siang. Siang melaju ke sore dan malam.

Aku biasa terbangun ketika orang-orang sudah mulai beraktivitas. Saat roda kehidupan sudah mulai merangkak bergerak, aku masih bergelut dengan guling dan bantal dengan kamar sempitku.

Saat sinar matahari menerobos masuk lewat sela-sela pintu dan jendela yang masih tertutup rapat, aku memicingkan mata. Selalu saja terganggu dengan sinar yang menyala itu. Terlalu angkuh mungkin bagiku.

Menengok ke kanan, aku memandangi wajahku pada sebuah kaca yang aku biarkan begitu saja tergeletak di lantai. Kadang berpikir “Ah sudah semakin tua.” Kadang juga hanya melihat adakah jerawat baru yang tumbuh semalam atau merasakan kumis dan jenggotku sudah semakin lebat.

Laptop dan TV yang tepat di depan kasur biasanya aku nyalakan bersamaan. Sambil lalu melihat TV, sambil buka email, liat status di facebook, bikin status (kalau lagi pingin), mengucapkan selamat ulang tahun pada kawan di jejaring sosial itu atau sekadar mengintip aktivitas orang-orang di facebook atau chatting.

Kalau sempat aku bikin teh anget, atau cokelat anget atau kopi. Tapi kalau lagi males, kopi, teh, cokelat anget sisa semalam biasanya masih tersedia. Kau sudah bosan ya? Sudah aku bilang, tak ada cerita yang menarik, aku hanya ingin menulis saja.

Ketika waktu belum dikatakan siang, tapi juga sudah bukan pagi lagi, aku baru membasahi tubuh, mandi. Memulai aktivitas kerja. Ke sana ke mari mencari sesuatu untuk kemudian dituliskan kembali untuk pembaca koran pagi. Itulah aktivitasku sebagai jurnalis. Mencari orang, meminta tanggapan orang atas suatu masalah, melihat aktivitas dan fakta-faktanya.

Semuanya aku tulis agar kau bisa menikmati koran pagi sambil menyeruput teh anget dan gorengan. Hari sudah semakin panjang. Bagi sebagian orang, rutinitas akan segera berakhir, tapi bagiku rutinitas baru akan dimulai.

Rapat sore, mengedit berita, membuat grafis untuk memperkaya berita, berpikir ulang soal judul berita, membongkar berita (terutama softnews), melihat sms dari warga, melihat jadwal salat, mengecek perkiraan cuaca.

Ini belum berakhir. Masih dilanjutkan dengan menempelkan berita pada dumy. Potong sana, potong sini. Di tata ulang biar rapi, biar kau bisa nyaman membacanya. Biar kau bisa mendapatkan informasi yang komprehensif.

Rapat malam. Mendengarkan perdebatan-perdebatan. Kalau beruntung tidak membongkar dumy, kalau lagi sial bisa menata ulang sesuai hasil rapat malam. Ketika semuanya sudah selesai, sudah dicek ulang hingga dua kali, aku sudah tidak melihat lagi matahari.

Matahari sudah berlalu sejak tadi. Kadang ada bulan dan bintang, kadang hanya mendung. Entah mengapa cuaca akhir-akhir ini tak menentu. Kau masih di sana? Masih membaca tulisan yang bukan cerita ini? Jangan bosan dulu ya.

Ketika kau sudah memadu kasih dengan pacar atau menikmati kehangatan keluarga atau bermesraan dengan istri/suami atau berkumpul bersama sahabat atau sendirian terpaku ditelan malam, aku baru mengakhiri aktivitas.

Menyalakan laptop dan TV secara bersamaan seperti pagi hari selalu ku lakukan saat tiba di kamar, malam hari. Mandi kalau lagi pingin mandi, tidak mandi kalau males mandi. Tiduran sejenak melepas penat.

Beraktivitas lagi lewat dunia maya, melihat TV kalau acaranya tidak membosankan, kalau masih ada tenaga membaca buku hingga kantukku tiba.

Dari pagi hingga malam selalu seperti itu, ajeg dan stagnan. Kalaupun ada selingan paling pas libur, bersepeda atau bersih-bersih kamar. Itu pun juga ajeg. Kau sudah bosan? Ya sudah aku akhiri saja tulisan ini.


Kebenaran

Dibangun atas apa kebenaran itu. Perasaan, logika, asumsi, fakta, kejadian-kejadian. Mungkin didasari atasi salah satu di antaranya, beberapa di antaranya atau semua faktor itulah yang akhirnya menciptakan sebuah keyakinan tentang kebenaran.

Tuhan. Tuhan yang secara kasat mata “tak nyata” punya kebenaran tersendiri. Sebagian besar manusia punya keyakinan atas kebenaran Tuhan itu meski secara kasat mata “tak nyata”. (Aku katakan sebagian besar karena ada sebagian lagi yang tidak percaya kebenaran Tuhan). Dibangun atas apa keyakinan terhadap Tuhan itu. Turun temurun, ajaran-ajaran, atau memang keyakinan dari hati.

Maka, kalau keyakinan tentang kebenaranku kini salah, itu adalah jalan panjang menuju kebenaran yang hakiki, kebenaran Tuhan.


Secangkir cokelat untukmu kasih

Satu bungkus Ovaltine 14 gram. Setengah sendok makan gula pasir. Air panas dari hiter. Mereka telah bercampur. Sudah bergumul menjadi satu. Warnanya cokelat tua.

Cangkir warna putih itu hanya berisi setengah. Tidak terlalu encer, tidak terlalu kental. Tidak terlalu manis, tidak juga terlalu pahit.

Secangkir cokelat hangat itu sudah terseduh sore ini. Untukmu kasih. Bukankah kau tahu akulah pembuat cokelat hangat yang handal.


Realita Dunia Maya

“Ah, jangan kau percaya itu kawan. Itu hanya mencari sensasi saja.”

Itulah jawaban dari seorang kawan kala aku bertanya tentang status hubungannya yang sudah diikrarkannya melalui jejaring sosial facebook.

“Tau ndak, dik **** juga baru ajah putus gara-gara facebook.”

Kalimat itu meluncur ketika saya mengobrol dengan kerabat saya mengenai situs jejaring sosial itu.

“Gimana akunnya udah ditutup. Sepertinya uda diblokir ya. Aku mengakses kok gak bisa.”

Ucapan itu mengalir dari seorang saudara yang menanyakan apakah sebuah akun palsu sudah terblokir karena akun itu menjadi ajang untuk pencemaran nama baik.

“Allah kan Maha Pembolak-Balik hati. satu detik cinta,satu detik kemudian bisa tiba-tiba berubah benci…”

Itulah jawaban dari seorang kawan yang sempat aku tanyai mengapa status hubungannya dalam facebook berubah dari pacaran menjadi lajang hanya dalam jangka waktu beberapa jam saja.

Dalam sebuah kehidupan nyata, banyak sekali realita-realita hidup yang biasa aku temui. Semakin banyak realita hidup, semakin banyak pula aku bisa belajar dari realita itu. Aku mencoba memahami dan memaknai setiap realita hidup itu.

Namun, hingga kini aku belum bisa memahami mengenai realita dunia maya. Bahkan, aku semakin dibuat bingung mengapa realita dunia maya mempengaruhi hidup dalam dunia nyata.

Dalam dunia maya, dunia antah berantah yang tak bertuan, sebuah kepalsuan, kejujuran hingga utopia bisa diciptakan. Tapi mengapa kepalsuan, kejujuran ataupun utopia itu begitu mempengaruhi hidup seseorang.

Dunia maya yang dulunya begitu angkuh berdiri di depan orang-orang kini telah merongrong hidup dalam dunia nyata. Dunia maya tidak lagi terpisah dari dunia nyata. Dunia maya tidak hanya bersinggungan dengan dunia nyata, tapi dunia maya telah menyatu dan berpadu dalam dunia nyata hingga menciptakan dunia yang absurd. Dunia yang belum juga aku pahami realitanya sebenar-benarnya realita.


Secangkir teh hangat & senja

Hari ini aku sakit. Aku demam. Sendi-sendi terasa ngilu. Kepalaku pening. Tenggorokan kering. Lidah terasa pahit. Hidung buntet.

Tubuhku memang sedang sakit. Tapi mungkin jiwaku yang lebih sakit. Aku sedang sakit jiwa. Aku hanya seonggok tulang yang dibalut daging, kulit dan dialiri darah. Tubuh ini kosong. Tanpa jiwa, hanya raga.

Aku bukan aku. Aku menjadi tubuh yang kehilangan arah. Tanpa hati, tanpa otak. Tak ada logika, tak ada rasa. Seperti pembunuh berdarah dingin yang menutup mata siapapun korbannya. Seperti setan yang menghalalkan segala cara untuk menghasut manusia. Aku pembunuh berdarah dingin. Aku setan. Aku manusia tanpa jiwa.

Aku sedih. Aku terluka. Hanya sedih dan luka yang kutemui saat tubuh ini tanpa jiwa. Tubuh tanpa jiwa ini harus berakhir dan diakhiri.

Aku menatap langit. Tak ada mendung. Tak ada awan. Aku menyeruput teh hangat sore ini. Aku ditemani senja. Senja yang sempurna. Kuning kemerah-merahan. Secangkir teh hangat dan senja menemaniku untuk menemukan lagi jiwa yang hilang.


Sajak malam ini

Terlalu gelap dan sunyi

Kabut, mendung membisu tak berarti

Bahasa jiwa sudah mati

Apakah engkau mau menjadi saksi, kepedihan hati?

Dunia mengejek dan mencaci

Hujan, badai melukai

Tubuh kaku, kelu seperti membatu

Apakah engkau tau tentang kegelisahan hati?

Percayakah engkau kidung bulan datang malam ini

Nyanyian jangkrik menjadi penyejuk hati

Bintang terang penawar benci

Biarkan malam menjawab mimpi-mimpi

* @Sarang, 21.28


%d blogger menyukai ini: